Pedang Langit

Sejarah Gerakan Misionaris Di Dunia Islam

Bagian Pertama

Di antara realitas dan berita mengenai negara-negara Islam, adakalanya kita bertemu dengan masalah yang memang penting dan layak untuk diperhatikan. Kehadiran dan aktivitas misionaris agama di negara-negara Islam merupakan salah satu topik penting yang beberapa waktu lalu menjadi pembahasan dalam media massa di negara-negara ini.

Kehadiran misionaris agama di negara-negara Islam merupakan satu gerakan yang kompleks dan ada kalanya berbentuk kegiatan kebudayaan yang tersembunyi. Kegiatan ini sebagian besar mendapat dukungan moral dan materil dari para kapitalis besar di barat. Dengan melihat kepada aktivitas dan kinerja mereka dalam masyarakat Islam selama beberapa dasawarsa yang lalu, banyak pengamat masalah sejarah dan politik yang menilai bahwa para misionaris ini adalah pelaksana kebijakan imperialisme dunia.

Pembahasan yang ingin kami sampaikan pada pertemuan kita kali ini ialah aktivitas misionaris di negara-negara Islam serta meninjau sejarah kedatangan, tujuan, dan metode aktivitas mereka dalam masyarakat Islam.

Aktivitas misionaris di negara-negara Islam memiliki sejarah yang panjang. Misionaris adalah sebutan untuk siapa saja yang mengemban tanggungjawab untuk menyebarkan kristen. Misionaris masuk ke berbagai negara dengan tujuan untuk memperkenalkan dan memperluas penyebaran akidah Kristen. Tetapi seiring dengan berlalunya zaman, mereka masuk seiring dengan invasi kaum imperialis. Dengan cara ini mereka mampu menyusup masuk dan melakukan infiltrasi di kawasan-kawasan yang telah ditaklukkan kaum imperialis tersebut. Pak, peneliti Cina dalam bukunya yang berjudul China and The West menukil ucapan Napoleon sbb:

“Delegasi misionaris agama bisa memberikan keuntungan buatku di Asia, Afrika, dan Amerika karena aku akan memaksa mereka untuk memberikan informasi tentang semua negara yang telah mereka kunjungi. Kemuliaan pakaian mereka tidak saja melindungi mereka, bahkan juga memberi mereka kesempatan untuk menjadi mata-mataku di bidang politik dan perdagangan tanpa sepengetahuan rakyat.”

Pada awalnya aktivitas misionaris hanya bergantung pada tenaga manusia. Seiring dengan perkembangan zaman, para misionaris bergerak secara lebih sistematik dan dalam rangka mencapai tujuannya, mereka membentuk lembaga-lembaga dan organisasi. Aeten Sezar, penulis Turki mengenai hal ini menulis:

“Pada abad ke17 masehi, gereja Katolik Roma yang memiliki kekuasaan atas pemerintahan Eropa, mendirikan Kementerian Propaganda Agama di Vatikan dengan mendirikan dan mengembangkan agama kristen di dunia. Bersamaan dengan gerakan ini, sekolah propaganda agama asing telah dibangun di Paris dengan pembiayaan dari kementrian tersebut. Berbagai institusi juga telah didirikan di Jerman, Perancis, dan Belgia disertai dengan aktivitas misionaris yang berpengaruh. Dalam rangka propaganda ini pula, sekolah-sekolah baru turut didirikan untuk memberikan latihan yang lebih baik kepada misionaris.

Yang memberikan kesempatan bagi meluasnya kehadiran misionaris kristen di negara-negara timur adalah masuknya tentara imperialis di kawasan itu. Seperti yang kita ketahui bersama, aksi penjajahan Portugis dan Spanyol mendapat dukungan Paus Iskandar ke-enam pada abad ke 15 masehi. Paus memberi dukungan kepada pemerintah Spanyol dan Portugal dengan syarat kedua imperialis ini memberi jalan kepada misionaris kristen untuk masuk ke negara jajahan dan mendukung segala upaya dan aktivitas delegasi misionaris kristen dalam menyampaikan ajaran mereka kepada rakyat di sana.

Kardinal Ximenes pada tahun 1516, dalam rangka perluasan infiltrasi dan pengokohan gerakan kristen, memberi perintah supaya setiap serangan ke India Timur dan Barat haruslah diiringi oleh misionaris kristen. Adakalanya delegasi dakwah agama juga disertai oleh penemu dunia. Abdulhadi Haeri, penulis buku ‘Pertentangan pertama pemikiran Iran’ menulis :

“Langkah pertama dunia barat dalam menaklukkan bumi timur pada dasawarsa 15 masehi dilakukan oleh orang-orang Portugis. Pelopor pertama dari kaum penjajah itu adalah Henry si Pelaut. Dia juga disebut sebagai pemimpin besar kelompok Kristen. Ambisinya yang terbesar adalah menumpas umat Islam. Dia berusaha keras memperluas imperialisme portugis di timur dan melakukan kristenisasi di sana.”

Sebagian percaya bahwa sebab utama permusuhan di antara sebagian kapitalis dengan umat Islam adalah dampak dari perang salib. Karl Heinrich Bekker, orientalis dan politikus Jerman, menyebutkan bahwa permusuhan kapitalis gereja dengan Islam mempunyai sejarah yang bermula sejak zaman kemunculan Islam. Islam kemudian semakin berkembang pada abad pertengahan dan secara gradual masuk ke negara-negara berpenduduk kristen. Gairdner juga membenarkan pernyataan Bekker ini. Dia menyatakan bahwa kekuatan yang tersembunyi dalam Islam menyebabkan Eropa merasa takut dan terjadilah permusuhan antara gereja dan Islam.

Invasi dua negara imperialis Portugis dan Spanyol ini, kemudian diikuti pula oleh negara Eropa yang lain seperti Belanda, Perancis, Inggeris, dan Russia. Mereka pun turut melaksanakan kebijakan mengembangkan agama kristen dan menggunakannya sebagai sebuah faktor pendukung bagi penguasaan dan penaklukan daerah jajahan.

Selepas itu, agama Protestan juga turut melakukan aktivitas mereka di dunia timur dan memperluas agama mereka di negara-negara jajahan. Para misionaris agama Protestan yang mendapat dukungan eropa dan berbagai perusahaan mereka di timur ini memulai aktivitas mereka dengan mengkristenkan penduduk daerah jajahan.

Bagian Kedua

Pada bagian pertama acara ini, telah disebutkan proses masuknya misionaris Kristen bersama tentara imperialis Eropa ke negara-negara timur, termasuk negara-negara Islam, untuk menyampaikan ajaran agama mereka. Aktivitas dan kinerja misionaris ini bisa disebut sebagai bantuan terhadap imperialis. Kini timbul pertanyaan, faktor apakah yang menyebabkan gerakan misionaris ini bekerjasama dengan imperialisme di negara-negara Islam?

Sebagian para pakar menyebutkan bahwa akar utama kerjasama antara gerakan misionaris dengan para imperialis ialah perang salib. Salah satu periode yang amat penting dalam sejarah hubungan dunia Islam dan Kristen adalah era Perang Salib. Perang Salib dimulai pada tahun 1095 Masehi atau 489 Hijriah dan berlangsung sampai selama hampir dua abad. Jumlah perang yang terjadi selama masa itu tidaklah jelas, namun perang terbesar terjadi sepuluh kali dan di setiap perang terjadi banyak pertempuran. Di sepanjang Perang Salib, yang dimulai dengan serangan orang-orang Kristen ekstrim untuk menaklukkan Baitul Maqdis, ratusan ribu umat Islam telah terbunuh. Namun, umat Islam berhasil mempertahankan Baitul Maqdis dan tentara salib terpaksa meninggalkan Suriah, Mesir, dan kawasan muslim lainnya.

Banyak pendapat yang dikemukakan mengenai penyebab dan motivasi terjadinya Perang Salib ini. Doktor John L. Esposito, dosen universitas George Town Amerika menulis: Sebagian besar masyarakat Barat mengakui adanya kenyataan tertentu yang berhubungan dengan Perang Salib, tetapi banyak di antara mereka yang tidak mengetahui bahwa Perang Salib yang mengakibatkan korban yang amat besar ini adalah atas perintah Paus. Bagi umat Islam, kenangan atas Perang Salib merupakan satu contoh nyata dari militerisasi kristen ekstrim, sebuah kenangan yang membawa pesan bagi serangan dan imperialisme Kristen barat.

Menurut para ahli sejarah, Perang Salib adalah hasil dari kebijakan para pemimpin gereja, pemerintah Eropa, serta misionaris yang menentang Islam. Sikap tamak dan kefakiran yang melanda masyarakat Barat membuat mereka berambisi merebut kekayaan umat Islam dan inilah salah satu alasan dimulainya Perang Salib. Alasan-alasan lainnya adalah keinginan mengekspansi wilayah Eropa, timbulnya fanatisme terhadap agama, keinginan untuk menaklukkan Baitul Maqdis, serta membebaskan pemakaman suci di sana.

Perang Salib pertama dimulai di bawah pimpinan Urbanus kedua. Dengan fatwa para pendeta kristen, pasukan besar Eropa, disertai tokoh-tokoh pemerintah Eropa dan pimpinan gereja bergerak menuju Baitul Maqdis yang berlokasi di tanah pendudukan Palestina. Di sepanjang kota-kota Islam yang mereka lalui, mereka membunuhi ratusan ribu manusia, lelaki, wanita, dan anak-anak. Sejarawan terkenal Perancis, Gustav Lubon mengenai Perang Salib menulis, “Di zaman terjadinya Perang Salib, peradaban timur berada dalam tahap kegemilangannya berkat Islam. Sebaliknya, Eropa tenggelam dalam kegelapan dan kezaliman. Ada sekelompok tentara salib yang ganas. Mereka membunuh dan merampok kawan maupun lawan, kelompok sendiri maupun pasukan asing.”

Perang Salib membawa kemajuan sosial bagi masyarakat Barat. Rakyat Eropa yang saat itu berperadaban rendah, mulai mengenal kecemerlangan peradaban umat Islam dan mereka mulai mempelajari ilmu dan peradaban dari rakyat muslim. Tetapi, seperti apa yang telah ditulis oleh sejarawan terkenal bernama Twin B, “Orang-orang Kristen mengambil manfaat dari kemajuan peradaban dan kesenian umat Islam tetapi permusuhan bersejarah fanatisme Kristen dengan Islam Timur tidak pernah berkurang.”

Will Durant penulis sejarah yang terkenal, mengenai infiltrasi dua dunia, yaitu Kristen dan Islam, di sepanjang Perang Salib, menulis, “Infiltrasi dunia Kristen terhadap Islam hanya terbatas pada sebagian budaya agama dan perang, tetapi dunia Islam melakukan berbagai infiltrasi dalam dunia kristen. Sebaliknya, dari Islam, Eropa mengadopsi makanan, minuman, obat-obatan, kedokteran, persenjataan, selera dan kecenderungan seni, metode industri dan perdagangan, undang-undang, dan metode kelautan.

Di sepanjang era perang Salib dan pasca perang, terutama ketika Byzantium jatuh ke tangan umat Islam, mereka mulai merusak citra Islam dan menyajikan gambaran yang telah diubah di kalangan orang-orang Kristen. William Montgomery Watt, seorang peneliti Inggris, pernah menulis bahwa wajah Islam yang telah diubah oleh pendeta Kristen. Dalam pemikiran umat Kristen pada abad ke-12 ditanamkan penggambaran bahwa Islam itu agama pedang dan kekerasan serta Nabi Muhammad SAW adalah penentang Nabi Isa a.s. Menurut Watt, hasil dari distorsi penggambaran Islam ini berlanjut hingga abad ke-19 dalam pemikiran orang-orang Eropa. Malah, hingga saat ini, distorsi itu tetap kekal dalam pemikiran masyarakat Barat dan dampaknya masih bisa dilihat sampai hari ini. Watt juga menambahkan bahwa pembentukan gambaran buruk mengenai Islam sebagian besar merupakan reaksi umat Kristen yang melihat bahwa peradaban umat Islam di Andalus amat tinggi melampaui mereka.

Sebagian peneliti menyebutkan selain Perang Salib, alasan politik juga menjadi penyebab lain terjadinya kerjasama antara misionaris dengan imperialis. Mereka menggunakan ucapan pemimpin gereja seperti Yulius Richter sebagai dalil. Yulius telah mencerca umat Kristen yang telah membiarkan kekaisaran Byzantium secara berangsur-angsur digantikan oleh emperator Islam dan berlanjut dengan jatuhnya Konstantinopel pada tahun 1453 ke tangan umat Islam. Para peneliti yang berpendapat seperti ini sepertinya lupa bahwa infiltrasi umat Islam di berbagai penjuru dunia muncul sebelum adanya gerakan militer. Infiltrasi ini berakar dari masalah kebudayaan dan kepercayaan.

Dari sudut ini, bisa dipahami mengapa umat Islam dalam masa yang singkat dan dengan fasilitas yang sedikit bisa memperluas kekuasaannya. Thomas V Arnold, menerangkan falsafah kemajuan Islam sebagai berikut.

“Ketika tentara Islam tiba di Jordan, orang-orang Kristen Jordan menulis surat yang isinya sbb: Wahai umat Islam, kalian lebih kami sayangi daripada orang-orang Roma, meskipun mereka seagama dengan kami, tetapi kalian berperilaku lebih mulia, lebih adil, dan lebih baik terhadap kami.”

Infiltrasi dan perkembangan Islam di Eropa, bisa disebutkan sebagai salah satu dari penyebab terjadinya kerjasama antara gerakan misionaris gereja dengan pihak imperialis. Menurut pandangan Norman Daniel dalam bukunya berjudul “Islam and the West: The making of an image”, penentangan politik dunia Kristen terhadap dunia Islam berubah menjadi satu pemikiran yang menguasai Barat. Ide ini terus tertanam dalam pikiran Barat meskipun ideologi persatuan Eropa telah hancur dan agama Kristen telah terpecah menjadi Katolik dan Protestant.

Bagian Ketiga

Saudara, selamat bersua kembali dalam rangkaian acara yang membahas gerakan misionaris Kristen di negara-negara Islam. Pada pertemuan yang lalu, kami sudah menyampaikan pembahasan alasan kerjasama antara gerakan misionaris dan imperialisme berakar dari Perang Salib dan kedengkian mereka atas kemajuan peradaban Islam yang sangat pesat. Pada pertemuan ketiga ini, kita akan membahas akibat-akibat kehadiran misionaris di negara-negara Islam.

Pada abad kedelapan belas dan kesembilan belas Masehi, misionaris Eropa masuk ke negara-negara Islam dan memulai kegiatannya secara luas. Awalnya, gerakan ini bertujuan untuk menyebarkan pemikiran Kristen dan mengganti agama kaum muslimin. Namun, usaha mereka mengalami kegagalan. Karena itu, mereka mengganti metode penyeberluasan misi mereka. Alih-alih mengajarkan ajaran Kristen, mereka malah mempropagandakan kebudayaan Barat dan nasionalisme. Metode ini banyak dilakukan oleh misionaris asal Amerika. Berdasarkan pengakuan sebagian penulis Barat, seperti George Antonius, benih-benih pemikiran pertama Barat seperti penolakan agama, liberalisme, dan sekularisme secara terus-menerus ditanamkan oleh misionaris Kristen di negara-negara Islam. Tujuan mereka adalah untuk memperlemah keyakinan kaum muslimin di kawasan itu tehadap agama Islam dan mempersiapkan kondisi bagi terlaksananya imperialisme di sana. Para misionaris, dengan mendirikan sekolah-sekolah, pusat keilmuan, dan universitas, menyebarkan dasar-dasar pemikiran Barat dan dengan jalan ini mereka mempromosikan peradaban Barat di dunia Islam.

Universitas St. Joseph di Suriah dan Universitas Amerika di Beirut dan Libanon, adalah beberapa contoh dari pusat keilmuan yang didirikan para misionaris. Tentang aktivitas dua universitas itu, J.B. Gibb dalam bukunya “Suriah, Libanon, dan Jordania” menulis, “Kedua universitas ini membuka jalan bagi masuknya pemikiran Barat ke Suriah, Libanon, dan Jordania dan unsur pemikiran baru yang terpenting yang mereka sebarkan adalah nasionalisme.” Universitas St. Joseph didirikan pada tahun 1874 Masehi, sementara Universitas Amerika di Beirut didirikan tahun 1866. Universitas St. Joseph menekankan pada pengkristenan kaum muslimin dan penyebaran kebudayaan Barat di Suriah. Sementara Universitas Amerika di Beirut yang nama awalnya adalah Sekolah Protestan Suriah, berusaha menyampaikan pahamnya dengan metode westernisasi dan liberalisasi. Universitas ini menerapkan rencananya dengan jalan menyebarluaskan materialisme, nasionalisme, dan liberalisme. Oleh karena itu, Universitas Amerika di Beirut dengan tujuan memecah-belah dunia Islam dan kaum muslimin, mempropagandakan nasionalisme Arab dan anti-Turki.

Akibat pengajaran sistem pendidikan Barat yang dilakukan oleh kedua universitas ini dan universitas serupa lainnya yang didirikan di berbagai negara Islam, terjadi gelombang penjajahan budaya dan penindasan budaya pribumi dan juga masuknya ideologi-ideologi dan pendidikan Barat. Namun, bidang industrialisasi dan kemajuan ekonomi dan ilmu-teknologi sama sekali tidak dikembangkan di negara-negara Islam. Joseph Szyliowicz, dalam bukunya yang berjudul Pendidikan dan Modernisasi di Timur Tengah mengakui bahwa program-program kedua universitas ini lebih banyak bermanfaat bagi Perancis dan Amerika daripada memenuhi kebutuhan masyarakat Timur Tengah.

Pengakuan ini menjelaskan jatidiri dan tujuan yayasan pendidikan yang didirikan oleh misionaris. Yayasan-yayasan itu jelas-jelas merupakan alat propaganda dan westernisasi yang bertujuan untuk mengamankan posisi kaum imperialis. Dengan memperhatikan catatan sejarah, masuknya misionaris ke negara-negara Islam biasanya diikuti oleh para pedagang Eropa. Menyusul setelah itu, datang pula tentara-tentara Inggris, Perancis, Portugis, Belgia, dan Rusia. Setelah pemerintahan imperialis berdiri, para penjajah itu amat melindungi gerakan misionaris dengan tujuan agar penyebaran kebudayaan Barat terus berlanjut. Perlindungan ini tampak dalam berbagai bentuk materil dan moril. Contohnya, dalam masalah pendidikan, pemerintah imperialis memberikan dana yang cukup bagi pendirian berbagai yayasan oleh misionaris. Di samping itu, sistem pendidikan serta tanah air yang mereka kuasai, secara terbatas diserahkan kepada misionaris untuk dikelola.

Salah satu tujuan sekolah-sekolah dan pusat-pusat keilmuan yang dikelola oleh misionaris adalah mendidik manusia menjadi penurut dan pendiam. Seperti misalnya di Afrika, misionaris mendidik rakyat Afrika agar tidak menentang hukum. Patrice Lumumba, ketua Gerakan Nasional Kongo, yang pernah belajar di sebuah sekolah misionaris, dalam bukunya “Hidup dan Peperanganku” menulis:

“Tidak pernah bisa kupahami mengapa di sekolah-sekolah selalu diajarkan kepada kami agar menjaga dasar perdamaian dan kesucian Al-Masih, sementara di luar sekolah orang-orang Eropa melakukan penindasan kepada kami.”

Di sini kita bisa menyimpulkan bahwa misionaris juga memainkan peranannya dalam menenangkan warga pribumi dan menidurkan semangat perlawanan mereka terhadap penjajah. Misionaris juga berada di balik peristiwa pembunuhan Patrice Lumumba di Katanga pada periode Musa Chumbe tahun 1961, perang dalam negeri Nigeria, juga pembangkangan dan revolusi bersenjata separatis Kristen di selatan Sudan.

Ahmad Sekou Toure, Presiden Ghana pada tahun 1983, telah mengusir semua misionaris Eropa dari negara itu. Sekou Toure adalah pemimpin perjuangan rakyat melawan penjajahan Perancis di tahun 1957. Dalam masalah pengusiran misionaris Eropa ini, dia berkata bahwa misionaris agama dan pendeta Eropa adalah musuh terbesar Afrika karena mereka melakukan kegiatan mata-mata dan perusakan.

Bagian Keempat

Meskipun India bukanlah negara muslim, namun aktivitas para misionaris di sana juga patut kita cermati. Di negeri ini, para misionaris ternyata menggunakan metode lain, yaitu dengan berkedok sebagai turis. Pendeportasian seorang misionaris Amerika Joseph W. Cooper dari India memperlihatkan aktivitas ilegal kaum misionaris di kawasan barat India.

Cooper adalah seorang misionaris Amerika yang berkunjung ke India dengan menggunakan visa turis. Tapi, ia di sana malah sibuk menyampaikan agama Kristen. Pemerintah India akhirnya memberikan dia tempo satu minggu untuk meninggalkan India. Menurut polisi India, Cooper telah melanggar undang-undang tahun 1995 pemerintah India. Berlandaskan kepada undang-undang ini, tidak dibenarkan seseorang melakukan aktivitas penyebaran agama dengan menggunakan visa turis.

Sebenarnya, tidak ada laporan menyangkut isi ceramah misionaris Kristen di Propinsi Kerala itu. Tetapi, serangan terhadapnya oleh sekelompok extremis Hindu hingga ia cedera, memperlihatkan betapa sensitifnya ucapan Joseph W. Cooper. Untuk mencegah berlanjutnya ketegangan, sembilan orang anggota sebuah organisasi extrim Rashtriya Swayamsevak Sangh telah ditangkap.

Pengesahan undang-undang tahun 1995 mengenai larangan aktivitas penyebaran agama bagi pengunjung yang memiliki visa turis menunjukkan bahwa kasus serupa pernah terjadi. Untuk menghalangi aktivitas misionaris agama yang menggunakan visa turis itulah akhirnya pemerintah India telah mengesahkan undang-undang ini. Dengan melihat keragaman ras, agama, dan bahasa, juga kemiskinan yang meluas, India merupakan lapangan yang potensial bagi aktivitas misionaris agama.

Pertumbuhan penduduk secara berlebihan, juga keterbatasan sumber dana pemerintah India untuk melaksanakan program pembangunan, kesehatan, dan pendidikan, telah menyebabkan meningkatnya kemiskinan di India. Selain masalah kemiskinan, terdapat 44 persen orang dewasa di India yang buta huruf. Ini merupakan salah satu faktor pendukung maraknya aktivitas misionaris agama di negara tersebut. Dari sudut ini, yang mengkhawatirkan pemerintah India ialah pemanfaatan atas kondisi ini oleh pihak asing untuk mencapai tujuan dan kepentingan mereka.

Salah satu metode negara asing ialah pengiriman para misionaris dengan kedok turisme. Oleh sebab itu, pemerintah India memperhatikan perilaku para turis dengan lebih teliti sehingga mereka jangan sampai berceramah masalah keagamaan.

Aktivitas misioner di India sepanjang tahun-tahun terakhir ini telah menggerakkan sentimen orang-orang Hindu extrim dan meningkatkan kekerasan berdarah. Tampaknya sentimen atas gerakan misioner ini menjadi bertambah kuat dengan berkuasanya Partai Bharatiya Janata. Extrimis Hindu memiliki agenda pelaksanaan kebijakan Hinduisme di India dan aktivitas religius apapun yang berpotensi menyinggung agama Hindu pasti akan ditentang.

Orang-orang Kristen yang merupakan dua persen dari satu milyar penduduk orang India, hingga kini hidup dalam keadaan damai dengan para penganut agama lain ataupun kelompok minoritas lainnya.

Oleh karena itu, terdapat kekhawatiran dalam masyarakat Kristen India bahwa sebagian oknum ingin menjalankan aktivitas misionernya di bawah kedok turis, dan masalah ini bisa menyebabkan hubungan Hindu dan Kristen menjadi runcing.

Menurut pandangan para pengamat politik, dengan memperhatikan kondisi ekonomi rakyat negara-negara Asia Selatan, lahan aktivitas misioner tidak saja terbatas di India. Di negara-negara lain juga aktivitas itu sangat mungkin ada. Oleh karenanya, keberhasilan aktivitas misionaris Kristen berkedok turisme di India itu akan berakibat kepada semakin merebaknya aktivitas serupa di kawasan lain.

Dari sudut ini, para pengamat percaya bahwa salah satu faktor meningkatnya perang di antara kelompok di kawasan Asia Selatan termasuk India, ialah aktivitas misionaris agama. Dalam hal ini, salah satu metode adikuasa dan imperialis untuk mengembangkan infiltrasinya, ialah dengan menggunakan missionaris di perbagai kawasan dunia. Memberi hadiah dan membangun pusat yang secara lahiriah memberikan manfaat pragmatis bagi masyarakat setempat, termasuk salah satu langkah misioner di berbagai negara.

Sebagaimana yang disebutkan dalam surat kabar, misionaris yang telah dideportasi dari India itu sebenarnya telah bertahun-tahun keluar masuk ke negara ini. Realitas ini menyebabkan kekhawatiran pemerintah India bahwa dengan menggunakan paspor turis, Joseph W. Cooper telah mengunjungi berbagai kawasan untuk meneliti tradisi, budaya, serta kondisi sosial-politik dan kebudayaan setempat.

Sebagian organisasi India dan aktivis keagamaan menilai aktivitas misionaris Amerika di bawah kedok turisme itu dilakukan secara terorganisir. Karenanya, aktivitas agama Kristen mendapat reaksi negatif yang sangat keras.

Karena dianggap menciptakan suasana saling curiga di antara orang-orang Hindu dan Kristen, pada tahun-tahun lalu, sejumlah gereja diserang oleh orang yang tidak dikenal. Tahun 2000 lalu, untuk pertama kalinya selepas kemerdekaan India, minoritas Kristen India merasa tidak aman. Sebagian organisasi India melihat aktivitas misioner untuk menarik orang-orang Hindu kepada agama kristen itu dilakukan dalam rangka sebuah program yang meluas dengan tujuan untuk mengubah India menjadi sebuah negara Kristen. Oleh sebab itu, Hindu extremis menentang keras kehadiran misionaris agama.

Tahun 2000 lalu, kelompok Bajrang Dal, sebuah cabang militer Organisasi RSS meminta penganut Kristen supaya dikeluarkan dari wilayah Uttar Pradesh. Dengan demikian, yang menciptakan kekhawatiran tidak saja aktivitas agama misioner dan ruhaniawan Kristen.

Tentu saja, sikap fanatisme ekstrim kaum Hindu di India tidak hanya mengambil korban kaum Kristen, melainkan juga umat muslim India yang telah hidup di India sejak berabad-abad yang lalu. Umat muslim India bahkan turut serta secara aktif dalam perang memperjuangkan kemerdekaan India.

Reaksi yang ditunjukkan oleh kelompok extrim Hindu di India sangatlah mengkhawatirkan. Peperangan berdarah di antara umat beragama terjadi di berbagai kawasan India. Dalam hal ini, dipastikan bahwa tidak ada satu golongan pun yang akan mendapatkan keuntungan.

Bagian Kelima

Saudara pendengar, pecinta Radio Melayu Suara Republik Islam Iran, selamat bersua lagi dalam rangkaian acara “Gerakan Misionaris di Negara-Negara Muslim” bagian ke lima”. Dalam acara bagian lalu, kami sudah menyampaikan pembahasan mengenai metode para misionaris Barat dalam memilih orang-orang pribumi dan mengajarkan dasar-dasar ajaran Kristen. Kami juga sudah menyampaikan pembahasan mengenai pendirian berbagai lembaga keilmuan dan universitas di berbagai negara Eropa dan Amerika yang bertujuan untuk mendidik para misionaris. Pada pertemuan kita kali ini, kami akan mengajak Anda untuk membicarakan karakteristik delegasi misionaris yang dikirim ke berbagai negara muslim itu. Selamat mengikuti.

Para misionaris Kristen yang dikirim oleh berbagai pusat keagamaan di Barat ke berbagai negara dunia ketiga, termasuk negara-negara Islam, bekerja secara sendiri-sendiri maupun berkelompok. Mereka memiliki tujuan yang berbeda-beda. Sebagian dari mereka bekerja untuk menarik perhatian terhadap ajaran Al-Masih dan memberi pengajaran, sebagian untuk berdialog, dan sebagian lainnya datang untuk bekerja di pusat-pusat keilmuan dan pengajaran gereja-gereja.

Berkaitan dengan hal ini, meskipun tujuan asli mereka adalah menyebarkan agama Kristen, namun ada sekelompok misionaris datang dengan berbagai tujuan yang ditentukan oleh gereja dengan berkedok di balik berbagai profesi, seperti dokter, insinyur, psikolog, dosen, pedagang, dan penasehat militer. Tentu saja ada pula kelompok misionaris yang datang secara terang-terangan sebagai pendakwah resmi agama Kristen. Berdakwah di balik kedok berbagai profesi merupakan metode yang paling banyak dipakai para misionaris. Dengan cara ini, mereka bisa menyampaikan ajaran Kristen tanpa perlu memberitahukan kepada penduduk pribumi mengenai tujuan asli mereka.

Salah satu delegasi misionaris yang bisa kita jadikan bahan pembahasan adalah delegasi misionaris Inggris yang dikirim ke Uganda. Menurut buku “Century of Christiating in Uganda”, anggota delegasi misionaris itu adalah Stephan Shergoldsmith, seorang perwira angkatan laut yang menjadi ketua delegasi ini; C.T. Wilson, seorang uskup lulusan Universitas Oxford; James Collyhust, seorang arsitektur; James Robertson, seorang petani; dan John Smith, seorang dokter. Anggota-anggota lain delegasi ini berprofesi sebagai insiyur teknik sipil dan ahli mekanik. Dalam komposisi ini, bisa terlihat bahwa anggota delegasi misionaris yang berprofesi sebagai ruhaniwan hanya satu orang. Namun demikian, semua anggota delegasi itu mengambil peran sesuai dengan profesinya dalam kegiatan penyebaran agama Kristen.

Para misionaris itu, dengan menggunakan prinsip psikologis dan ilmu-ilmu lainnya, berusaha menancapkan pengaruh mereka di hati orang-orang pribumi dan dengan cara itu, mereka menyebarkan ajaran Kristen. Bahkan, di negara-negara muslim, para misionaris berusaha mempelajari ajaran Islam demi menarik perhatian penduduk pribumi. Salah satu contoh dalam hal ini adalah penggunaan ayat Al-Quran berkenaan dengan Isa Al-Masih oleh para misionaris sebagai alat untuk memperkenalkan ajaran Kristen kepada penduduk pribumi negara-negara muslim. Al-Quran menyebut Al-Masih sebagai Ruhullah atau RuhTuhan.

Para misionaris dengan menunjukkan ayat ini dan menyebut nama Quran berusaha untuk menarik perhatian penduduk pribumi. Kemudian, mereka menyampaikan pandangan Kristiani mereka berkenaan tentang Isa Al-Masih dan syafaat Al-Masih terhadap para pengikutnya. Dengan demikian, tujuan mereka untuk menyampaian ajaran Kristen dilakukan dengan cara tidak langsung dan dengan menarik kepercayaan dan keyakinan kaum pribumi.

Karakteristik lain dari delegasi misionaris ini adalah pengenalan mereka terhadap adat istiadat penduduk pribumi. Mereka mempelajari bahasa-bahasa pribumi sehingga bisa berhubungan langsung dengan penduduk pribumi. Mereka juga mempelajari kebudayaan pribumi agar bisa menarik perhatian para penduduk di sana dan kemudian memanfaatkan kelebihan dan kekurangan kebudayaan asli itu untuk menyebarkan ajaran mereka. Para misionaris dengan berdialog dan berhubungan langsung dengan penduduk pribumi dan masuk dalam kehidupan pribadi mereka, menyelami rahasia kehidupan mereka, dan memanfaatkannya demi mencapai tujuan misionarisme.

Doktor Mustafa Khaledi dan Doktor A. Farukh, penulis buku “Misionaris dan Imperialisme” dengan menyebutkan berbagai contoh alasan-alasan pengiriman misionaris ke berbagai negara muslim menyatakan bahwa tujuan para misionaris itu bukanlah perbaikan kehidupan maknawi penduduk pribumi, melainkan merusak dan menjadikan kaum muslimin berada di bawah kekuasaan mereka. Dalam salah satu bagian buku ini, disebutkan pula bahwa seorang misionaris bernama Roise di Tarablus barat pernah berkata, “Penyebaran ajaran Kristen di Tarablus sangatlah sulit. Setelah lima belas tahun berusaha, baru saya memahami bahwa satu-satunya cara untuk mengkristenkan bangsa ini adalah dengan mempengaruhi mereka dan mengubah kehidupan pribadi dan perilaku khusus mereka sehingga dengan cara ini kami bisa mencapai tujuan kami.”

Kardinal Lavigerie dan Charles De Foucauld melarang anggota delegasi misionarisnya menggunakan cara-cara langsung dalam menyebarkan ajaran Kristen, terutama bila berhadapan dengan kaum muslimin. Speer E. Robert, juga mengajarkan kepada para misionaris agar menjauhi pembahasan dan perdebatan dengan kaum muslimin dan memulai pekerjaan mereka dari poin-poin yang selaras dengan ajaran Islam. Misionaris lainnya, J.H.Bavick, menghimbau agar para misionaris berhati-hati sehingga dalam pikiran para pribumi tidak tercipta gambaran bahwa para misionaris itu menganggap peradaban dan kebudayaan mereka lebih tinggi dari kebudayaan kaum pribumi.

Masalah ini juga disinggung oleh William Montgomery Watt dalam bukunya “Muslim-Christian Encounter”. Dia menulis, “Para misionaris, sebagaimana orang Eropa lainnya, menganggap diri mereka lebih unggul daripada kaum pribumi. Dengan anggapan seperti ini, para misionaris secara gradual malah mencampuradukkan ajaran Kristen dengan keyakinan atas superioritas orang Eropa atau peradaban Barat.”

Dengan demikian, kita bisa melihat bahwa kegiatan penyebaran agama menurut pandangan para misionaris adalah menciptakan perubahan dalam pikiran umum sesuai yang mereka inginkan demi tercapainya tujuan asli mereka. Dalam rangka ini, ajaran Kristen memperbolehkan mereka menggunakan cara apapun juga.

Bagian Keenam

Salah satu metode penyerangan Barat terhadap kebudayaan dan berbagai ajaran slam, ialah dengan mengadakan berbagai penelitian dan penyelidikan mengenai Islam. Para misionaris merupakan peneliti Barat pertama, yang hadir di berbagai negara Islam dan melakukan penelitian mengenai Islam dan kaum muslimin. Di masa-masa lalu, motivasi terpenting para misionaris adalah motivasi agama. Sebagian besar tulisan-tulisan mereka mengenai Islam menggunakan berbagai sumber abad pertengahan dengan memperhatikan kondisi waktu itu, misalnya berbagai perang Salib, dan interaksi antara kaum muslimin dan kristen di Andalusia dan Spanyol.

Berbagai tulisan tersebut dibuat agar orang-orang Kristen Eropa berpandangan jelek terhadap Islam. Tujuan utama para misionaris pada tahun-tahun tersebut ialah untuk menjauhkan orang-orang Kristen dari pengenalan atas Islam yang sebenarnya. Para misionaris tersebut berupaya menunjukkan pandangan dan citra Islam yang negatif dan mereka menggambarkan wajah Islam yang telah tercoreng dan tidak bisa diterima dikalangan masyarakat Barat. Tentu saja, setelah terjadinya Renaisance, motivasi politik dan ekonomi telah bercampur-baur dengan motivasi agama.

Pada tahun-tahun ini, terbentuklah kelompok baru dari kalangan peneliti Barat yang disebut sebagai orientalis atau ahli ketimuran, yang secara lahiriah mengadakan penelaahan dan penelitian mengenai Islam dengan cara dan metode ilmiah. Namun, beberapa lama kemudian terbukti bahwa penelitian ini menghasilkan penulis-penulis yang menulis mengenai Islam dengan cara menyimpang dan tendensius. Mereka berusaha menciptakan keragu-raguan terhadap agama-agama samawi.

Para misionaris selalu berusaha menciptakan keragu-raguan terhadap Islam dan menghapuskan kesucian agama Ilahi ini. Mereka mengenalkan agama Islam sebagai sebuah agama duniawi yang jauh dari nuansa dan eksistensi Ilahi. Mereka menginginkan agar proses tahrif atau penyelewengan yang terjadi pada sejarah dua agama Ilahi terdahulu, yaitu Yahudi & Kristen, juga terjadi dalam sejarah agama Islam. Sebagaimana yang kita ketahui dalam sejarah Yahudi dan Kristen, tampil sebuah kelompok yang mengklaim diri sebagai pendukung utama agama. Orang-orang tersebut, meski secara lahiriah menjaga dan berpegang teguh pada risalah mereka, yaitu Taurat dan Injil, namun secara bertahap menyampaikan khutbah-khutbah yang bertentangan dengan kitab suci mrka.

Penyimpangan dalam kedua agama ini terlihat secara jelas dan bahkan diakui oleh para pemuka gereja dengan dikeluarkannya sebuah perintah dari Paus untuk membentuk sebuah komisi penyelidikan khusus guna menyusun penafsiran baru terhadap Injil. Masalah ini dilaporkan oleh berbagai kantor berita pada tahun 1993. Komisi penelitian itu menyebutkan bahwa setelah mengadakan pengkajian dan mengamatan berbagai segi terhadap berbagai versi kitab Injil, disimpulkan bahwa isi kitab tersebut tidak relevan dengan hukum-hukum Ilahi.

Surat kabar Australia “Australian” terbitan Sydney, pada tahun 1995 telah melaporkan berita bahwa Dewan Yahudi dan Kristen Australia mengusulkan penghapusan nama orang-orang Yahudi dari Injil, kemudian diganti dengan nama-nama sebagian penduduk Baitul Maqdis. Surat kabar Australia ini menulis bahwa revisi terhadap berbagai pasal Injil yang bertujuan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan umat manusia dewasa ini, mendapatkan reaksi negatif dan luas dari kalangan orang-orang Kristen.

Para misionaris dengan memunculkan berbagai keraguan terhadap dengan kitab suci kaum muslimin, yakni Al-Qur’anul Karim, berusaha mengurangi nilai kesucian kitab Ilahi ini. Para misionaris ini meyakini bahwa melalui cara tersebut… yang terjadi dalam agama yahudi dan Kristen juga terjadai dalam agama Islam. Oleh karena itu, salah satu cara propaganda kelompok misionaris dan orientalis ini, berusaha agar orang-orang Islam menerima bahwa Nabi saww memiliki guru orang-orang Yahudi dan Kristen. Hal ini dinyatakan oleh David Shamuel Margoliuth, seorang dosen Univ. Oxford yang hidup antara tahun 1858 sampai 1940.

Dalam bukunya yang berjudul “Mohammad and The Rise of Islam dia menulis bahwa Jabir adalah seorang guru yang mengajar Nabi Muhammad. Lalu, setelah dia mendengar wahyu Ilahi yang disampaikan oleh nabi Muhammad, uaitu beberapa ayat dari Surat Yusuf, jabir pun akhirnya masuk Islam. Fakta yang ditulis Margoliuth ini memiliki kontradiksi. Bagaimana mungkin seseorang yang awalnya adalah guru nabi, kemudian bisa dipengaruhi oleh muridnya dan memeluk agama Islam?

Metode dakwah kaum Misionaris, selalu menyelewengkan Islam dan berupaya untuk merendahkan nilai-nilai Islam, serta menunjukkan wajah buruk Islam yang jauh dari peraban kaum muslimin. Hendry Jesp seorang propagandis AS, menyebut kaum msulimin tidak berperadaban, menulis : Islam telah memberikan pukulan yang telak terhadap kebudayaan dan peradaban manusia. Tidak bisa dilupakan bahwa dalam periode kegelapan Abad Pertengahan, dimana saat itu Eropa berada dibawah kekuasaan Gereja, sehingga tak seorang pun dapat berkata dengan Ilmu, namun kaum muslimin telah berpengalaman dan menjadi bukti sejarah, betapa mereka yang senantiasa dibawah ajaran-ajaran Islam, telah tampil menjadi pelopor pada salah satu periode berkembangnya Ilmu dan Peradaban Sejarah Ummat Manusia.

Ny. Dr. Zigrid Hunakeh seorang peneliti Jerman dalam sebuah buku yang berjudul : Kebudayaan Islam di Eropa, menyinggung berbagai kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Industry kaum Muslimin. Beliau dalam mukaddimah bukunya menulis : Meski Dunia Islam timbul di Eropa spanjang 1400 tahun, namun berbagai informasi mengenai peradaban Islam sangat sedikit mereka peroleh bila dibandingkan dengan berbagai peradaban lainnya, meski demikian kebanyakan informasi mengenainya (Islam) adalah salah…Dan ini merupakan dosa orang-orang Barat dalam sejenis penulisan sejarah, yang senantiasa mencegah menjelaskan hakikat. Para penulis sejarah Kristen sengaja melakukan penyelewengan yang serius terhadap kaum muslimin, sehingga pekerjaan-pekerjaan yang besar berupa Peradaban Islam nampak menjadi remeh dan tidak ada artinya samasekali. Bahkan para penulis sejarah yang baru, juga melakukan tekhnik meremehkan semacam ini, sekecil apapun konspirasi yang nampak mereka tutup mulut dan membiarkan hal itu terus berlanjut.

Ny. Dr. Zigrid Hunakeh dalam lanjutan pernyataannya menulis : Seseorang tidak bisa berkata apapun, dimana pada Abad-abad perengahan tetangga Eropa yang paling dekat adalah kaum Muslimin, yang selama 800 tahun menjadi pelopor Dunia Peradaban. Berkembangnya Peradaban Islam mencapai dua kali lipat Peradaban Yunani, sehingga mempengaruhi Dunia Barat. Siapa lagi yang berbicara dari kenyataannya, dan siapa pula yg disebut-sebut mengenainya dalam sejarah ?
Peneliti Jerman ini menandaskan : yang penting kita harus menyatakan jujur mengenai kebenaran Peradaban Islam. Dan sikap seseorang terhadap pembenaran yang benar, dimana masyarakat Eropa hingga saat ini tidak mampu menjadi juri yang benar, jujur dan tidak memihak, serta menyatakan hormat terhadap hal tersebut diatas, bahkan mereka menutupi kepala dan tidak menjelaskan peranan mendasar mereka dalam pembangunan Peradaban Eropa…. mereka telah merajut berbagai perangkat Peradaban. Mereka semua dengan kemampuannya berkecimpung dalam tersebut, sehingga mereka semua berhak unuk mendapatkan ucapan terima kasih.
Dengan memperhatikan aktifitas para Misionari semacam ini, nampaknya secara maksimal mereka berusaha melakukan propaganda terhadap dasar-dasar Kristen, meski mereka juga memiliki berbagai informasi terbatas mengenai ajaran-ajaran Islam dan sejarah Agama Ilahi ini, karena itu barangsiapa yang tidak mengenal cara-cara debat kaum Misionaris ini, maka pastilah tidak mengerti terhadap tujuan Delegasi-delegasi pembawa berita gembira ini.

Bagian Ketujuh

Pada bagian lalu, kita telah membahas aktifitas kelompok misionaris Kristen yang telah berjalan selama bertahun-tahun, bahkan berbad-abad, dengan mengirimkan utusan mereka ke tengah-tengah masyarakat Islam. Mereka pun bahkan telah membentuk suatu lembaga yang terorganisasi dan rapi. Para misionaris telah berusaha menciptakan keraguan-raguan di tengah kaum muslim terhadap ajaran Islam. Kini, kami akan berbicara mengenai usaha misionaris yang lain, yaitu penyelewengan penerjemahan Al-Quran.

Sebagian besar dari terjemahan-terjemahan Al-Qur’an ke dalam berbagai Bahasa Eropa yang telah bertahun-tahun dilakukan oleh para misionaris dan kelompok orientalis, jauh dari kebenaran dan hakikat. Peneliti seperti Marakachi dari Italia, memperoleh inspirasi dalam menerjemahkan Al-Qur’an dari para misionaris. Andre Duryer (1580-1660) seorang warga Burgan Prancis telah menerbitkan sebuah terjemahan sederhana mengenai Al-Qur’an dalam bahasa Prancis dengan judul Alcoron Mahomet. Dia bekerja sebagai pedagang dan melaksanakan urusan-urusan Konsuler Prancis di negara-negara Timur. Buku Duryer ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa Eropa, dan selama masa satu abad menjadi sumber pengetahuan masyarakat Eropa terhadap Islam.

Setelah itu, muncul tokoh lain bernama Arthur John Arberry (1905-1969) seorang Inggris ahli masalah timur. Dengan menyebutkan berbagai contoh kekurangan dalam terjemahan Andre Duryer, dia menulis, “Inilah pandangan penterjemah yang tendensius, fanatik, dan memiliki keyakinan terhadap Al-Qur’an. Terjemahan Andre sangat jauh dari kebenaran dan tidak melakukan penelaahan yang mendalam.”

George Sale (1697-1736), satu lagi orang Inggris ahli masalah timur dan juga seorang penerjemah Al-Qur’an, menulis, “Selama bertahun-tahun bahkan berabad-abad, berbagai informasi yang diperoleh oleh masyarakat Eropa mengenai Islam dan Al-Qur’an, bersumber dari kelompok-kelompok Kristen fanatik. Dengan dasar tendensi dan dendam, mereka mengetengahkan berbagai alasan yang dibuat-buat. Sifat dan tindak tanduk kaum Muslimin yang baik, dilupakan samasekali. Namun, apabila mereka membicarakan kejelekan kaum muslimin, mereka justru menampilkan kekurangan itu sebesar gunung.

Salah satu cara yang ditempuh oleh kelompok misionaris, ialah melakukan berbagai penerjemahan Al-Qur’an ke dalam berbagai bahasa daerah secara tidak sempurna dan kurang, lalu menerbitkan dan membagi-bagikannya di antara kabilah-kabilah dan suku-suku yang jauh. Misalnya, sewaktu kelompok misionaris Kristen masuk ke Afrika, mereka langsung mencetak Injil dan terjemahan sebagian dari surat-surat Al-Qur’an. Sudah barang tentu para misionaris menterjemahkan Al-Qur’an sedemikian rupa sesuai dengan pandangan mereka, kemudian dibagi-bagikan kepada masyarakat setempat. Tujuan utama kelompok misionaris ini adalah agar warga pribumi mengerti bahwa Al-Qur’an telah diselewengkan, sehingga mereka dapat membandingkan dan mengesankan sedemikian rupa bahwa Kristen lebih baik dari Islam.

Sekalipun kelompok misionaris ini telah berupaya dalam bidang tersebut, namun berbagai peristiwa sejarah dan berlalunya zaman telah menunjukkan, betapa para misionaris tersebut tidak berhasil mencapai tujuannya. Karena itulah penduduk asli Afrika tidak menggubris pernyataan dan perbuatan mereka, bahkan mereka memalingkan wajah mereka. Hasil dari perbuatan kelompok misionaris yang memutarbalikkan fakta ini adalah semakin berkembangnya Islam di Afrika. Bahkan, Islam menyebar ke benua Amerika dari Afrika. Contoh-contoh gerakan ini juga dapat dilihat di Asia. Misalnya di Libanon pendeta Kristen yang fanatik bernama Yusuf Haddad, telah menerbitkan puluhan buku Islam & Al-Qur’an yang banyak mengandung ayat-ayat yang diselewengkan.

Perlu disebutkan pula bahwa pertentangan yang ada di dunia Kristen telah melahirkan empat versi Injil yang saling berbeda, yaitu Injil Markus, Johanes, Lukas, dan Matius. Di dunia Islam, hanya terdapat satu kitab Al-Qur’anul Karim. Al-Qur’an yang hingga dewasa ini sampai ke tangan kaum muslimin adalah kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saww. Isinya tidak berbeda dan tidak ada perubahan samasekali, baik pada ayat atau kalimat-kalimatnya. Ini adalah amanat Allah swt yang sampai kepada kita dari generasi demi generasi.

James A. Mechz, seorang wartawan surat kabar, menulis : Al-Qur’an bukan seperti Injil. Ia tertulis dalam bentuk untaian indah, tapi bukan syair, dan bukan pula sajak-sajak biasa. Isi Al-Quran dapat memberikan kenikmatan dan gelora iman kepada yang mendengarnya.

Upaya kelompok misionaris untuk mencoreng citra dan ajaran-ajaran Al-Qur’an ini, memiliki berbagai alasan yang berbeda-beda. Di antaranya adalah usaha untuk menutup-nutupi kekurangan dan kelemahan ajaran Kristen, takut kehilangan kekayaan dan kedudukan di dunia, serta karena kebodohan dan fanatisme yang tidak logis. Namun demikian, ada juga orang-orang orientalis yang berusaha secara obyektif mengetahui hakikat ajaran Islam yang cemerlang ini. Misalnya dalam menghadapi orang-orang seperti Ignaz Goldziher (1850-1921) seorang Orientalis asal Hungaria, yang menyebutkan bahwa Al-Qur’an bukanlah sebuah ajaran tunggal, Hertwick Hirchfield mengatakan :

Sejak saat kami menemukan bahwa Al-Qur’an merupakan sumber berbagai ilmu pengetahuan, tidak perlu diherankan lagi bila seluruh permasalahan yang berhubungan dengan langit dan bumi, kehidupan manusia, perdagangan, dan berbagai jenis transaksi dimuat dalam Al-Qur’an dengan sangat baik dan mengagumkan. Melalui cara inilah Al-Qur’an menghadapi berbagai masalah yang besar dan penting. Perkembangan ilmu pengetahuan yang menakjubkan yang dipelopori oleh dunia Islam yang selama 5 abad telah memberikan pengaruh positif pada dunia kemanusiaan, secara tidak langsung membuat kita berhutang budi pada dunia Islam ini.

Pada berbagai ayatnya, Al-Qur’an berkali-kali memerintahkan Nabi Muhammad saww untuk mengajak umatnya agar memperhatikan masalah maknawi. Pada bagian lain, ayat-ayat Allah ini menyeru umat manusia untuk membantu dan berbuat baik kepada orang lain. Al-Qur’an juga menciptakan berbagai perkembangan yang besar dalam penelitian kedokteran, bahkan secara global dan tersirat memberi petunjuk kepada dunia kedokteran. Dengan alasan itulah Nabi Mohammad saww dalam menyifati Al-Qur’an, berkata, “Al-Qur’an itu secara lahiriah indah dan secara batiniah mengandung makna yang sangat dalam. Ayat-ayatnya memiliki makna yang tak akan pernah berakhir dan tidak pernah ketinggalan zaman.”

Bagian Kedelapan

Lutfi Liqunian, seorang penulis Kristen, meyakini bahwa periode baru dalam metode misionaris telah dimulai. Dia menulis, “Eropa dalam Perang Salib menggunakan pedang, sekarang menggunakan penyebaran paham sebagai cara untuk mencapai maksud-maksudnya. Dengan Perang Salib baru ini, Eropa ingin mencapai tujuannya tanpa pertumpahan darah. Dalam usahanya ini, Eropa memanfatkan gereja, sekolah-sekolah, dan rumah sakit serta menyebarkan misionaris mereka.

Dewasa ini, penyebaran ajaran Kristen di berbagai negara, merupakan salah satu strategi politik para pemimpin negara Barat. Kerjasama antara gereja dan negara-negara Barat merupakan kerjasama bersejarah yang dimulai sejak abad pertengahan sampai pada periode kolonialisme baru. Negara-negara Barat dan perusahaan-perusahaan multinasional telah menanamkan modal yang sangat besar pada yayasan-yayasan penyebar ajaran Kristen. David Waren, penanggung jawab Ensiklopedia Dunia Kristen, berkenaan dengan biaya propaganda misionaris di seluruh dunia, menyatakan bahwa data statistik tahun 1970 menunjukkan bahwa 70 milyar dolar telah dihabiskan unutk membiayai aktivitas misionaris pada tahun itu. Menurutnya, kurang dari dua dekade jumlah ini telah mencapai hampir dua kali lipatnya dan terus akan meningkat.

Dalam dunia Kristen, terdapat banyak kelompok atau sekte yang berbeda-beda. Namun, dalam melakukan aktivitas propagandanya di seluruh dunia, kelompok-kelompok ini menghilangkan perbedaan di antara mereka dan bersatu-padu dalam kelompok yang sama. Kita bisa melihat bahwa di Afrika, misionaris Katolik dan Protestan saling berdampingan untuk menyebarkan ajaran yang sama. John B. Nas, seorang penulis Inggris dalam bukunya yang berjudul “Sejarah Agama-Agama” menulis bahwa persatuan yang signifikan di antara berbagai kelompok Protestan terjadi dalam aktivitas misionaris yang memiliki kepentingan dan makna yang sangat besar. Penyebaran ajaran Kristen ke berbagai negara membuktikan bahwa perbedaan antara berbagai gereja dan kelompok Kristen sama sekali tidak memiliki hasil. Para misionaris terikat pada semua kelompok dan gereja. Mereka tidak menghabiskan waktu untuk mengurusi perbedaan ini. Jika diperlukan, mereka siap untuk melupakan berbagai perbedaan yang ada di antara mereka.

Benua Afrika adalah salah satu kawasan terpenting bagi penyebaran ajaran Kristen oleh kaum misionaris. Ajaran Kristen di Afrika memiliki sejarah yang panjang. Serangan Eropa ke Afrika yang terjadi sejak akhir abad ke-15, telah membuka jalan bagi infiltrasi kaum misionaris ke benua ini. Para misionaris selama berabad-abad berada di samping tentara kolonialis di berbagai tempat di Afrika. Dalam kongres Baitul Maqdis yang dibentuk tahun 1963, semua orang Afrika peserta kongres itu menyatakan bahwa menurut pandangan rakyat Afrika, kehadiran para misionaris menghidupkan kenangan kolonialisme. Kenyataannya, di mana saja misionaris menginjakkan kaki, kolonialisme di negara itu pun segera dimulai.

Sejarah kehadiran misionaris di Afrika menjelaskan adanya kesejalanan dan kerjasama mereka dengan negara-negara penjajah. Selama perang, para misionaris memberikan bantuan yang berharga kepada pasukan penjajah. Biasanya, ketika pasukan penjajah masuk ke sebuah negara, pusat-pusat misionaris akan dijadikan pangkalan militer. Para misionaris itu kemudian akan menjadi salah satu penyuplai senjata, pasukan, dan makanan bagi para kolonialis. Selain itu, karena mereka mengenal suku-suku dan daerah-daerah, mereka akan menjadi mata-mata dan sumber informasi untuk para kolonialis.

Dalam serangan tentara Belgia ke Stanleyville, kita bisa melihat bahwa para misionaris telah menjadi penunjuk jalan bagi para tentara penjajah. Kota Stanleyville yang pada tahun 1966 diubah namanya menjadi Kisangani, adalah salah satu kota berpenduduk muslim di Kongo. Rakyat kota ini berjuang gigih menentang kehadiran pasukan Belgia. Pada tanggal 24 dan 25 September 1964, penduduk kota ini diserang habis-habisan oleh tentara Belgia yang mendapat dukungan dari tentara Amerika.

Jenderal Mike, komandan kulit putih bayaran yang dipekerjakan oleh Musa Chumbe, pemimpin pemberontak Kongo, mengutarakan kenangannya atas kejadian tersebut, sebagai berikut.

“Kami tidak mengasihani anak kecil atau orang dewasa karena ada kemungkinan bahwa setiap mereka adalah anggota gerakan kemerdekaan Kongo. Kami telah membunuh minimalnya lima ribu orang Kongo sehingga kami kemudian bisa membebaskan para tawanan kulit putih. Dalam kejadian ini, para pendeta kulit putih yang terkait dengan gerakan misionaris telah memberi kami petunjuk karena mereka mengenal kondisi daerah itu.”

Harian Observer terbitan London pada tahun 1964 memuat tulisan seorang penulis yang membahas masalah pembunuhan massal di Stanleyville. Katanya, “Mungkin sebagian orang membayangkan bahwa kelompok-kelompok religius dan misionaris Kristen adalah orang-orang yang baik dan tidak melakukan kejahatan terhadap rakyat Kongo. Namun, saya menyaksikan sendiri bahwa pada masa Musa Chumbe, semua misionaris di Katanga menjadi pelindung politik yang kuat Rezim Chumbe, yang pada saat itu bahkan mengumumkan perang terhadap PBB.”

Patrice Lumumba, pemimpin rakyat Kongo, juga memperhatikan masalah ini. Setelah terpilih menjadi perdana menteri, dia mengumumkan bahwa sebagian misionaris merupakan anggota resmi Angkatan Bersenjata Belgia. Oleh karena itu, dia menuntut agar para misionaris meninggalkan Kongo.

Peran seperti ini juga dilakukan oleh para misionaris di negara-negara Afrika lainnya, seperti Uganda, Nigeria, Sudan, Ghana, dan Senegal. Sebagai contoh, uskup Richard Ruzdir dengan alasan campur tangan atas urusan internal Ghana telah diusir dari negara ini.

Dengan memperhatikan kenangan pahit rakyat Afrika terhadap para misionaris, komisi penyebaran agama Kristen pada tahun-tahun terakhir ini, telah mengubah metode dan politik mereka untuk hadir di Afrika. Pengalaman mereka menunjukkan bahwa metode dakwah yang paling membawa hasil adalah metode tidak langsung. Oleh karena itu, kehadiran misionaris secara fisik dalam bentuknya yang khas, tidak akan banyak menarik perhatian kaum pribumi. Dewasa ini, para misionaris mengetahui bahwa dengan wajah dan profesi yang berbeda-beda, mereka akan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk menyebarkan paham kebudayaan mereka. Dokter, guru, insinyur, peneliti, anggota kelompok ilmuwan, dan perawat merupakan di antara profesi-profesi yang digunakan sebagai topeng oleh para misionaris. Mereka dikirim ke negara-negara tujuan untuk menyebarkan ajaran Kristen dengan tanpa menyinggung sensitivitas penduduk pribumi.

Bagian Kesembilan

Lutfi Liqunian, seorang penulis Kristen, meyakini bahwa periode baru dalam metode misionaris telah dimulai. Dia menulis, “Eropa dalam Perang Salib menggunakan pedang, sekarang menggunakan penyebaran paham sebagai cara untuk mencapai maksud-maksudnya. Dengan Perang Salib baru ini, Eropa ingin mencapai tujuannya tanpa pertumpahan darah. Dalam usahanya ini, Eropa memanfatkan gereja, sekolah-sekolah, dan rumah sakit serta menyebarkan misionaris mereka.

Dewasa ini, penyebaran ajaran Kristen di berbagai negara, merupakan salah satu strategi politik para pemimpin negara Barat. Kerjasama antara gereja dan negara-negara Barat merupakan kerjasama bersejarah yang dimulai sejak abad pertengahan sampai pada periode kolonialisme baru. Negara-negara Barat dan perusahaan-perusahaan multinasional telah menanamkan modal yang sangat besar pada yayasan-yayasan penyebar ajaran Kristen. David Waren, penanggung jawab Ensiklopedia Dunia Kristen, berkenaan dengan biaya propaganda misionaris di seluruh dunia, menyatakan bahwa data statistik tahun 1970 menunjukkan bahwa 70 milyar dolar telah dihabiskan unutk membiayai aktivitas misionaris pada tahun itu. Menurutnya, kurang dari dua dekade jumlah ini telah mencapai hampir dua kali lipatnya dan terus akan meningkat.

Dalam dunia Kristen, terdapat banyak kelompok atau sekte yang berbeda-beda. Namun, dalam melakukan aktivitas propagandanya di seluruh dunia, kelompok-kelompok ini menghilangkan perbedaan di antara mereka dan bersatu-padu dalam kelompok yang sama. Kita bisa melihat bahwa di Afrika, misionaris Katolik dan Protestan saling berdampingan untuk menyebarkan ajaran yang sama. John B. Nas, seorang penulis Inggris dalam bukunya yang berjudul “Sejarah Agama-Agama” menulis bahwa persatuan yang signifikan di antara berbagai kelompok Protestan terjadi dalam aktivitas misionaris yang memiliki kepentingan dan makna yang sangat besar. Penyebaran ajaran Kristen ke berbagai negara membuktikan bahwa perbedaan antara berbagai gereja dan kelompok Kristen sama sekali tidak memiliki hasil. Para misionaris terikat pada semua kelompok dan gereja. Mereka tidak menghabiskan waktu untuk mengurusi perbedaan ini. Jika diperlukan, mereka siap untuk melupakan berbagai perbedaan yang ada di antara mereka.

Benua Afrika adalah salah satu kawasan terpenting bagi penyebaran ajaran Kristen oleh kaum misionaris. Ajaran Kristen di Afrika memiliki sejarah yang panjang. Serangan Eropa ke Afrika yang terjadi sejak akhir abad ke-15, telah membuka jalan bagi infiltrasi kaum misionaris ke benua ini. Para misionaris selama berabad-abad berada di samping tentara kolonialis di berbagai tempat di Afrika. Dalam kongres Baitul Maqdis yang dibentuk tahun 1963, semua orang Afrika peserta kongres itu menyatakan bahwa menurut pandangan rakyat Afrika, kehadiran para misionaris menghidupkan kenangan kolonialisme. Kenyataannya, di mana saja misionaris menginjakkan kaki, kolonialisme di negara itu pun segera dimulai.

Sejarah kehadiran misionaris di Afrika menjelaskan adanya kesejalanan dan kerjasama mereka dengan negara-negara penjajah. Selama perang, para misionaris memberikan bantuan yang berharga kepada pasukan penjajah. Biasanya, ketika pasukan penjajah masuk ke sebuah negara, pusat-pusat misionaris akan dijadikan pangkalan militer. Para misionaris itu kemudian akan menjadi salah satu penyuplai senjata, pasukan, dan makanan bagi para kolonialis. Selain itu, karena mereka mengenal suku-suku dan daerah-daerah, mereka akan menjadi mata-mata dan sumber informasi untuk para kolonialis.

Dalam serangan tentara Belgia ke Stanleyville, kita bisa melihat bahwa para misionaris telah menjadi penunjuk jalan bagi para tentara penjajah. Kota Stanleyville yang pada tahun 1966 diubah namanya menjadi Kisangani, adalah salah satu kota berpenduduk muslim di Kongo. Rakyat kota ini berjuang gigih menentang kehadiran pasukan Belgia. Pada tanggal 24 dan 25 September 1964, penduduk kota ini diserang habis-habisan oleh tentara Belgia yang mendapat dukungan dari tentara Amerika.

Jenderal Mike, komandan kulit putih bayaran yang dipekerjakan oleh Musa Chumbe, pemimpin pemberontak Kongo, mengutarakan kenangannya atas kejadian tersebut, sebagai berikut.

“Kami tidak mengasihani anak kecil atau orang dewasa karena ada kemungkinan bahwa setiap mereka adalah anggota gerakan kemerdekaan Kongo. Kami telah membunuh minimalnya lima ribu orang Kongo sehingga kami kemudian bisa membebaskan para tawanan kulit putih. Dalam kejadian ini, para pendeta kulit putih yang terkait dengan gerakan misionaris telah memberi kami petunjuk karena mereka mengenal kondisi daerah itu.”

Harian Observer terbitan London pada tahun 1964 memuat tulisan seorang penulis yang membahas masalah pembunuhan massal di Stanleyville. Katanya, “Mungkin sebagian orang membayangkan bahwa kelompok-kelompok religius dan misionaris Kristen adalah orang-orang yang baik dan tidak melakukan kejahatan terhadap rakyat Kongo. Namun, saya menyaksikan sendiri bahwa pada masa Musa Chumbe, semua misionaris di Katanga menjadi pelindung politik yang kuat Rezim Chumbe, yang pada saat itu bahkan mengumumkan perang terhadap PBB.”

Patrice Lumumba, pemimpin rakyat Kongo, juga memperhatikan masalah ini. Setelah terpilih menjadi perdana menteri, dia mengumumkan bahwa sebagian misionaris merupakan anggota resmi Angkatan Bersenjata Belgia. Oleh karena itu, dia menuntut agar para misionaris meninggalkan Kongo.

Peran seperti ini juga dilakukan oleh para misionaris di negara-negara Afrika lainnya, seperti Uganda, Nigeria, Sudan, Ghana, dan Senegal. Sebagai contoh, uskup Richard Ruzdir dengan alasan campur tangan atas urusan internal Ghana telah diusir dari negara ini.

Dengan memperhatikan kenangan pahit rakyat Afrika terhadap para misionaris, komisi penyebaran agama Kristen pada tahun-tahun terakhir ini, telah mengubah metode dan politik mereka untuk hadir di Afrika. Pengalaman mereka menunjukkan bahwa metode dakwah yang paling membawa hasil adalah metode tidak langsung. Oleh karena itu, kehadiran misionaris secara fisik dalam bentuknya yang khas, tidak akan banyak menarik perhatian kaum pribumi. Dewasa ini, para misionaris mengetahui bahwa dengan wajah dan profesi yang berbeda-beda, mereka akan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk menyebarkan paham kebudayaan mereka. Dokter, guru, insinyur, peneliti, anggota kelompok ilmuwan, dan perawat merupakan di antara profesi-profesi yang digunakan sebagai topeng oleh para misionaris. Mereka dikirim ke negara-negara tujuan untuk menyebarkan ajaran Kristen dengan tanpa menyinggung sensitivitas penduduk pribumi.

Bagian Kesepuluh

John Moot, seorang misionaris Afrika dalam bukunya menulis, “Metode terang-terangan atau langsung para misionaris tidak berhasil menarik kaum muslimin untuk berpaling dari agamanya, karena baju yang digunakan oleh para misionaris hanyalah menimbulkan kebencian.” Roise, seorang misionaris lainnya juga mengkritik cara langsung gereja dalam menyebarkan ajarannya. Dia berkata, “Kami melihat sekelompok misionaris telah bertahun-tahun hidup di sebuah kota, namun mereka tidak mampu menemukan teman seorang pun.

Periode penjajahan Afrika oleh bangsa Barat memiliki dua dampak besar bagi agama Kristen. Pertama, masuknya pengaruh Kristen ke wilayah-wilayah Afrika yang belum disentuh oleh dakwah Islam, seperti Afrika Tengah dan Selatan. Kedua, meningkatkan semangat anak-anak kaum muslimin untuk bersekolah di sekolah-sekolah baru yang mengajarkan plajaran-pelajaran yang bersumber dari Barat. Dengan demikian, murid-murid di sekolah ini akan jauh dari ilmu-ilmu Islam. Apalagi, sekolah-sekolah Kristen tersebut telah mengajarkan huruf latin dan menyingkirkan pelajaran bahasa Arab sehingga rakyat Afrika akhirnya melalaikan peninggalan budaya dan bahasa mereka yang ditulis dalam huruf Arab.

Menurut para misionaris, pengajaran adalah cara dakwah yang paling bagus. Mereka amat mengutamakan pendidikan di kalangan anak-anak karena anak-anak memiliki kesiapan dan bakat untuk menerima pengajaran. John Moot, misionaris Amerika, juga menekankan pentingnya peran sekolah-sekolah dalam penyebaran ajaran Kristen. Dia berkata, “Kami harus mengajarkan ajaran agama kepada anak-anak. Sebelum dewasa, anak-anak itu harus kami tarik ke arah Kristen dan sebelum konsep Islam terbentuk dalam dalam jiwa anak-anak itu, jiwa mereka harus kami tundukkan.”

Dewasa ini, salah satu tujuan sekolah-sekolah dan pusat-pusat universitas yang terkait dengan misionaris adalah mendidik orang-orang yang kelak akan berpengaruh dalam pemerintahan dan bisa menjadi pemimpin di negara mereka. Adalah jelas bahwa misionaris akan mudah mencapai tujuannya bila yang digarapnya adalah orang-orang yang pernah mendapat pendidikan di sekolah-sekolah Kristen. Buktinya bisa kita lihat pada negara-negara Afrika, yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Ketika di antara tahun-tahun 1950-1970, negara-negara itu mencapai kemerdekaannya, tiba-tiba mereka mendapati bahwa presiden mereka ternyata seorang Kristen.

Kegagalan dalam menjalankan program pembangunan, kekeringan, kelaparan, dan utang yang sangat banyak yang dimiliki negara-ngara Afrika telah makin mempermudah masuknya pengaruh misionaris di negara-negara itu karena mereka mendapat perlindungan dana yang sangat luas dari negara-ngara barat.

Penyebaran ajaran Injil yang meluas dan dilakukan secara gratis di tengah masyarakat, propaganda dan penyebaran budaya sekularisme Barat, dan perluasan ajaran barat secara sangat luas merupakan beberapa metode misionaris di Afrika.

Metode lain yang dipakai para misionaris adalah pelayanan kedokteran dan kesehatan. Para dokter memberikan dukungan yang amat besar bagi gerakan misionarsi dalam mencapai tujuannya. Menurut mereka, di manapun manusia di dunia ini, orang yang sakit akan selalu ada dan orang sakit akan selalu memerlukan dokter. Di manapun ada kebutuhan terhadap dokter, di sanalah ada kesempatan untuk menyebarkan ajaran agama.

Di Afrika banyak terdapat rumah sakit dan klinik-klinik kesehatan yang dikelola para misionaris Kristen. Meskipun kaum misionaris mengatakan bahwa tujuan dari kegiatannya ini tidak lebih dari pemberian pertolongan kepada masyarakat, akan tetapi, di sebagian kawasan, para misionaris itu tanpa tedeng aling-aling menerangkan secara jelas tujuan asli kegiatan mereka itu. Mungkin hal ini didasari oleh pandangan mereka yang terlalu menganggap bodoh masyarakat pribumi.

Kondisi seperti ini tercatat dengan jelas pada sebuah buku berjudul “Christian Workers”. Contohnya adalah pada beberapa kawasan di Sudan. Di sana, ketika tengah mengobati para pasiennya, para dokter Kristen memulai aktivitas pengobatannya dengan meminta penyembuhan dari Al-Masih. Sejumlah dokter Kristen di kawasan Nasser bahkan secara terang-terangan memberikan syarat pengobatan kepada pasiennya berupa kesediaan para pasien untuk mengakui bahwa yang akan menyembuhkannya itu adalah Al-Masih.

Tanggal 20 Mei 2002 lalu, dua orang dosen universitas telah menulis surat pada redaksi majalah New York Times. Mereka menulis bahwa dalam kunjungan mereka ke Afrika Selatan, keduanya berkenalan dengan sejumlah besar misionaris Kristen yang mengaku datang ke sana membawa misi memerangi kefakiran dan penyakit AIDS. Akan tetapi, setelah beberapa kali berkomunikasi, kedua dosen itu menyadari bahwa tujuan asli kaum misionaris itu sama sekali bukan pertolongan terhadap masyarakat Afrika, melainkan secara prkatis mereka ingin mendirikan gereja yang besar untuk kemudian mengkristenkan warga pribumi. Koran New York Times juga menulis kesaksian kedua dosen itu bahwa para misionaris itu mengabaikan warga setempat dalam pendidikan cara-cara memerangi AIDS.

Para misionaris yang dikirim ke negara-negara Afrika umumnya dilatih untuk bisa menghormati seluruh adat dan budaya Islami yang dianut oleh masyarakat setempat dengan tujuan agar mereka bisa menarik perhatian masyarakat pribumi. Ketertarikan kaum pribumi terhadap para misionaris itu akan sangat memudahkan para misionaris dalam menyebarkan ajaran Kristen.

Contohnya, di Afrika, mereka menyebarkan ajaran melalui berbagai cerita rakyat yang tersebar di berbagai suku Afrika, akan tetapi, isi cerita rakyat yang awalnya berupa pesan khusus dari budaya masyarakat setempat itu, mereka ubah sesuai dengan tujuan misionaris mereka. Terkadang, kita bisa menyaksikan bahwa di beberapa kawasan Afrika, nyanyian-nyayian gereja mendapatkan inspirasi dari lagu-lagu rakyat. Contoh yang terkenal adalah lagu “Bambu” yang awalnya menggambarkan fase terakhir dari kedewasaan seorang pemuda Afrika, sekarang memiliki makna yang berbeda ketika dinyanyikan pada ritus-ritus gereja.

Lagu tersebut kini dimaknai sebagai masuknya seseorang kepada agama Kristen. Atau misalnya, pada hari Minggu, di beberapa kota Afrika para misonaris Kristen bersama-sama dengan orang-orang Kristen pribumi mengenakan pakaian kebesaran suku setempat dan dengan pakaian itulah mereka melakukan ritus keagamaan di gereja sambil memukul gendang menyanyikan lagu dan menari secara bersama-sama.

Bagian Kesebelas

Para misionaris ketika memasuki benua Afrika menemukan fakta yang mengejutkan yaitu sedemikian luasnya pengaruh Islam di benua ini. Penyebaran Islam di Afrika tidak dilakukan secara sistematis oleh kaum muslimin dan para muballigh Islam. Politik kolonialisme dan penjajahan terhadap berbagai wilayah Afrika oleh Belgia, Portugis, Perancis, dan Inggris dalam waktu yang sangat lama memberikan kesempatan yang luas bagi para misionaris untuk menyebarkan ajaran Kristen di benua ini.

Menyusul ucapan Paus pada akhir tahun 1960-an bahwa “dunia secara menyeluruh harus menjadi Kristen”, serangan para misionaris terhadap berbagai agama lain, terutama Islam, muncul dalam bermacam-macam bentuk. Dengan mengadakan berbagai konferensi, yayasan, organisasi, dan lembaga keagamaan di berbagai negara, para misionaris melakukan aktivitasnya secara amat luas di berbagai lapisan masyarakat. Yayasan-yayasan ini, setiap tahun membagi-bagikan ratusan ribu Injil, buku-buku, dan majalah secara gratis untuk menyebarkan pemikiran Kristen di tengah pemuda dan remaja dan berbagai lapisan masyarakat lainnya. Yayasan-yayasan ini memanfaatkan penulis, psikolog, dan spesialis lain yang terkemuka agar isi tulisan, warna, gambar dan desain grafis jilid buku, serta foto-foto bisa menarik perhatian pembaca.

Yayasan Emier merupakan salah satu contoh dari yayasan misionaris yang bertujuan utnuk memukul Islam. Yayasan ini memilki 13 penerbitan dan salah satu aktivitasnya adalah menerbitkan buku dengan gambar-gambar yang menarik bagi anak-anak. Yayasan “Amalur-rab” adalah contoh lain yayasan misionaris, yang memiliki ribuan pegawai profesional di berbagai bidang. Yayasan yang didirikan tahun 1928 dan didukung oleh Paus Johannes Paulus Kedua ini, juga bergerak di bidang politik. Di berbagai negara, yayasan ini melakukan mata-mata dan melakukan campur tangan dalam urusan pemerintahan.

Penerbitan Injil dalam bahasa lokal merupakan salah satu kegiatan yayasan-yasan misionaris. Seorang ustad muslim di negara Pantai Gading Afrika menceritakan bahwa suatu hari di desanya dia didatangi oleh sekelompok pendeta yang meminta dia mengajarkan bahasa tradisional, dan tidak lagi mengajarkan bahasa Perancis atau Arab demi menjaga bahasa asli desa itu. Ustad muslim itu dengan cerdas mengetahui tujuan sesungguhnya para pendeta tersebut.

Ustad muslim itu kemudian berkata keapda para pendeta tersebut, “Tujuan Anda untuk meminta saya mengajar bahasa tradisional kepada masyarakat adalah karena Anda sudah menerjemahkan Injil ke dalam bahasa asli kami dan Anda ingin agar pemikiran Kristen disebarkan kepada masyarakat dengan mudah. Sayang sekali Quran sangat sedikit diterjemahkan ke dalam bahasa asli dan karena itu Anda meminta saya untuk tidak mengajarkan bahasa Arab, karena itu akan membuat masyarakat lebh memahami Quran dan bila mereka sudah memahami Quran, mereka tidak akan mendengarkan perkataan Anda.”

Berkenaan dengan masalah penggunaan fasilitas canggih oleh para misionaris untuk menyebarkan pemikiran mereka, Doktor Zainab Abdul Aziz dalam pidatonya dalam Konferensi Toleransi Islam di Casablanca, Maroko, yang berjudul “Perluasan Propaganda Kristen dan Pentingnya Kewaspadaan Dunia Islam” berkata, “ Pada tahun 1990, di kota Brussel didirikan sebuah universitas bernama Penyebaran Kristen. Universitas ini memiliki pengajar-pengajar dari kalangan jurnalis dan pembicara terkemuka yang mahir dalam menyampaikan ilmu agama dan pengajaran gereja. Mereka bertujuan untuk mendidik para misionaris. Di antara perlengkapan canggih yang dimiliki universitas ini adalah satelit Luman 2000 yang bertujuan untuk menyebarkan terjemahan Injil dalam berbagai bahasa ke seluruh penjuru dunia sehingga bisa ditangkap oleh pesawat radio. Negara-negara seperti Sudan, Kenya, dan Uganda dengan mudah bisa menangkap siaran radio berisi terjemahan Injil ini dengan kualitas suara yang sangat bagus. Satelit ini dioperasikan dengan bekerjasama dengan Vatikan dan pejabat kota Dallas Amerika.

Tanzania, sebuah negara di timur Afrika yang lebih dari 60 persen penduduknya muslim, kekuatan politiknya lebih banyak berada di tangan orang-orang Kristen yang populasinya hanya 30 persen. Kaum Kristiani di negara ini memiliki aktvitas yang sangat luas, mulai dari radio, televisi, sampai internet untuk menyebarluaskan kebudayaan kristen di tengah masyarakat Tanzania. Sejumlah 6000 pendeta kristen di puluhan gereja melakukan aktivitasnya di negara ini. Mereka, sebagaimana juga di negara-negara Afrika lainnya, memanfaatkan tokoh-tokoh politik Tanzania untuk menyebarkan pemikirannya. Meskipun mereka menyatakan tidak campur tangan dalam urusan politik dalam negeri Tanzania, namun kenyataannya, dalam pemilu presiden, Dewan Gereja bahkan secara resmi menyampaikan pesan lewat radio dan koran mengenai keistimewaan seorang presiden. Aksi penguasaan terhadap sendi-sendi sebuah negara merupakan salah satu metode para misionaris untuk menyebarkan ajaran mereka.

Pendeta Peel, seorang pejabat gerakan misionaris di Afrika timur, pernah mengatakan, “Tidak boleh ada negara Kristen yang memperbolehkan agama Kristen diperlakukan sama seperti agama-agama lainnya. Agama Kristen harus dikenalkan sebagai agama superior. Sebuah pemerintahan Kristen haruslah menunjukkan kinerjanya hingga masyarakat merasakan bahwa mereka yang pernah mengecap pendidikan kerohanian Kristen ini memiliki nilai yang lebih dibandingkan dengan orang lain dalam pekerjaan di pemerintahnya.”

Akan tetapi, meskipun telah dilakukan upaya yang sangat luas oleh para misionaris Kristen di Afrika serta telah digunakannya berbagai fasilitas dan keuangan yang sangat banyak dalam program misionaris itu, kenyataan menunjukkan bahwa kelompok-kelompok penyebaran agama Kristen itu tidak pernah mampu mencapai tujuan-tujuan mereka. Sebuah majalah AS “Life” pernah menulis sebagai berikut.

“Di Afrika meskipun kaum misionaris yang jumlahnya tak terhingga telah melakukan berbagai program penyebaran agama, dan untuk itu telah dikeluarkan dana yang tidak terhingga, mereka hanya mampu mengkristenkan satu berbanding 10 orang Afrika yang masuk Islam. Padahal, Islam hingga kini tidak pernah mengirimkan satupun kelompok penyebar agama secara resmi ke tempat manapun di dunia. Umat Islam juga tidak pernah mendirikan rumah sakit, masjid, dan pusat pendidikan sebagai cara untuk menyebarkan ajaran mereka.”

Bagian Keduabelas

Surat kabar New York Times pernah menulis laporan yang berisi sebagai berikut.

“Organisasi Amerika yang bernama Pendeta-Pendeta Kristen Internasional yang bermarkas di Indianapolis telah mendidik lebih dari 4500 misionaris yang bertujuan untuk mengkristenkan kaum muslimin di berbagai negara dunia. Organisasi ini meningkatkan aktivitasnya setelah kejadian 11 September. Masa penugasan para pendeta misionaris tersebut adalah enam tahun.”

Selama beberapa tahun terakhir, gerakan misionaris telah menghabiskan dana yang sangat besar untuk menyampaikan ajaran mereka demi melawan Islam. Dengan mendirikan berbagai pusat dan yayasan propaganda, mereka berusaha untuk menyampaikan pemikiran-pemikiran Kristen di berbagai penjuru dunia. Di antara negara-negara dunia, negara-negara Afrika memiliki tempat yang khusus dalam pandangan para misionaris. Kunjungan para pejabat tinggi gereja seperti Paus, ke benua Afrika selama dua dekade terakhir ini membuktikan posisi khusus tersebut.

Untuk menyebarkan ajaran Kristen ke negara-negara dunia, para misionaris melakukan berbagai usaha. Salah di antara metode yang mereka pakaiadalah mengubah pengajaran Kristen dan menyesuaikannya dengan kebudayaan masyarakat pribumi. Metode seperti ini diungkapkan dalam sebuah buku berjudul “Re-thinking Mission” dan dianggap sebagai sesuatu hal yang diperbolehkan dalam penyebaran Kristen. Buku ini diterbitkan pada tahun 1932 oleh sebuah yayasan misionaris. Menurut buku ini, propaganda Kristen harus terus dilakukan, namun metode-metodenya harus diubah agar sesuai dengan perkembangan zaman.

Contoh pelaksanaan metode ini adalah mengenai masalah perkawinan. Sebagian mazhab Kristen di Eropa hanya mengizinkan monogami dan tidak memperbolehkan percraian. Namun, di Afrika, mazhab Kristen tersebut mengubah ajaran mereka dengan mengizinkan kaum pribumi Afrika untuk menikahi lebih dari satu perempuan dan melakukan perceraian.

Lebih jauh lagi, para misionaris bahkan mengubah wajah Isa Al-Masih. Selama ini, Isa Al-Masih di Eropa digambarkan sebagai seorang kulit putih dan berambut pirang panjang. Namun, demi menyesuaikan dengan kebudayaan Afrika, di negara-negara Afrika mereka menggambarkan bahwa Isa Al-Masih seorang Ethiopia berkulit hitam dan berambut keriting.

Para misionaris dengan berbagai alasan, di antaranya ketakutan mendalam atas meluasnya pengaruh Islam di benua Afrika, memiliki dendam yang mendalam terhadap Islam dan kaum muslimin. Rasa dendam itu dimunculkan dalam berbagai bentuk. Sebagai contoh, mereka menggerakkan pribumi Kristen Afrika untuk memerangi kaum muslimin, sebagaimana terjadi di Uganda, Malawi, dan Tanzania. Dalam majalah dan buku-buku yang mereka terbitkan, mereka menggambarkan Islam dengan buruk demi. Sebagai contoh, majalah Vision edisi Mei 1986, pada halaman pertamanya memasang foto Isa Al-Masih yang berwajah tenang dan melambaikan tangan penuh cinta yang disandingkan dengan foto seorang ruhaniwan muslim yang bertampang marah dan memegang sebilah pedang. Foto-foto yang diberi judul “Isa Al-Masih dan Islam” ini bertujuan untuk menanamkan gambaran dalam pikiran para pembaca bahwa Islam adalah agama yang kasar dan sebaliknya, Krisen adalah agama yang membawa perdamaian.

Nigeria adalah sebuah negara di bagian barat Afrika dan merupakan negara dengan penduduk muslim terbanyak di Afrika. Rakyat Nigeria, setelah berjuang dalam waktu lama untuk melawan para penjajah, akhirnya pada tahun 1960 berhasil meraih kemrdekaannya. Menurut catatan sejarah, Islam masuk ke negara ini sejak abad ke-8 melalui jalan perdagangan dan Islam berkembang pesat di utara negara ini. Pada tahun 1553, penjajah Inggris masuk ke negara ini bersama-sama dengan kelompok misionaris. Para misionaris inilah yang menjadi pelaksana politik Inggris di Nigeria. Lugard, penguasa Inggris di Nigeria, didampingi seorang misionaris bernama Miller merupakan pelaksana utama politik pengajaran kolonialis di negara ini.

Politik pengajaran Inggris di Nigeria memiliki tujuan-tujuan misionaris dan propaganda. Ketua kelompok misionaris Inggris menulis, “Kami sejak saat ini menggunakan Injil sebagai salah satu buku pelajaran. Beberapa bagian di ntaranya yang telah dipilih secara cermat, dijadikan bahan untuk latihan menulis para pelajar. Kami berpikir bahwa ini adalah kesempatan propaganda yang sangat bagus.”

Aktivitas kelompok misionaris di urusan politik juga sangat besar. Ketika rakyat muslim dan pejuang Nigeria berhasil meraih kemerdekaan dari Inggris dan mendirikan pemerintahan, pasukan Inggris dengan pertolongan para misionaris mendalangi kudeta dan membunuh beberapa pemimpin muslim, di antaranya Tafawa Balewe dan Ahmad Bello. Kudeta ini dilakukan oleh lima perwira Kristen dari kabilah Eibo yang diketuai Jenderal Aguiyi Ironsi. Dalam sebuah majalah bulanan terbitan London tahun 1966, ditulis mengenai terbunuhnya para pemimpin muslim Nigeria ini. Menurut majalah tersebut, “Kejadian ini diperlukan agar dapat menghalangi pengaruh kaum muslim di utara yang semakin hari semakin meningkat.”

Dalam buku “Nigeria Tahun 1966” yang diterbitkan di Lagos, ibu kota negara ini, tertulis, “Sejarah masa lalu dengan jelas menunjukkan bahwa ketika Nigeria yang memiliki penduduk mayoritas muslim mendirikan negara federal dengan pemerintahan pusat di Lagos, situasi negara berjalan dengan baik. Tetapi, keinginan orang-orang Eibo Kristen untuk memimpin kaum muslimin dan untuk membalas dendam secara kejam terhadap para pemimpin muslim, membuat kepentingan negara dikorbankan oleh ambisi-ambisi yang tidak pada tempatnya dan nafsu balas dendam kaum minoritas Kristen.”

Setelah terbunuhnya Jenderal Ironsi dalam pelarian, Ojukwu, komandan militer provinsi timur Nigeria yang berpenduduk mayoritas Kristen, mengumumkan kemerdekaan daerah tersebut dan mendirikan negara baru yang bernama Biafra. Tindakan ini, menurut media massa Barat, mendapat perlindungan dari negara-negara Barat dan Vatikan karena keberadaan sumber minyak di provinsi tersebut.

Ketika akhirnya Biafra berhasil dijatuhkan oleh pemerintahan pusat Nigeria, di antara para pemberontak yang tertangkap ditemukan 150 ruhaniwan Kristen. Pemerintahan pusat Nigeria kemudian mengusir keluar para misionaris tersebut yang di antaranya warga negara Selandia Baru.

Bagian Ketigabelas

Pada bagian kali ini, kami akan menukil isi pidato seorang misionaris bernama W.H.T.Gairdner yang kami ambil dari buku “Konferensi Misionaris Dunia, Misi dan Pemerintah” terbitan tahun 1910 yang berisi kumpulan pidato, laporan, diskusi, dan program-program misionaris.

Gairdner dalam Konferensi Misionaris Dunia menyatakan secara terang-terangan bahwa infiltrasi terhadap negara-negara Islam sangat diperlukan untuk mempercepat kristenisasi di sana. Kepada para misionaris yang hadir dalam konferensi itu, Gairdner menyatakan, “Masalah Islam tidak bisa kita abaikan begitu saja. Pertama, karena Islam telah mendekati pintu gerbang kita. Islam dari telah hadir dari Afrika Utara hingga Eropa. Pada dasarnya, bisa dikatakan bahwa Islam bergerak dari dua arah laut Mediterania. Kedua, karena Islam adalah masalah besar bagi kita. Islam bagaikan gunung yang kukuh yang berdiri di tengah-tengah kaum Kristen di Barat dan penyembah berhala di Timur.

Saya ingin mengingatkan bahwa meskipun jika masalah kita di Jepang, Manchuria, China, dan India bisa kita selesaikan dan krisis yang terjadi dengan mereka dewasa ini secara baik bisa kita atasi, tembok penghalang yang tinggi ini, yaitu Islam, masih tetap berdiri dan memisahkan kaum Kristiani di Barat dan Timur. Oleh karena itu, usaha untuk menyingkirkan penghalang ini tidak bisa kita tunda esok hari.

Gardner berkali-kali secara implisit, dengan menyebutkan bahwa Islam adalah musuh, menyatakan bahwa para misionaris harus menggunakan berbagai cara dalam menghadapi Islam. Dalam pidatonya itu, dia juga menyebutkan berbagai negara dan masyarakat muslim, salah satunya adalah Afrika. Menurut Gardner, “ Islam di bagian timur Afrika hingga Kamerun dan bagian barat Afrika hingga Nigeria, telah melakukan kemajuan. Saya berharap semua misionaris di Afrika Barat melakukan usaha maksimal demi mengkristenkan kaum muslimim. Dengan adanya musuh kita, yaitu Islam, kita harus mempersatukan diri. Kita harus membuat satu program bersama yang …

Dalam upaya pengkristenan dunia, delegasi misionaris Afrika hingga kini melakukan berbagai tipuan agar mampu meraih posisi di antara rakyat pribumi Afrika. Salah satu di antara tipuan para misionaris adalah dengan memperkenalkan orang-orang yang mengaku semula muslim lalu berpindah ke agama Kristen. Beberapa tahun yang lalu, seorang pemuda bernama Buttuwil Mina muncul di televisi Zimbabwe. Dia menyatakan diri sebagai seorang muslim yang berpindah ke agama Kristen. Setelah beberapa lama, terungkap kenyataan bahwa dia tidak pernah menganut Islam, melainkan seorang pendneta yang selama lima tahun belajar agama di Kenya.

Dengan menelaah metode-metode penyebaran ajaran Kristen, terlihat juga bahwa para misionaris menggunakan gadis-gadis untuk menarik pemuda-pemuda muslim. Dalam buku “Mission and Imperialism” tertulis sebagai berikut. “Kaum perempuan dalam pandangan para misionaris memiliki peranan yang sangat besar untuk mencapai tujuan mereka. Sebagian misionaris berkeyakinan bahwa delegasi misionaris harus berusaha menyampaikan ajaran mereka di tengah kaum perempuan muslim karena perempuan adalah alat yang paling penting untuk mengkristenkan sebuah negara muslim dengan segera. Perempuan adalah poros kehidupan sosial. Dengan memanfaatkan mereka, para misionaris bisa melakukan infiltrasi ke berbagai lapisan sosial masyarakat. Oleh karena itu, didirikan pusat-pusat pendidikan misionaris khusus untuk mendidik perempuan sesuai dengan ajaran Kristen.”

Sebagian pusat-pusat pendidikan ini secara langsung mendidik kaum perempuan, termasuk gadis-gadis remaja, untuk menjadi misionaris. Beberapa di antara pusat pendidikan itu berkedok yayasan pendidikan seni dan kerajinan tangan kaum perempuan. Kepada kaum perempuan yang bergabung dengan yayasan tersebut secara tidak langsung diajarkan nilai-nilai Kristiani.

Adanya penanaman modal organisasi-organisai misionaris dalam kegiatan misionaris perempuan juga bisa kita tangkap dari pidato Henry Jesups, seorang misionaris Amerika yang selama ini berupaya mengkristenkan Timur Tengah. Mengenai sebuah lembaga pendidikan kaum perempuan di Beirut, Jesup berkata, “Lembaga pendidikan ini adalah prioritas saya. Lembaga ini kami buka untuk mendidik para perempuan dan dengan ini kami memberikan perhatian kepada dunia misionaris.”

Salah satu di antara negara Afrika yang dijadikan ladang aktivitas para misionaris adalah Guinea. Delegasi misionaris datang ke negara ini pada akhir abad ke-19 dan mendirikan puluhan gereja serta pusat penyebaran ajaran Kristen. Namun, mereka tetap tidak berhasil menarik perhatian rakyat Guinea. Hingga kini, penduduk muslim di Guinea tetap mayoritas, yaitu lebih dari 95 %. Padahal, para misionaris telah melakukan usaha infiltrasi dan memiliki kekuatan yang besar. Mereka juga melakukan aktivitas politik yang luas. Ketika Ahmad Sekou Toure naik sebagai presiden setelah kemerdekaan negara ini pada tanggal 2 Oktober 1958, dia mengusir semua pendeta kulit putih Katolik dan Protestan dari Guinea dan menyatakan, “Mereka dengan berkedok pendeta melakukan operasi mata-mata dan melakukan kerusakan.”

Setelah kematian Sekou Toure pada tahun 1984 yang diikuti oleh kebangkitan militer Guinea, para misionaris kembali melakukan aktivitasnya di negara itu. Dengan melakukan infiltrasi terhadap pemerintah, mereka mengubah sistem pendidikan Guinea dan mengubah Kementerian Urusan Islam yang dibentuk semasa pemerintahan Sekou Toure menjadi Kementrian Urusan Religius. Dengan disahkannya hukum revisi UUD Guinea pada tahun 1991, para misionaris melalui politikus-politiku Kristen berusaha menngambil posisi penting dalam kabinet kementrian. Meskipun 95 persen rakyat Guinea adalah muslim, namun para misionaris bebas melakukan penyebaran ajaran Kriaten melalu radio dan televisi. Mereka umumnya melakukan aktivitas dengan berkedok sebagai organisasi non pemerintah Amerika. Desa-desa merupakan daerah yang terpenting bagi mereka untuk melaksanakan misi penyebaran Kristen di Guinea.

Bagian Keempatbelas

Menyusul keruntuhan Uni Soviet dan kemerdekaan negara-negara Asia Tengah, puluhan kelompok misionaris atas dukungan negara-negara Eropa dan Amerika dikirimkan ke wilayah ini. Pada pertemuan kita kali ini, kami akan membahas kegiatan para misionaris di Azerbaijan. Selamat mengikuti.

Secara umum, metode yang dipakai delegasi misionaris di Azerbaijan sama dengan metode mereka di Afrika. Mereka memanfaatkan situasi sosial-ekonomi yang buruk di negara tempat mereka bertugas dan dengan berbagai cara mereka berusaha melakukan berbagai infiltrasi di tengah masyarakat. Kemiskinan dan kesulitan ekonomi dan sosial di negar-negara yang baru merdeka seperti Azarbaijan merupakan kondisi yang cocok bagi para misionaris untuk melaksanakan misi mereka. Para misionaris itu mendapat dukungan dana yang besar dan perlindungan politik dari negara-negara Barat, seperti AS, Inggris, Perancis, Jerman, dan Belgia.

Misionaris Barat ini berusaha menyembunyikan tujuan politik dan budaya mereka dengan cara mendirikan berbagai organisasi. Mereka menampakkan kepada masyarakat bahwa tujuan mereka adalah menolong kemanusiaan. Namun, karena kebutuhan ekonomi rakyat Azerbaijan, mereka juga melakukan pemaksaan. Misalnya, sebagaimana yang dilakukan oleh sebuah organisasi bantuan kemanusiaan bernama Adra.

Harian Musawat Nawin, terbitan Baku, mengenai organisasi ini menulis, meskipun sudah jelas bahwa organisasi ini adalah sebuah gerakan misionaris yang disponsori Amerika, namun para pejabatnya menyangkal kenyataan tersebut. Ketika pejabat Azerbaijan mengumumkan bahwa organisasi ini adalah sebuah lembaga misionaris Amerika, pemimpinnya, Vaksun malah menyatakan bahwa ada 400 ribu warga Azarbaijan yang mendapat bantuan dari organisasi ini. Dia mengancam, bila tekanan dari para pejabat politik dan media massa Azerbaijan terus berlangsung, organisasi ini akan menghentikan bantuannya tersebut.

Dukungan langsung pemerintahan negara-negara Barat seperti AS atau organisasi keamanan dan kerjasama Eropa (OSCE) terhadap kelompok-kelompok misionaris ini justru semakin membuka tujuan politik mereka. Perlindungan kedutaan besar AS di Azerbaijan terhadap kelompok misionaris dengan alasan melindungi kebebasan aktivitas kelompok agama juga lebih membuktikan kenyataan ini.

Sementara kementrian luar negeri AS mengklaim bahwa agama minoritas di Azerbaijan menghadapi berbagai masalah, kelompok misionaris Barat dengan bebas dan leluasa melakukan aktivitas mereka. Menyusul adanya kesempatan untuk mendaftarkan secara resmi organisasi dan yayasan agama di Republik Azerbaijan, aktivitas misionaris di negara ini semakin meningkat. Di antara organisasi-organisasi yang telah mendaftarkan diri, lebih dari 40 di antaranya adalah organisasi yang terkait dengan kelompok Kristen dan Yahudi. Perlu disebutkan pula bahwa banyak kelompok misionaris lainnya yang tetap melakukan aktivitasnya meskipun belum mendaftarkan diri.

Padahal, pemerintah Azerbaijan sudah menuduh bahwa sebagian organisasi-organsasi misionaris tersebut sebagai mata-mata. Nomik Abasov, menteri keamanan Republik Azerbaijan dalam wawancara dengan televisi negara itu menyatakan, “Agen keamanan negara-negara luar yang berkedok organisasi misionaris memiliki tujuan masing-masing di Azerbaijan yang bertentangan dengan kepentingan negara ini.” Dalam masalah ini, pemerintah Baku bahkan sudah mengusir beberapa misionaris Barat yang terbukti melakukan aktivitas ilegal dan mata-mata. Namun, atas bantuan pejabat AS, mereka bisa kembali lagi ke Azerbaijan dan meneruskan kegiaan mereka.

Di sisi lain, tampak bahwa tindakan pemerintah Baku dalam memberantas aksi mata-mata para misionaris masih bersifat setengah-setengah. Para misionaris di Azerbaijan hingga kini bebas menyebarkan buku-buku dan brosur propaganda Kristen di jalan-jalan dan stasiun-stasiun yang dipenuhi lalu-lalang masyarakat. Sebaliknya, penduduk Azerbaijan yang 90% di antaranya adalah muslim malah menemui banyak kesulitan dalam mengajarkan agama Islam di kalangan mereka sendiri. Sebagai contoh, Menteri Pendidikan dan Pengajaran Azerbaijan, Misir Mardinov, menentang dicantumkannya mata pelajaran agama di sekolah-sekolah. Menurut pandangan pengamat masalah Azerbaijan, tindakan ini menunjukkan adanya upaya dari pihak pemerintah untuk mengurangi peran Islam dalam kehidupan masyarakat di negara ini.

Para misionaris juga sangat memperhatikan penyebaran ajaran Kristen di tengah anak-anak. Alasannya adalah karena anak-anak memiliki hati yang masih bersih dan polos. Ajaran dan pendidikan apapun yang ditanamkan kepada anak-anak akan berpengaruh hingga ketika ia besar nanti. Kepribadian sejati seorang manusia dibentuk sejak ia masih kanak-kanak. John Moot, seorang misionaris terkenal pernah menyatakan, “Kita harus menarik anak-anak ke dalam ajaran Kristen sejak mereka masih kecil.”

Tahun yang 2002 yang lalu, sebuah surat kabar “Echo” terbitan Baku edisi 9 April menulis bahwa gereja Baptist di Azerbaijan telah memanfaatkan kondisi kemiskinan anak-anak untuk menarik mereka ke dalam ajaran Kristen. Anak-anak yang menjadi terget gereja ini adalah mereka yang berusia antara 6 hingga 10 tahun.

Selain itu, para misionaris juga menyusup ke militer Azerbaijan. Sabir Hasanali, sekretaris urusan umat muslimin Kaukasus dan Rektor Universitas Islam Republik Azerbaijan dalam sebuah wawancara dengan televisi INS Azerbaijan, menyatakan, “Anggota misionaris dengan memanfaatkan kesulitan hidup para tentara angkatan bersenjata Azerbaijan, berusaha untuk menjauhkan mereka dari Islam.” Sayyid Mahdi Kaliov peneliti di bidang ilmu keislaman berkeyakinan bahwa sembilan puluh persen aktivitas misionaris di Azerbaijan adalah untuk membawa negeri ini ke dalam perang saudara.

Bagian Kelimabelas

Memburuknya hubungan antara para penganut Kristen dengan gereja di negara-negara Barat selama tahun-tahun terakhir ini, menunjukkan peningkatan. Wartawan United Press dalam laporannya mengenai penurunan jumlah penganut Kristen menulis, “Pada tahun 1975, delapan juta orang di Inggris menjadi anggota gereja. Angka ini pada tahun 1992, menurun hingga 6,7 juta orang. Pada tahun 2005, diramalkan akan menurun hingga 5,7 juta orang. Dari sisi ini, Inggris berada dalam posisi kedua setelah Belanda. Menurut mingguan Spiegel Jerman, jumlah pengikut gereja Katolik dan Protestan juga menurun. Di Italia, harian La Republica yang menukil Franco Garti, sosiolog negara ini menulis, jumlah orang Kristen di Italia telah menurun. Ada sekelompok Kristen namun mereka tidak menjalankan aturan agama atau tidak mengakui akhirat. Mereka ini menyebabkan goncangan iman seseorang dan pada akhirnya mengurangi pemeluk agama.”

Pada saat di dunia Kristen jumlah pengikutnya semakin berkurang, jumlah misionaris yang dikirimkan ke negara-negara Islam malah semakin meningkat. Tujuan politik dan budaya memiliki peran penting dalam kehadiran para misionaris ke negara-negara Islam. Tujuan ini semakin penting bagi mereka karena ketidakberhasilan mereka di negara-negara Barat.

Sebagaimana kita ketahui, periode penyebaran ajaran Kristen oleh Isa Al-Masih relatif pendek. Oleh karena itu, ketika Isa Al-Masih diangkat Allah naik ke langit, pengikutnya tidaklah banyak. Namun, para pengikut Nabi Isa a.s. yang dalam sejarah dikenal sebagai kaum Hawariyun meneruskan penyebaran ajaran-ajaran beliau.

Bertahun-tahun setelah mi’rajnya Nabi Isa Al-Masih, ajaran beliau belum ada yang dibukukan. Kitab suci Injil yang terdiri dari perjanjian baru dan perjanjian lama baru dibukukan secara lengkap pada akhir abad ke-4 Masehi. Oleh karena itu, menurut Robert Hume, penulis buku “Agama-Agama Dunia” , “Dunia Kristen sampai sekarang masih belum sepakat mengenai apa saja yang benar-benar merupakan isi dari kitab suci Kristen.”

Perlu disebutkan pula bahwa kitab suci terdiri dari berbagai risalah yang berbeda dan tidak mengandung keteraturan, urutan, dan keserasian dalam penempatan berbagai risalah tersebut. Wyncken, ilmuwan kontemporer Jerman dan ahli teologi pernah menulis, “ Adalah hal yang menakjubkan bahwa sekumpulan tulisan yang tidak sejenis dalam bentuk satu kesatuan, yang ada di antara masyarakat, dinamakan buku kalam Ilahi.”

Pada abad ke-19, dilakukan penelitian dan penelaahan terhadap kitab Perjanjian Lama dan Baru dan ditemukan berbagai kesalahan ilmiah, sejarah, dan lain-lainnya. Hal ini membuat sebagian penganut Kristen, di antaranya Richard Bush, penulis buku “Dunia Relijius, Agama dalam Masyarakat Dewasa Ini”, menulis, “Dewasa ini, sebagian besar umat Kristiani meyakini bahwa dalam kitab suci mereka terdapat kesalahan kata-kata.” Kitab suci Kristen mengandung nilai-nilai ketuhanan, namun, bukanlah benar-benar kata-kata Tuhan. Oleh karena itu, memiliki berbagai kesalahan yang mengundang keingintahuan dari para realis dan orang-orang yang penuh keingintahuan, yang tidak bisa dijawab.

kini kami akan melanjutkan pembicaraan dengan meninjau aktivitas misionaris di Tajikistan. Tajikistan adalah salah satu negara di Asia Tengah. Setelah keruntuhan Uni Soviet, berbagai delegasi misionaris berdatangan ke Tajikistan dan sebagian besarnya berkedok di balik pelayanan sosial dan kesehatan. Karena kondisi ekonomi dan sosial yang kurang baik di negeri itu, para misionaris berharap bisa menarik perhatian penduduk dengan memberikan bantuan pengobatan. Mereka beranggapan bahwa dokter adalah kedok yang paling baik dipakai untuk melaksanakan aktivitas misionarisnya di Tajikistan. Karena, para dokter bisa berhubungan dengan segala lapisan masyarakat daan dengan demikian dia bisa menyebarkan pemikirannya di tengah-tengah masyarakat. Pada misionaris berkeyakinan bahwa para dokter adalah Injil hidup karena mereka mampu menarik orang-orang sekitarnya untuk memeluk Kristen atau minimalnya memberi pengaruh ajaran Kristiani yang mendalam ke dalam jiwa orang-orang di sekitarnya.

Oleh karena itu, salah satu metode para misionaris adalah mendirikan rumah sakit-rumah sakit, panti asuhan anak yatim, dan pusat-pusat bantuan sosial di berbagai kawasan miskin. Baru-baru ini, gereja di kota Dusyanbe, ibu kota Tajikistan, mengundang penduduk untuk datang agar mendapatkan perawatan gratis. Namun, di sana, para dokter menyebarkan ajaran Kristen dengan cara membacakan doa sebelum memeriksa pasien. Kelompok misionaris yang berkedok dokter ini berkebangsaan Korea namun mendapat perlindungan dari Amerika. Mereka juga menjalankan aktivitas misionaris mereka melalui penerbitan di Tajikistan dengan kedok kemanusiaan.

Penggunaan media massa seperti surat kabar, buku-buku, stasiun televisi dan radio serta pembuatan film sinema, merupakan salah satu cara untuk menyebarkan ajaran Kristiani. Mingguan Tajikistan dalam laporan khususnya mengenai film-film yang menyebarkan ajaran Kristen, menulis, “Tujuan film ini adalah untuk menarik kaum muda muslim Tajikistan ke dalam agama Kristen. “ Mengenai hal ini pula, sebuah majalah misionaris “Religious Broadcasting” pada bulan Januari 1996 menulis mengenai sebuah program besar bernama “Kehidupan Baru di Tahun 2000”. Di antara tujuan program ini adalah mengirimkan sekelompok ke seluruh dunia untuk mengubah keyakinan dan kepercayaan agama masyarakat dan menyebarkan tujuan-tujuan misionaris mereka.

Bagian Keenambelas

Tabligh atau penyebaran ajaran kebenaran sebuah agama haruslah dilakukan dengan kejujuran dan menggunakan cara-cara yang benar dan logis. Namun, para misionaris Kristen dalam aktivitas mereka di negara-negara muslim amat jauh dari hal ini. Salah satu dari metode yang mereka pakai dalam menyebarkan akidah mereka adalah dengan melakukan konstekstualisasi pemikiran objek misionaris dengan Injil. Dengan cara ini, mereka menyembunyikan permusuhan mereka terhadap Islam dan sebaliknya mereka berusaha berperilaku sesuai dengan ajaran Islam bahkan ritual agama mereka dilakukan dengan cara Islam. Misalnya, mereka menggunakan pakaian yang serupa dengan pakaian orang Islam dan menghindari makanan-makanan yang diharamkan dalam agama Islam.

Dalam masalah ini, seorang penulis Pakistan bernama Imtiyaz Zafar menulis sebuah makalah berjudul “Pandangan Misionaris Pada Abad ke-20”. Menurutnya, para misionaris menggunakan metode baru yang mengajarkan ajaran Kristen dalam bentuk Islami. Gereja mereka dinamakan sebagai Masjid Isa dan mereka membaca Injil lima kali sehari sebagaimana orang Islam shalat lima kali sehari semalam. Mereka bahkan juga melakukan sujud seperti orang Islam bersujud dalam shalat.

Imtiyaz Zafar dengan mengutip ucapan Phill Marshal, seorang misionaris, menulis bahwa misionaris mengajarkan ayat-ayat Injil yang cocok untuk dibaca dalam shalat. Dengan cara ini, shalat umat Islam akan mengandung nilai Injil. Selain itu, para misionaris juga dianjurkan untuk menjauhi makan daging babi dan minum alkohol.

Beberapa waktu yang lalu, sebuah surat kabar Kirkizistan menulis bahwa para misionaris telah memanfaatkan ketidakwaspadaan dan keluguan masyarakat untuk menyebarkan ajaran yang tidak mereka kenal. Surat kabar Urkintar juga menulis sebagai berikut. “Beberapa hari sebelumnya, seorang warga negara Amerika di provinsi Narin menyebarkan ajaran agama yang menurut para ahli lokal, merupakan campuran dari ajaran Hindu, Kristen, Syimani, dan Islam. Ajarannya ini bisa menyelewengkan seorang muslim yang kurang pengetahuan. Misionaris Amerika yang bernama Richard Hewitt selama tiga bulan melakukan aktivitas misionaris secara sembunyi-sembunyi dan menyebarluaskan pemikirannya dalam tulisan yang mirip seperti buku Salman Rushdi. Setelah diusir dari Uzbekistan, dia lalu datang ke sebuah daerah pegunungan di Kirkizistan.

Dewasa ini, di Amerika ada ratusan lembaga agama yang melakukan ritual yang saling berbeda satu sama lain. Lembaga-lembaga yang sebagiannya mendapatkan dukungan dana yang besar dari pemerintah Barat ini mengirimkan orang-orangnya ke berbagai penjuru dunia untuk menyebarkan akidah mereka. Sekte “Kesaksian Yehovah” adalah salah satu di antara lembaga tersebut yang didirikan di Pensylvania Amerika, pada akhir abad ke-19. Sekte ini menyebarkan orang-orangnya di berbagai negara, terutama di Asia Tengah dan menjalankan aktivitas misionaris di sana. Sekte ini memiliki dana yang sangat besar dan mendapatkan perlindungan politik dari pemerintah Amerika. Bahkan, Kementrian luar negeri AS dalam laporan tahunannya tahun 2001 menekankan masalah penyelesaian masalah yang berhubungan dengan sekte ini.

“Aktivitas mencurigakan dalam kedok agama” merupakan bahaya yang membuat berkali-kali disampaikan oleh para pejabat agama dan politik negara-negara Asia Tengah setelah keruntuhan Uni Soviet. Para pemuda di kawasan ini menjadi sasaran utama gerakan misionaris Barat tersebut. Beberapa waktu yang lalu, mingguan Zaman terbitan Kazakhstan memberitakan tentang meningkatnya aktivitas misionaris di tengah rakyat negara ini. Mingguan ini menulis, “Beberapa kelompok misionaris di kota Almati melakukan aktivitas mereka dengan amat giat, khususnya di tengah-tengah para pemuda.

Metode misionaris untuk menarik perhatian para pemuda sangatlah beragam. Di antaranya adalah dengan mendirikan pusat pendidikan bahasa Barat. Dalam pusat pendidikan ini, para misionaris melalui materi-materi pelajaran menyebarkan kebudayaan Barat dan pemikiran agama mereka. Dalam masalah ini, Shataliah, seorang pendeta Perancis dalam sebuah majalah propaganda agama “Le Monde Musulman” (Dunia Islam) menulis, “Tidak diragukan lagi, para misionaris kita hingga kini masih belum berhasil membuat kaum muslimin berada di bawah pengaruh kita. Untuk mencapai tujuan ini, kita bisa memanfaatkan penyebaran bahasa-bahasa Eropa. Melalui bahasa-bahasa Eropa tersebut, pemikiran Eropa bisa disebarluaskan. Selain itu, dunia Islam bisa berhubungan dengan media massa Eropa dan dengan jalan itulah organisasi-organisasi misionaris bisa mencapai tujuannya untuk merusak pemahaman Islam di kalangan umat muslim.”

Jalan lain yang digunakan untuk menarik kaum muda di Asia Tengah adalah dengan membentuk klub-klub dan pusat-pusat olahraga serta hiburan. Pusat-pusat olahraga dan hiburan ini aktif di bidang budaya dan sosial namun diatur dengan pemikiran misionaris. Pusat-pusat yang sebagiannya berada di bawah nama “Perkumpulan Muda” atau “Organisasi Pemuda” ini melakukan berbagai kegiatan seperti tur atau konferensi mahasiswa dan pertandingan olahraga untuk menarik perhatian kaum muda. Cornelius Botton, penulis buku “Aktivitas Misionaris Gereja” menulis, “Peran perkumpulan-perkumpulan itu dalam memajukan gereja adalah dengan berusaha mempengaruhi para mahasiswa dan pemikir di kota-kota. Perkumpulan ini melalui pengaruhnya dalam kehidupan sosial dan olahraga, bisa mengajak beberapa orang ke dalam ajaran Kristen. Hal ini akan sulit dilakukan oleh para misionaris secara perorangan.

Bagian Ketujuhbelas

Beberapa waktu yang lalu, surat kabar Wall Street Journal menuliskan laporan mengenai aktivitas kelompok-kelompok misionaris yang jumlahnya tak terhitung yang bertujuan untuk mengkristenkan kaum muslimin. Menurut suratkabar ini, gereja-gereja dengan mengirmkan misonaris-misionaris ke sebagian wilayah Afrika dan Asia telah berusaha untuk mengubah akidah umat Islam. Wall Street Journal menulis bahwa para penerbit telah mencetak banyak buku mengenai bagaimana cara menarik kaum muslimin. Buku ini dibuat sesuai perkembangan di kalangan muslim dan setiap babnya diberi nama sesuai dengan nama surat-surat dalam Al-Quran.

Lebih jauh lagi, Wall Street Journal juga melaporkan bahwa para misionaris Amerika mengirimkan anggota-anggota mereka ke berbagai negara muslim dunia dengan berkedok sebagai guru, penerjemah, wakil perdamaian, atau pedagang. Orang-orang ini dengan menggunakan gereja atau lembaga-lembaga Kristen telah menjalin hubungan dengan masyarakat pribumi lalu berusaha membentuk kelompok-kelompok Kristen.

Salah satu negara muslim terpenting yang menjadi sasaran para misionaris adalah Turki. Karena letak geografisnya yang unik, yaitu berada di antara Eropa dan Asia, Turki memiliki posisi yang penting dan sensitif. Aspek geopolotik Turki yang penting itu membuat negara ini selalu menjadi perhatian negara-negara Eropa. Usaha negara-negara Barat untuk menanamkan pengaruh di Turki telah dimulai sejak periode pemerintahan Utsmani dan para misionaris memiliki peran besar dalam usaha ini.

Pada awal abad ke-19, kawasan-kawasan penting dunia seperi Asia Kecil, di antaranya Armenia dan Turki, selat Bosporus dan Dardanela, Timur Tengah, Mediterania, dan Makedonia, dikuasai oleh pemerintahan Utsmani. Di wilayah kekuasaan Utsmani yang amat luas itu, hidup para pengikut berbagai agama dan kondisi ini dimanfaatkan oleh para misionaris. Dengan dalih memberikan pengajaran agama kepada kelompok agama minoritas, para misionaris Barat memasuki wilayah Utsmani. Kemudian, sedikit demi sedikit, para misionaris menjalankan peran sebagai agen perluasan pengaruh negara-negara Barat yang mengirim mereka, di kalangan pemerintah negara muslim tersebut.

Pemerintah Inggris, Perancis, Rusia, dan Amerika adalah di antara negara-negara Barat yang memanfaatkan para misionaris untuk memperluas pengaruh mereka terhadap pemerintahan negara-negara muslim. Di samping mendirikan lembaga-lembaga agama, langkah pertama yang diambil oleh para misionaris ketika memasuki wilayah Utsmani adalah mendirikan yayasan pendidikan. Menjelang Perang Dunia Pertama tahun 1914, lebih dari 1300 yayasan Perancis, Inggris, dan Amerika aktif menjalankan kegiatan mereka di berbagai pelosok wilayah Utsmani. Robert College adalah salah satu sekolah yang didirikan oleh misionaris pada tahun 1863 di kota Istambul. Sekolah ini dikelola oleh para misionaris Amerika. Menurut tulisan Athen Sezar, seorang penulis Turki, yayasan ini memiliki peran yang sangat besar dalam menggerakkan orang-orang Bulgaria untuk memisahkan diri dari kekuasaan Utsmani.

Yayasan-yayasan misionaris berperan untuk menciptakan perasaan kebanggaan etnis dan ras di tengah-tengah masyarakat dengan tujuan untuk meningkatkan pertentangan dan bentrokan di wilayah Utsmani. Dengan meningkatkannya fanatisme kesukuan dan ras, perasaan kesatuan di antara kaum muslimin di wilayah Utsmani kian menurun. Penciptaan perpecahan dan perselisihan serta melenyapkan keutuhan dan persatuan kaum muslimin, selalu menjadi salah satu tujuan para misionaris karena dengan cara inilah mereka bisa mencapai keinginan mereka di bidang politik, budaya, dan sosial.

Seorang pendeta bernama Simon menyatakan bahwa persatuan Islam adalah harapan bangsa-bangsa muslim yang sadar, dan dengan cara itu mereka berusaha keluar dari pengaruh Eropa. Masalah ini hanya bisa dicegah oleh program-program misionaris karena program-program itu menampilkan wajah Eropa dengan menarik dan bisa menghancurkan persatuan kaum muslimin.

Para misionaris dalam pengajaran di sekolah-sekolah mereka berusaha menampilkan wajah Eropa yang menarik ke dalam benak anak-anak muda muslim. Akibatnya, mereka melupakan sejarah bangsa mereka yang penuh kebanggaan. Menurut Kardinal Lavie Garry, “Tanpa diragukan lagi, agama yang paling kuat dan tidak bisa ditaklukkan adalah agama Islam. Oleh karena itulah para misionaris berharap agar seluruh kaum muslimin menjadi Kristen. Meskipun para misionaris juga menyebarkan ajaran mreka di kalangan Budha dan Hindu, namun tujuan asli mereka adalah kaum muslimin.”

Dengan tujuan untuk melemahkan pemerintahan Utsmani, aktivitas misionaris di kawasan ini semakin meningkat. Setiap kali pejabat politk Utsmani berencana untuk membatasi aktivitas misionaris Barat itu, mereka akan berhadapan dengan tekanan poltik pemerintah pelindung misionaris tersebut. Akhirnya mereka pun terpaksa mengambil langkah mundur. Kuat atau lemahnya pemimpin yang berkuasa di wilayah Utsmani akan mempengaruhi besarnya pengaruh misionaris dalam pemrintahan. Sebagai contoh bisa dilihat pada masa kepemimpinan Said Pasha di Mesir yang saat itu berada di bawah kekuasaan Utsmani. Karena kepemimpinannya yang lemah, dia disukai oleh para misionaris. Sebaliknya, ketika Ismail Pasha berkuasa, dia melarang segala aktivitas misionaris. Akibatnya, dia selalu menjadi sasaran celaan para misionaris dan mendapat tekanan dari negara-negara Barat.

Dengan melemahnya pemerintahan Utsmani dan naiknya Kamal Attaturk ke tahta kekuasaan, para misionaris semakin bebas melaksanakan aktivitas mereka. Bahkan, sebagian kebijakan politik Attaturk sejalan dengan tujuan para misionaris. Misalnya, perintah Attaturk untuk mengubah huruf Turki dengan huruf Latin adalah upayanya untuk memotong hubungan kaum muslimin dengan warisan Islam yang kaya. Lebih jauh lagi, Attaturk bahkan menutup semua sekolah Islam di Turki dengan alasan penyeragaman kurikulum pendidikan di negara itu. Sebaliknya, pusat-pusat pendidikan misionaris Barat diizinkan untuk terus beroperasi dan bahkan pada tahun 1930, sekolah-sekolah AS di Turki dibebaskan dari pajak. Sepeninggal Attaturk, kegiatan misionaris ini masih terus berlanjut dan mendapat tentangan keras dari masayarakat muslim Turki.

Bagian Kedelapanbelas

Pada masa pemerintahan Utsmani, para misionaris Barat merupakan salah satu alat untuk menyebarkan pengaruh pemerintahan Barat di wilayah itu. Mereka dengan berbagai metode berusaha untuk meningkatkan fanatisme kesukuan dan ras, serta menyebarkan perpecahan di antara rakyat sehingga memperlemah pemerintahan Utsmani yang merupakan satu-satunya pemerintahan di Eropa yang bermazhab resmi Islam ini.

Setelah runtuhnya pemerintahan Turki Utsmani dan naiknya Kamal Attaturk, para misionaris semakin banyak dan bebas menjalankan aktivitasnya di negara ini. Kebijakan politik Ataturk yang memukul Islam sejalan dengan tujuan para misionaris. Penetapan hari Minggu sebagai hari libur yang mengantikan hari Jumat, mengganti huruf Arab dari bahasa negara ini dan menggantikannya dengan huruf latin, pembatalan penanggalan Hijriah dan menggantinya dengan penanggalan Masehi, adalah di antara langkah-langkah Attaturk dalam menyingkirkan nilai-nilai Islam dari tengah masyarakat Turki. Sebaliknya, Attaturk menyebarluaskan pengaruh kebudayaan Barat di negara itu.

Secara umum, dewasa ini, politik Attaturk yang anti Islam masih dilanjutkan oleh sebagian pejabat negara ini, meskipun mendapatkan penentangan dari rakyat. Dengan kata lain, sebagian pejabat negara ini berusaha melemahkan budaya Islam di tengah masyarakat muslim Turki. Sejalan dengan itu, sebagian pejabat negara memberikan kebebasan kepada para misionaris untuk menjalankan aktivitas mereka. Meluasnya kegiatan misionaris Barat di Turki bahkan membuat dewan keamanan nasional negara ini mengganggapnya sebagai sebuah fenomena yang mengkhawatirkan.

Berdasarkan laporan yang diungkapkan oleh Dewan Keamanan Nasional Turki, para misionaris selama tiga tahun, yaitu sejak tahun 1999 hingga 2001, telah menyebarluaskan tiga juta naskah Injil secara gratis di Tuki. Penyebaran Injil dalam jumlah yang amat besar itu membutuhkan dana yang besar pula. Berdasarkan laporan tersebut, selama satu tahun, di kota Istambul saja sudah 19 gereja yang didirikan. Hal yang menarik di sini adalah bahwa gereja-gereja itu didirikan di daerah-daerah yang tidak ada penduduk Kristennya. Para misionaris membeli atau menyewa unit-unit apartemen dan toko-toko, lalu menggunakannya sebagai tempat peribadatan ataupun gereja. Belum lama berselang, sementara para misionaris dengan bebas mengajarkan ajaran Kristen kepada para pemuda dan remaja di sekolah-sekolah, kelas-kelas pengajaran Quran malah diserang oleh oknum-oknum kepolisian.

Dalam sebuah laporan resmi disebutkan bahwa tujuan utama para misionaris lebih jauh dari sekedar menyebarkan ajaran agama. Tujuan utama mereka adalah memecah-belah Turki. Dalam usahanya ini, salah satu kegiatan para misionaris adalah menciptakan perpecahan antara bangsa Turk dan Kurdi. Para misionaris di tenggara Turki menyebarluaskan Injil dalam bahasa Kurdi dan menggerakkan rakyat Kurdi untuk menuntut agar bahasa Kurdi digunakan dalam pengajaran di sekolah-sekolah dan menyebarluaskan program dalam bahasa Kurdi.

Hubungan Partai Komunis Kurdi (KDK), yang sebelumnya bernama Partai Buruh Kurdi (PKK), dan gerakan separatis Kurdi dengan gereja adalah sebuah fakta yang harus diperhatikan. Sejak tahun 1983, gereja memiliki hubungan erat dengan kelompok-kelompok separatis. Perlu disebutkan pula bahwa gerakan separatis pertama yang terjadi di tenggara Anatolis pada tahun 1962, didalangi oleh para pakar AS yang terkait dengan gereja-gereja Katolik dan Anglikan.

Untuk mencapai tujuan politik dan budayanya, para misionaris Barat di Turki menggunakan metode yang berbeda-beda. Misionaris yang beraktivitas di tengah masyarakat fakir menipu masyarakat dengan tawaran kerja dan janji pemberian uang Sebaliknya, para fakir miskin itu diminta untuk mengenakan pakaian Kristiani.

Majalah Aidin Lik terbitan Turki, beberapa waktu yang lalu menyebutkan tentang adanya sebuah buku terbitan New York yang berisi “metode-metode misionaris Prostestan”. Dalam buku ini, secara jelas dituliskan bahwa lokasi terpenting aktivitas misionaris adalah negara-negara Arab dan Islam. Kepada para misionaris, buku ini menuliskan pesan sebagai berikut. “Peluang terbaik bagi kita adalah di negara-negara yang baru lepas dari perang dan kondisinya diliputi kehancuran, kelaparan, dan standar hidup yang rendah. Daerah terbaik untuk menyebarkan agama adalah di pinggiran kota. Jika diperlukan, orang-orang yang tinggal di daerah-daerah seperti ini bisa dibeli.”

Penggunaan radio, televisi, serta bioskop adalah salah satu metode yang biasa dipakai para misionaris. Berdasarkan sebuah laporan penelitian pada tahun 1993, di antara film-film yang ditayangkan di televisi pemerintah dan swasta di Turki, sebagiannya merupakan propaganda Kristen. Dalam film ini, para pastor atau penyebar ajaran Kristen selalu digambarkan sebagai orang berwajah bersih dan orang yang baik. Sebaliknya, dalam sebagian besar film-film buatan Turki yang selama ini ditayangkan, para ruhaniwan Islam digambarkan sebagai orang yang kepribadiannya tidak simpatik sehingga tidak bisa menarik perhatian para pemuda dan remaja.

Menurut juru bicara pers Patrik Khan Ortodoks, segala organisasi atau lembaga yang dibangun oleh misionaris selalu saja melayani kepentingan para imperialis. Imperialisme menggunakan para misionaris sebagai senjata dan oleh karena itu, misionaris amat berbahaya bagi Turki dan dunia.

Bagian Kesembilanbelas

Negara Indonesia yang terletak di Asia Tenggara ini, merupakan , sebuah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Sekitar 200 juta muslim hidup di negara ini. Artinya, sekitar 90 persen dari total populasi negara ini adalah muslim. Jumlah muslim yang amat besar, yang berada di sebuah negara dengan hasil alam yang amat kaya, terutama gas dan minyak, menjadikan Indonesia sebagai sebuah target penting bagi para misionaris.

Indonesia selama lebih dari tiga abad berada di bawah penjajahan negara-negara Barat, seperti Spanyol, Portugis, dan Belanda. Setelah melakukan perjuangan melawan Belanda, akhirnya rakyat Indonesia berhasil meraih kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Kehadiran imperialisme Belanda yang memakan waktu hingga 350 tahun menciptakan kesempatan yang sangat luas bagi masuknya delegasi-delegasi misionaris Barat ke Indonesia. Sebagaimana telah kami bahas pada bagian-bagian yang lalu, misionaris selalu menjadi pendukung utama imperialisme. Karena itu, program-program misionaris selalu sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai oleh kaum penjajah. Belanda yang selama tahun-tahun pertama abad ke-17 melancarkan program imperialismenya di Asia Tenggara dan Timur Jauh, juga menggunakan bantuan dari para misionaris.

VOC atau Perusahaan Belanda di Hindia Timur yang dibentuk sejak tahun 1602 yang merupakan wakil imperialisme Belanda di Asia Tenggara, selalu melindungi para misionaris dan rakyat pribumi di Asia Tenggara dipaksa untuk mau menerima ajaran Kristen. Latourette, penulis buku sejarah Kristen yang berjudul “A History of Christianity” , meskipun berusaha mengaburkan adanya hubungan antara misionaris dengan program-program imperialisme, mengakui dalam bukunya itu, bahwa “Prinsip dan kaidah Kristen dalam kebijakan-kebijakan imperialisme Belanda memainkan peranan yang sangat banyak.”

Sementara para penjajah Belanda memaksa rakyat pribumi untuk menerima ajaran Kristen, sebaliknya, jika seorang Belanda masuk Islam, keuangannya akan dihentikan dan orang itu akan ditangkap serta dikeluarkan dari wilayah tersebut. Perlindungan para imperialisme Barat terhadap para misionaris di Asia tenggara, termasuk Indonesia, menyebabkan mereka memiliki posisi penting dalam masyarakat. Hal ini bisa dilihat, ketika Indonesia meraih kemerdekaannya, orang-orang Kristen di negara ini menduduki jabatan-jabatan penting dalam pemerintahan dan memiliki pengaruh yang besar dalam percaturan politik Indonesia. Contoh penting mengenai pengaruh Kristen di Indonesia, adalah dalam proses penyusunan UUD RI. Pada konsep UUD tersebut, disebutkan kelima “Ketuhanan yang Mahaesa dengan menjalankan kewajiban syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Penulisan konsep ini didasarkan pada kenyataan bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim. Namun, karena kuatnya pengaruh Kristen yang jumlahnya hanya 8 persen itu, kalimat tersebut diubah dan hanya ditulis “Ketuhanan Yang Mahaesa”.

Dewasa ini, aktivitas misionaris di Indonesia dilakukan dengan berbagai metode. Di antaranya, dengan berlindung di balik organisasi-organisasi internasional seperti WHO, FAO, UNESCO, dan UNICEF. Para misionaris itu banyak melakukan kegiatannya di daerah-daerah yang penduduknya miskin dan terisolir, seperti di sebagian kawasan Irian Jaya dan Sulawesi. Mereka mengirimkan dokter dan guru-guru ke daerah-daerah itu serta mendirikan yayasan-yasayan sosial, dengan tujuan untuk mendekati dan menarik hati masyarakat pribumi.

Di antara yayasan-yayasan misinaris yang aktif di Indonesia adalah Nehemia Foundation yang sering disebut sebagai CCN. Lembaga ini didirikan pada tahun 1987 oleh Pendeta Suradi dengan tujuan untuk mendidik para pendakwah Kristen. Namun, dengan melihat cara kerja yayasan ini, para tokoh Islam Indonesia berkeyakinan bahwa tujuan yayasan ini adalah untuk menghina Islam. Untuk mecapai tujuan ini, yayasan tersebut melakukan berbagai usaha, di antaranya menciptakan ayat dan hadis-hadis palsu.

Beberapa waktu yang lalu, majalah Moslem Media terbitan London menuliskan laporannya tentang program Dewan Gereja Indonesia yang bertujuan untuk mengkristenkan masyarakat Indonesia. Berdasarkan program ini, Dewan Gereja menyuruh para anggotanya untuk ikut serta dalam aktivitas politik, ekonomi, dan budaya agar bisa meraih puncak kekuasaan dan bisa mengendalikan politik negara itu sesuai dengan kepentingan gereja. Disebutkan pula bahwa Dewan Gereja juga menyuruh agar para anggotanya mendekati orang Indonesia keturunan Cina karena mereka lebih mudah untuk ditarik ke dalam agama Kristen dan posisi mereka di Indonesia bisa menguntungkan Kriten.

Dalam majalah Sabili terbitan Indonesia pada edisi 05 tahun 2003, dituliskan laporan mengenai aktivitas misionaris di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Di masa lalu, Kerajaan Gowa adalah sebuah kerajaan Islam yang gigih berjuang mengusir Belanda dari tanah air Indonesia. Namun kini, Gowa adalah lahan empuk bagi para misionaris. Misalnya, di kelurahan Malino sejak Februari 1974, didirikan Sekolah AlKitab, yang merupakan salah satu dari sekitar 25 sekolah Alkitab Gereja Pantekosta di bawah naungan Belanda. Di kelurahan ini, ada 7 gereja yang aktif. Di desa Sicini, yang penduduknya merupakan masyarakat miskin terbesar di Gowa, para misionaris gencar mengirimkan bantuan-bantuan kepada masyarakat. Mereka mendapatkan dukungan dana dari Vatikan, AS, Kananda, dan Belanda. Di desa-desa lainnya di Gowa pun, situasinya tak jauh berbeda. Para misionaris dengan giat menyalurkan bahan pangan, uang, alat tulis, pakaian bekas. Mereka juga mengadakan pelatihan peternakan dan pertanian kepada masyarakat, bahkan membangun jaringan pipa air bersih. Semua kegiatan ini ditujukan untuk menarik hati masyarakat pribumi dan mengajak mereka untuk memeluk agama Kristen.

Bagian Keduapuluh

Sejak abad ke-12 hingga 13, Bangladesh berada di bawah kekuasaan kerajaan Hindu atau Budha. Kemudian, pada abad ke-13, pengaruh Islam masuk ke wilayah ini, sehingga mayoristas penduduknya memeluk agama Islam. Pada tahun 1757, Inggris menjajah anak benua India, termasuk Bangladesh. Ketika Inggris angkat kaki dari kawasan itu, pada tahun 1947 berdirilah negara Islam Pakistan, yang wilayahnya juga meliputi Bangladesh. Namun, pada tahun 1971, Bangladesh memisahkan diri dan menjadi negara yang independen.

Bangladesh memiliki 120 juta penduduk dan merupakan salah satu negara yang terpadat penduduknya di dunia. Sembilan puluh persen populasi Bangladesh beragama Islam, dan sisanya Hindu, Budha, dan Kristen. Kondisi penduduk Bangladesh yang sebagian besarnya miskin dan perekonomian negara yang lemah, membuat negara ini menajdi lahan yang subur bagi perkembangan gerakan misionaris. Sebagaimana yang mereka lalukan di negara-negara lainnya, para misionaris melakukan kegiatannya di Bangladesh dengan berkedok memberi bantuan materi. Dengan mendirikan lembaga-lembaga sosial yang memberikan bantuan kepada masyarakat, mereka berusaha untuk menarik hati para warga pribumi Bangladesh. Para misionaris di Bangladesh umumnya aktif di pedesaan yang padat penduduk.

Masuknya misionaris ke Bangladesh memiliki sejarah yang panjang. Gerakan misionaris pertama datang dari Portugis pada abad ke-16. Hingga tahun 1673, tercatat lebih dari 30.000 orang Bangladesh yang menganut agama Kristen Katolik. Pada tahun 1974, berdirilah gereja Katolik Roma yang ditangani oleh 260 misionaris asing. Gerakan misionaris Protestan yang tertua di Bangladesh adalah British Baptist Misionarries Society, yang mulai berjalan tahun 1793. Sampai tahun 1980, ada 21 kelompok misionaris Protestan yang aktif di Bangladesh dan memiliki 270 pekerja asing. Grup misionaris terbesar bernama Association of Baptist for World Evangelization yang memiliki 40 orang pekerja misionaris asing.

Respon para misonaris terhadap kesulitan yang dihadapi rakyat miskin Bangladesh, seperti bencana alam dan kelaparan, membuat banyak warga pribumi Bangladesh yang menerima ajaran Kristen. Bahkan, gereja-gereja Baptis, Anglikan, dan Katolik menyatakan bahwa mereka menerima permintaan dari seluruh desa dari kasta Namasudra untuk menjadi pemeluk Kristen, tetapi permintaan itu belum bisa terpenuhi karena kurangnya tenaga misionaris yang ada.

Penduduk Bangladesh di daerah pegunungan umumnya bersuku-suku. Para misionaris menyadari bahwa para anggota suku tersebut satu sama lain saling mempengaruhi. Oleh karena itu, mereka melakukan aktivitas misionarisnya secara menyeluruh dalam satu suku, bukan dengan melakukan pendekatan secara perorangan. Seorang atau sekelompok misionaris selama beberapa tahun hidup di sebuah suku dan mengajarkan ajaran Kristen kepada warga suku tersebut. Karena tingkat pendidikan warga pedesaan Bangladesh amat rendah, maka misionaris menyampaikan ajaran mereka melalui dongeng-dongeng.

Mengenai dongeng-dongeng rakyat Bangladesh ini, National News Agency of Bagladesh menulis, “Para misionaris dari Inggris dan Amerika berperan besar dalam pengumpulan dan penerbitan dongeng-dongeng rakyat Bangladesh. Karena tujuan mereka adalah untuk menyebarkan Kristen di tengah masyarakat pribumi, mereka mempelajari adat pribumi dengan tekun. Di antara para misionaris ini, yang paling terkenal adalah William Carey. Dia mengajar di Fort William College dari tahun 1800-1831 dan menerbitkan buku-buku dalam bahasa Bengali serta menggalakkan penerjemahan dongeng dari bahasa Sanskerta yang sebelumnya hanya didengar dari mulut-ke mulut.”

Para misionaris mengetahui bahwa pendidikan dan pengajaran merupakan jalan terbaik untuk mempengaruhi masyarakat. Karena itulah, mereka mendirikan sekolah-sekolah, universitas, bahkan taman kanak-kanak. Di antaranya adalah empat sekolah misionaris, yaitu “Bibble Correspondence School,” yang didirikan di kota Dakka, ibu kota Bangladesh. Seorang misionaris di Bangladesh mengisahkan, “Untuk memisahkan anak-anak dari orangtuanya, kami mendirikan banyak sekolah yang jauh dari lokasi pemukiman masyarakat. Dengan cara ini, hubungan anak-anak dengan orangtuanya terputus dan mereka sepenuhnya bergantung kepada kami.”

Sebagaimana di negara-negara lainnya, para misionaris di Bangladesh menanamkan modal yang besar dalam bidang penerbitan buku-buku Kristiani. Lembaga-lembaga misionaris yang ada aktif menerjemahkan Injil ke bahasa Bengali dan mencetaknya dalam jumlah besar lalu menyebarkannya kepada masyarakatan secara gratis. Menurut catatan sebuah lembaga misionaris “Bangladesh Bible Society, pada tahun 1977 saja, dicetak sebanyak 2,055,757 naskah Injil Perjanjian Baru.

Metode lain yang digunakan para misionaris di Bangladesh adalah dengan menarik perhatian para perempuan. Untuk mencapai tujuan ini, beberapa lembaga didirikan, di antaranya pusat pendidikan Holy Cross yang menyebarluaskan propaganda kebebasan perempuan. Lembaga-lembaga ini bertujuan, kalaupun tidak berhasil mengkristenkan kaum perempuan Bangladesh, minimalnya, mereka bisa menyebarluaskan budaya Barat di tengah kaum perempuan.

Abdul Karim Khan, seorang penulis Bangladesh pernah menulis tentang aktivitas misionaris di negara itu. Dia menyatakan bahwa tujuan para misionaris adalah untuk mengubah Bangladesh menjadi negara seperti Nigeria, yang jumlah muslim dan Kristennya seimbang. Bila komposisi berimbang ini bisa dicapai, para misionaris bisa mempengaruhi percaturan politik Bangladesh. Abdul Karim Khan menulis sebagai berikut, “Pekerjaan para misionaris di Bangladesh sangat membahayakan bangsa. Mereka mengikis habis keimanan kaum muslim yang miskin serta menyebarkan ideologi politik dan kebudayaan Barat di Bangladesh. Tak boleh dilupakan bahwa pelindung para misionaris ini adalah negara-negara Eropa dan Amerika. Oleh karena itu, sebagian besar misionaris cenderung patuh kepada kepentingan negara-negara Barat. Inilah yang menjadi alasan bahwa dimanapun para misionaris melakukan aktivitasnya, maka negara itu pasti akan berada dalam bahaya.”

Bagian Keduapuluhsatu(terakhir)

Berdasarkan tulisan di salah satu edisi dari majalah Times terbitan Amerika, misionaris yang dikirim ke negara-negara Islam antara tahun 1982 dan 2001, jumlahnya telah meningkat dua kali lipat. Biasanya, negara-negara yang mengalami pergolakan dan ketidakstabilan politik akibat perang internal, menjadi sasaran utama para misionaris tersebut. Afghanistan dan Irak, merupakan di antara negara-negara muslim yang mengalami ketidakstabilan politik dan menjadi lahan subur bagi para misionaris untuk melancarkan aktivitasnya.

Dalam tiga dekade terakhir ini, situasi politik dalam negeri Afghanistan telah memberi peluang kepada para misionaris untuk melancarkan gerakan Kristenisasinya di sana. Sebagaimana yang kita ketahui, selama bertahun-tahun peperangan antara Mujahidin Afghanistan melawan Tentara Merah Soviet, sebagian rakyat Afghanistan mengungsi ke Pakistan. Pada periode tersebut, para misionaris dengan berkedok organisasi pemberi bantuan internasional dari berbagai negara Eropa dan AS, berdatangan ke Pakistan. Mereka berusaha keras agar bisa mempengaruhi rakyat Afganistan dengan memanfaatkan kemiskinan dan ketidakberdayaan mereka. Ribuan naskah Injil dan buku-buku propaganda Kristen lainnya disebarkan di antara para pengungsi Afghanistan agar mereka tertarik kepada ajaran Kristen. Namun, aktivitas para misionaris itu tidak mencapai keberhasilan karena ikatan yang kuat antara rakyat Afghan dengan agama dan keyakinan mereka, serta usaha para ulama dan kelompok Mujahidin Afghanistan untuk memberikan penerangan kepada rakyat tentang tujuan para misionaris itu.

Dimulainya perang internal antara kelompok Mujahidin dengan kelompok Thaliban, yang berhasil menguasai pemerintahan di Afghanistan, menambah penderitaan rakyat. Kelompok Thaliban yang bersikap kasar dan keras sekaligus menerapkan politik yang kaku dan ketat atas nama Islam, telah membuat kehidupan rakyat Afghan sangat tertekan. Kesempatan ini digunakan para misionaris Barat untuk menyebarluaskan ajaran dan budaya Kristen, kembali dengan berkedok organisasi pemberi bantuan internasional. Menyusul adanya serangan dan pendudukan AS di Afghanistan, para misionaris semakin leluasa melakukan aktivitasnya karena mendapatkan perlindungan dari para tentara AS.

Perlu disebutkan pula, organisasi pemberi bantuan AS, biasanya terdiri dari kelompok-kelompok yang beraliran ekstrim Kristen-Zionis. Kelompok ini memiliki pengaruh besar di Gedung Putih dan merupakan pendukung politik konfrontatif AS, di antaranya invasi ke Irak dan Afghanistan. Menyusul invasi AS ke Irak, puluhan organisasi misionaris dengan berlindung di balik nama organisasi pemberi bantuan, telah dikirimkan ke Irak. Beberapa waktu yang lalu, harian “Independent” terbitan London menurunkan sebuah makalah karya Andrew Campbell. Ia menulis, “Delapan ratus orang misionaris Kristen dengan dalih menyebarkan bantuan makanan, telah berangkat ke Irak untuk menyebarluaskan ajaran Kristen. Kelompok ini berencana untuk membagi-bagikan Injil yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Mereka ini datang dari kelompok-kelompok Kristen yang sangat anti Islam.”

Dengan kehadiran tentara AS di Irak, bukan hanya para misionaris yang mendapat kesempatan untuk beraktivitas di Irak. Orang-orang Yahudi pun tidak ketinggalan untuk berusaha menarik pendukung dari kalangan orang-orang Irak. Kelompok Yahudi ini berusaha menyebarluaskan pemikiran mereka dengan membagi-bagikan Taurat. Beberapa waktu yang lalu, beberapa media massa Turki melaporkan penahanan sekelompok orang oleh badan keamanan Turki di dekat perbatasan Turki dan Irak. Mereka saat itu tengah berusaha untuk membawa ribuan jilid Taurat ke Irak.

Usaha para misionaris Yahudi untuk menyebarluaskan Taurat di Irak ini bisa kita tinjau dari keyakinan mereka mengenai tanah yang dijanjikan Tuhan bagi orang-orang Yahudi. Dalam keyakinan mereka yang salah tersebut, Irak merupakan bagian dari tanah yang dijanjikan itu. Sebagaimana yang diberitakan, pemerintah AS berencana untuk membagi-bagi kawasan Irak dan mengubah kebudayaan kawasan utara Irak. Oleh karena itu, penyebaran Taurat memiliki peran dalam mencapai tujuan tersebut.

Masuknya para misionaris ke Afghanistan dan Irak, menyusul invasi AS ke kedua negara ini, merupakan sebuah fakta yang perlu dibahas lebih lanjut. Sebagaimana yang ditulis oleh majalah Time, dari tiap dua orang misionaris yang dikirim oleh Barat ke negara-negara muslim, salah satunya adalah warga negara AS. Mereka dengan berbagai cara berusaha untuk menarik perhatian rakyat miskin. Mereka memberikan obat-obatan kepada anak-anak dan menyediakan vaksin untuk hewan ternak. Mereka juga mengajak rakyat miskin itu untuk ikut serta dalam upacara doa Kristiani mereka. Semua itu dalam rangka mengubah kaum muslimin menjadi pemeluk Kristen.

Sumber: http://irib.ir/

Orde Baru, Freemason dan Pater Beek

Posted in Buka Mata, FOKUS, Pengrusakan Budaya by pedanglangit on 10 Maret 2009

35 Tahun Sejarah Latar Belakang Politik dan Intelejen Indonesia di bawah Soeharto (Orde Baru)
John Helmi Mempi – Umar Abduh

BANGSA Indonesia memiliki catatan sejarah perjalanan budaya dan peradaban politik kemanusiaan yang gelap dan kelabu. Setelah republik berada di bawah rezim militeris Orde Baru Soeharto, yang dikenal dengan kebijakan politik destruktif atau program dekonstruksi terhadap masyarakat dan bangsanya sendiri selama kurun waktu tiga dasawarsa.

Seperti diketahui, sejarah perjalanan politik dan kekuasaan rezim Orde Baru menggelar sistem kekuasaan tirani (diktator-otoriter) menerapkan rekayasa dan kekerasan yang kejam atas bangsa ini. Dimulai sejak awal peralihan kekuasaan republik ini terjebak dalam tiga skenario besar yang secara tidak langsung merupakan program berorientasi pada agenda politik Barat. Disebut demikian karena situasi dan kondisi sistem politik, sosial-ekonomi Indonesia saat itu boleh dikata sedang luluh-lantak, berantakan akibat tekanan Barat. Setelah berhasil menggulingkan Soekarno, Soeharto sukses memanfaatkan peluang dan kesempatan menapak untuk membangun kekuatan dan kekuasaan rezim militeristik.

Rezim militer Orde Baru menggelar kebijakan politik yang dikondisikan bagi keperluan masa depan politik, ambisi kekuasaan sekaligus menyesuaikan posisi Indonesia sebagai agen strategis kepentingan Barat (Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya). Sangat disadari penyesuaian politik kepentingan dan kebijakan strategis tersebut dilatari pengaruh politik-ideologi global, yaitu kekuatan Barat yang sekuler pro kapitalis. Penyesuaian terhadap kepentingan Barat tersebut dilakukan Orde Baru dengan tujuan pragmatis, demi berlangsungnya kekuasaan sekaligus memperoleh bantuan militer, pangan serta utang yang berlanjut hingga sekarang. Program penyesuaian tersebut adalah membangun ideologi pro1 dan secara tidak langsung menjadi kapitalistis dan anti Komunis sekaligus anti Islam melalui nasionalisme sempit ideologi Pancasila seraya merintis program destruksi-dekonstruksi terhadap peta kekuatan politik yang cenderung berkiblat kepada Demokrasi dan Islam.

Berdasarkan kenyataan sejarah budaya dan peradaban politik 35 tahun di bawah rezim Orde baru mengindikasikan adanya grand schenario yang dijalankan rezim Soeharto sejak tampil ke permukaan antara lain:

1. Menggelar politik rekayasa intelejen dalam rangka stigma (pembusukan, pemojokan sekaligus mendistorsi) terhadap peta kekuatan Islam, antara lain menghidupkan gerakan neo NII melalui Ali Murtopo. Dimulai sejak tahun 1966 2 era hegemoni militer yang loyal dan berideologi militer Soehartois – Ali Murtopois terus belanjut dan gentanyangan hingga sekarang. Seluruh rekayasa intelejen Negara rezim Orde Baru dilakukan dalam rangka menjalankan pembusukan terhadap peta kekuatan gerakan Islam melalui provokasi dan adu domba, baik dalam partai atau organisasi maupun antar golongan, antar agama sekaligus menjebak masyarakat muslim masuk dalam jaringan aksi kekerasan teror, ekstremisme, radikalisme dan makar. 3

2. Menggelar kebijakan politik buka pintu bagi masuknya sentimen, kepentingan dan kekuatan politik barat yang pro-kapitalis dan sekuler (di bawah kordinasi jaringan Freemasonry, Jessuit dan sebagainya) yang oleh kalangan Islam dianggap sebagai bagian dari program Kristenisasi di Asia Tenggara. Kecurigaan terhadap program ‘Kristenisasi‘ itu timbul akibat dominasi para politisi dan para perwira berlatar belakang Kristen, terutama kalangan Katholik, yang menempati posisi strategis dalam jajaran birokrasi Golkar sebagai partai penguasa, dan jajaran militer Indonesia, serta dominannya think tank Golkar, CSIS (Centre for Strategic and International Studies) sebagai ‘pemerintah bayangan’ dan merupakan kepanjangan tangan intelejen CIA, MI-6, Mossad dan Belanda maupun untuk kepentingan jaringan Freemasonry, Katholik ordo Jessuit dan sebagainya yang berlangsung selama dua dasawarsa pertama pada era kepresidenan Soeharto dan terus berlanjut hingga kini. 4

3. Menggelar budaya politik totalitarian, melalui konsep Dwifungsi ABRI dan budaya demokrasi Pancasila-nasionalisme sempit, ekstrim dan otoriter –yang dikemas dalam konsep asas tunggal Pancasila / UUD’45 sebagai satu-satunya konsep ideologi sebagai sumber hukum dan tata nilai bangsa Indonesia. Sebuah konsep dan obsesi penyelenggaraan sistem nasionalisme dalam bentuk Negara totaliter yang sekaligus dinyatakan demokratis dan humaniter. 5

Dengan ketiga pilar inilah sinergi kekuasaan sipil, militer dan intelejen berhasil digelar Orde baru menjadi sebuah kekuatan dan kekuasaan yang berwujud sistem dan kelembagaan yang luar biasa, kuat dan stabil. Konsep Dwifungsi ABRI selanjutnya diisi dengan nafas militerisasi build-in melalui dua wajah yaitu Dwifungi teritorial dan struktural. Dwifungsi teritorial terwujud dalam bentuk struktur birokrasi sipil dan militer yang hirarkis dan pararel dari pemerintah pusat, propinsi, kabupaten/kota, kecamatan sampai kelurahan/desa. Mendagri adalah pengendali hirarki birokrasi sipil yang bertanggungjawab kepada presiden. Pararel dengan hirarki birokrasi sipil adalah hirarki militer dari Dephankam/Mabes TNI, Kodam, Korem, Kodim, Koramil dan Babinsa. Menhankam dan Panglima TNI adalah pengendali utama hierarkhi militer yang bertanggung jawab hanya kepada presiden.

Dwifungi skruktural yang hadir dalam bentuk kekaryaan TNI/Polri atau keterlibatan mereka dalam jabatan sipil, sehingga hampir semua jabatan sipil yang strategis dimasuki militer, baik di wilayah eksekutif (dari gubernur sampai dengan lurah/ kepala desa) maupun legislatif (MPR, DPR sampai DPRD II). Dalam birokrasi sipil terdapat pula Ditjen Depdagri, Ditsospol dan Kantor Sospol sebagai aparat intelejen sipil dan aparat ideologis untuk melakukan indoktrinasi kepada masyarakat dan regulasi terhadap aktivitas politik dan sosial. Militer selalu nimbrung dalam pengendalian pemerintahan sampai di tingkat kabupaten dan kecamatan. Mereka tampil melalui forum Muspida yang terdiri dari Bupati, Dandim, Kapolres, Kajari, dan Kepala Pengadilan, di tingkat kecamatan melalui forum Muspika yang memberi ruang bagi Danramil dan Kapolsek untuk ikut mengontrol pemerintah dan rakyat.

Dwifungsi ABRI tidak hanya merambah bidang politik dan kemasyarakatan, tapi sampai bidang ekonomi. Salah satu bentuk konkretnya berupa “premanisme”. Dwifungsi ABRI menjadi ancaman dan penghalang serius bagi demokratisasi keamanan dan bahkan stabilitas sosial-politik. Analisis ini bertolak belakang dengan ideologisasi Dwifungsi ABRI yang mengandaikan ABRI sebagai stabilisator dan dinamisator. Meski pada masa Orde Baru stabilitas nasional relatif mapan, tapi bersifat semu karena lebih kuatnya budaya rekayasa politik dan intelejen diikuti dengan matinya demokrasi, merajalelanya kekerasan, dan kuatnya supremasi militer, sementara elemen-elemen sipil dalam posisi lemah.

Dengan program inilah antara kebijakan politik pemerintah, intelejen dan militer maupun pelaksana politik di lapangan menjadi tidak bisa dibedakan. Apalagi setelah program tersebut diterapkan sampai ke tingkat Koramil-Babinsa (Badan Pembinaan Desa) dan Polsek-BINMAS (tingkat Kecamatan). Di bidang keamanan, kehadiran militer terlihat dalam realitas melembaganya intervensi Sistem Hankamrata. Semua elemen masyarakat lokal dipaksa terlibat dalam pemeliharaan keamanan dan pertahanan di wilayah masing-masing di bawah “pembinaan” polisi dan tentara. Pembentukan Babinsa, Binkamtibmas, Hansip, Kamra maupun Siskamling merupakan perwujudan dari sistem Hankamrata. Intervensi Hankamrata telah membentuk pola hubungan antara masyarakat dan “militer/polisi” dalam mengelola masalah keamanan dan meciptakan pola ketergantungan masyarakat terhadap militer/polisi di bidang keamanan dan politik serta ekonomi.

Di sini tentara dan polisi menjadi terlibat dalam penanganan masalah keamanan desa. Dalam kesadaran semu warga masyarakat, tentara dan poIisi tidak berbeda jenis profesinya, tetapi hanya berbeda tingkat semata, Polisi menangani masalah keamanan yang bersifat mikro atau masalah kriminal kecil, sedangkan tentara menangani keamanan yang bersifat makro, seperti keributan massa dan yang bersifat instabilitas sosial-poIitik di desa. Polsek melakukan pembinaan siskamling sekaligus meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan keamanan warga. Koramil dan Babinsa berkutat dengan kewaspadaan terhadap kelompok yang membahayakan negara seperti bekas anggota DI-TII atau Muslim Fundamentalis (ektrem kanan) dan PKI (ektrem kiri). Pembinaan militer/tentara terhadap warga desa dalam hal keamanan berdampak melemahnya kesadaran hak dan tanggungjawab mereka dalam menangani masalah yang sebetulnya dapat diselesaikan oleh mereka sendiri.

Strategi Campur Tangan Politik Freemasonry dan Gerakan Katholik Ordo Jessuit Dalam Politik Orde Baru

Konspirasi kekuatan politik dan ideologis antara rezim Suharto dengan kekuatan Barat (Amerika Serikat, Inggris dan Israel) antara lain ditempuh dengan cara menggandeng dan mengakomodir masuknya organisasi Zionis FREEMASONRY dengan membangun eksistensi jaringan, peran, keterlibatan dalam pembangunan Indonesia – orde baru.

Zionis FREEMASONRY sendiri, sejak awal kemerdekaan bangsa Indonesia dan berdirinya NKRI tahun 1945 mampu menempatkan posisinya secara taktis strategis di hadapan kekuatan Islam yang mayoritas. Melalui semangat nasionalisme yang dimiliki Sukarno, kekuatan dan agen FREEMASON Indonesia mampu memaksakan diplomasi politiknya terhadap tokoh-tokoh (politisi) Islam kepada satu keadaan, yaitu memberikan toleransi dan kompromi terhadap tuntutan FREEMASON untuk menerima konsep NKRI.

Selanjutnya pengaruh nilai filosofis FREEMASONRY terhadap NKRI, Dasar Negara, Konstitusi Negara dan lambang Negara maupun Bendera Negara yang menggelar semangat aliran “Humanisme Sekuler” yang secara strategis, gencar dan berkelanjutan ditancapkan kedalam pola pikir dan pemahaman di lingkungan politisi, birokrat, intelejen dan militer akhirnya berhasil mengungguli dan menggeser semangat “Spiritualisme” sebagaimana yang dimiliki politisi Islam.

Melalui ajang dan momentum kerjasama dalam hal pembinaan intelejen dan kemiliteran dengan CIA (Amerika Serikat) MI-6 (Inggris) MOSSAD (Israel) dan Belanda rekrutmen jaringan agen FREEMASONRY terhadap tokoh dan kader intelejen / militer Indonesia berjalan dan mengakar.

Tindak lanjut dari pergeseran falsafah, paham dan makna Revolusi, Kemerdekaan, NKRI, Dasar Negara, Konstitusi Negara dan lambang Negara maupun Bendera Negara dari Islam ke Sekuler di zaman orde lama Sukarno, dan pengaruh kekuatan FREEMASONRY semakin memperkuat dan mempertegas, baik dalam hal kepentingan maupun eksistensi jaringannya.

Di era orde baru Suharto, FREEMASONRY turut berhasil mengendalikan jalannya kekuasaan rezim Suharto melalui kader-kader FREEMASONRY yang berjubah ordo Jesuit, di bawah Frater Beek. Menurut penuturan beberapa mantan intel senior baik yang berlatar sipil maupun Angkatan Darat dan mantan kader Beek, Suharto sendiri diyakini sejak masih menjadi perwira menengah sudah menjadi anggota FREEMASONRY jalur Belanda Frater Beek SJ, 6 sehubungan dengan posisi sang istri, Tien Suhartinah yang lebih dahulu direkrut dan menjadi ummat Katholik ordo Jessuit.

Sejak berpangkat pamen, Suharto telah menjalin hubungan dengan Liem Sioe Liong dan nama-nama lain yang akhirnya berperan menjadi agen FREEMASON yang berjubah Lions Club dan Rotary Club.

Ketika krisis politik di Indonesia di bawah Sukarno memanas, baik akibat komunisme maupun provokasi Inggris terhadap Malaysia, kader-kader FREEMASON yang ada di militer dan dinas intelejen Indonesia seperti Soeharto, Yoga Sugama, Ali Murtopo, Soedjono Humardani, Pitut Suharto, Benny Murdani dan Hendropriyono justru menjalankan agenda politik CIA.

Kegagalan missi politik, militer dan intelejen Indonesia di Kalimantan Barat (PGRS/Paraku) bentukan BPI di bawah Subandrio dalam rangka berkonfrontasi dengan Malaysia justru merupakan kemenangan telak para jenderal FREEMASON Indonesia. Giliran selanjutnya, atas bantuan dan petunjuk CIA, para agen FREEMASON Indonesia merancang skenario bagi penggulingan Sukarno sekaligus memberangus tokoh-tokoh dan organisasi komunis di Indonesia.

Setelah berhasil menjalankan skenario pemberontakan PKI, dan para jenderal kader FREEMASON tersebut secara leluasa merancang berbagai program konspirasi dengan agen FREEMASON yang sudah disiapkan sejak lama di Indonesia seperti melalui organisasi gereja Katholik seperti ordo Jessuit, ordo Carmel dan sebagainya, demikian halnya dengan organisasi gereja Protestan seperti Bethani, Al-Shadday dan Nehemia.

Dari sinilah konspirasi kekuatan politik dan ideologis Katholik Jessuit di bawah Frater Jopie Beek SJ dengan militer di masa Orde Baru di bawah Soeharto, berhasil membangun dikotomi, semangat kebencian dan permusuhan yang mendalam antara kekuatan ideologi, massa dan komunitas politik Islam dengan Kristen (Katholik dan ordo-ordo yang dimilikinya, Protestan dan ordo-ordo yang dimilikinya dan lain sebagainya).

Posisi dan sikap kekuatan politik ideologi Katholik ordo Jessuit yang dimotori Frater Jopie Beek SJ yang telah menempatkan diri sebagai pihak yang anti (menentang dan memusuhi) kekuatan politik ideologi Islam, dimanfaatkan dengan baik oleh pihak militer Orde Baru sebagai ajang latihan sekaligus praktek operasi intelejen. Modal konspirasi dengan kalangan Katholik Jesuit selanjutnya diimbangi dengan gelar konspirasi dengan kekuatan ideologi Islam gerakan politik berlatar konstitusional (masyarakat partai Masyumi) dan yang berlatar politik inkonstitusional dan konfrontatif (masyarakat gerakan fundamentalis Negara Islam Indonesia dan yang sejenis).

Konspirasi terhadap dua kekuatan ideologi dan politik keagamaan yang bertentangan tersebut membawa implikasi terhadap prinsip baku bagi kinerja dan operasi intelejen Indonesia. Frater Jopie Beek pun ternyata sepakat terhadap kiat dan modus provokasi terhadap bahaya Islam bagi kaum minoritas Katholik, Protestan dan sebagainya, demikian pula sebaliknya provokasi dan agitasi pihak militer dan intelejen terhadap kalangan Islam.

Dalam perkembangannya, militer dan operasi intelejen memberikan proteksi serta kemudahan terhadap program Kristenisasi dan berbagai hal yang dapat menyulut rasa benci dan kecewa kalangan Muslim. Terhadap kalangan muslim, militer dan intelejen membeberkan semangat anti Islam dari kalangan Katholik Jesuit yang sangat pro dan mampu mengendalikan militer dan Orde Baru dengan segala rencananya, baik jangka pendek dan jangka panjang. Bahan permainan inilah yang akhirnya menjadi trade mark gaya penetrasi dan infiltrasi intelejen terhadap berbagai gerakan yang hendak dijaring, dikendalikan dan kelak pasti dihancurkannya.

Frater Jopie Beek SJ Menurut George Junus Aditjondro (Mantan kader Beek, dalam organisasi Jessuit Indonesia – Kasebul)

Pada awal Orde Baru, komunitas Katholik di Indonesia sangat berada di bawah pengaruh pemikiran dan sikap politik Pater J. Beek, seorang Jesuit berkebangsaan Belanda yang sangat anti Komunis dan anti Islam, sudah memimpin Kursus Kader Katholik (KKK) sejak sebelum keberhasilan kudeta militer di bawah pimpinan Soeharto tahun 1965-1966.

Beek juga berperan dalam menaikkan Soeharto ke kursi kepresidenan tahun 1968 dengan salah satu sebab adalah istri Soeharto (Tien) beragama Katholik. Sejak kemunculan Soeharto, Beek berhasil mendekatkan diri dengan sang jendral melalui dua orang Asisten Pribadi Soeharto, yakni Jendral Ali Murtopo dan Jendral Soedjono Hoemardani, masing-masing didampingi oleh Yusuf dan Sofyan Wanandi, dua orang kader Pater Beek.

Kedekatan Beek dengan tentara didasarkan pada strategi ‘pilihlah yang terbaik di antara yang jelek’ (minus malum) yang dianutnya, disebarkannya di kalangan kader-kader organisasi-organisasi massa Katholik di Indonesia. Setelah gerakan Komunis di Indonesia dihancurkan tentara, berdasarkan catatan sejarah, Beek melihat ada dua ancaman yang dihadapi kaum Katholik di Indonesia. Kedua ancaman itu sama-sama berwarna hijau, yaitu Islam dan militer. Namun Beek yakin, ancaman militer bisa dinilai lebih kecil (minus malum) dibandingkan dengan ancaman gerakan politik Islam, karena PKI dalam sejarahnya ternyata dibentuk oleh anggota Syarikat Islam.

Berdasarkan pikiran itulah Beek merangkul tentara melalui program KASEBUL (Kaderisasi Sebulan/Kawan Sebulan) dan program Teologi Pembebasan bagi kader-kader Katholik di daerah Jogjakarta, Salatiga, Semarang dan Jakarta Timur. Pembentukan Golkar dan ormas-ormas yang berafiliasi ke Golkar, selama dasawarsa pertama Orde Baru didominasi kader-kader didikan KKK dan Kasebul, yang diarahkan oleh CSIS (Centre for Strategic and International Studies).

Gereja Katholik menerapkan strategi “satu mata uang dengan dua sisi yang berbeda”. Di satu kelompok Jesuit, Beek menerapkan politik anti komunis dan anti Islam, di kelompok yang lain Beek menerapkan strategi merangkul kelompok kiri dan bersahabat dengan kelompok Islam. Umumnya kelompok ini berasal dari ordo PROJO yaitu ordo lokal yang lahir dan berkembang di wilayah pulau Jawa.

Kader-Kader Beek pada tahun 70-an banyak direkrut sebagai anggota OPSUS. Kader-kader Beek yang masih aktif hingga saat ini adalah Frans Magnis Soeseno, Harry Tjan Silalahi, Sofyan Wanandi, Julius Darmaatmadja, dll. Beek terlihat terakhir oleh Kader PRD pada saat latihan militer bersama dengan kelompok Moro dan NPA di Philipina pada tahun 1987.

Di Philipina Beek terlihat aktif membantu mengkosolidasikan kelompok-kelompok Komunis dan Muslim untuk melawan Rezim Marcos. Proses yang dilakukan Beek persis sama dengan proses yang terjadi di Amerika Selatan, di mana gerilyawan-gerilyawan Sandinista dan kelompok kiri lainnya dibentuk dan dibantu pihak Gereja Katholik ordo Jesuit, untuk melawan pemerintah. Organisasi Operasi Jesuit di Amerika Selatan dikenal dengan sebutan organisasi “BLACK POPE”.

Sebenarnya Jesuit bukanlah sebuah Ordo tetapi merupakan sayap militer dari Vatikan terlihat dan dari catatan sejarah sejarah pembentukan Orde Jesuit. Metode KASEBUL adalah metode pelatihan militer, kader-kader tesebut dilatih dan di bawah pengawasan pihak Militer.

Mentor-mentor KASEBUL berasal dari Militer yang beragama Katholik. Menurut pengakuan beberapa anggota KASEBUL Angkatan tahun 90-an, pembukaan kaderisasi dilakukan oleh Benny Moerdani, yang dikenal dengan sebutan “Omm Seram” oleh kalangan Katholik. Beberapa Jendral yang menjadi Mentor KASEBUL di antaranya: Brigjen (Purn) Ingnatius Soeprapto, Mayjen (Purn) Ignatius Pranowo dll.

Strategi untuk memusuhi Islam politik dan bermesraan dengan militer itu sejak awal sebetulnya sudah ditentang banyak rohaniwan dan cendekiawan Katolik, seperti Chris Siner Key Timu yang selanjutnya masuk dalam kelompok Petisi 50, Romo Mangunwijaya yang sangat akrab dengan almarhum Kiai Hamam dari Pesantren Pabelan, Muntilan, dan Jesuit-Jesuit lain, seperti Romo Danuwinata dan Pater Dahler, yang kemudian menyelenggarakan kursus-kursus politik bagi kader-kader gerakan mahasiswa Katholik yang lebih terbuka dan bersikap kritis terhadap militer dan para pemilik modal besar.

Banyak kader dan sahabat Romo Mangun, Romo Danuwinata, dan Pater Dahler terjun aktif dalam aksi-aksi pro-demokrasi di Indonesia sejak dini sampai saat penumbangan rezim Soeharto, mulai dari gerakan anti-Taman Mini tahun 1971 sampai dengan gerakan mahasiswa menentang SI MPR November 1998, di mana sejumlah mahasiswa Unika Atma Jaya gugur. Namun sampai saat Soeharto menyadari bahwa kedekatannya dengan kelompok ‘Katolik kanan’ bahwa strategi itu menjadi duri dalam daging dalam hubungannya dengan gerakan Islam politik di Indonesia, antara Soeharto dan kelompok di seputar CSIS terjadi simbiose mutualistis yang sangat akrab.

Para jendral dan politisi yang termasuk pendukung CSIS akhirnya mudah mendapatkan promosi, para pengusaha yang rajin mendukung kebutuhan keuangan CSIS mudah mendapatkan konsesi-konsesi bisnis, sementara tokoh-tokoh Katolik penentang Soeharto malah dipecat dari lembaga tempat mereka bekerja akibat tekanan aparat negara.

Chris Siner Key Timu, misalnya, dipecat dari kedudukannya sebagai Pembantu Rektor III Unika Atma Jaya Jakarta. Sementara Romo Danuwinata diberhentikan dari Sekretariat MAWI, yang sekarang telah berubah menjadi Kantor Wali gereja Indonesia (KWI), setelah ia aktif mengembangkan pemikiran-pemikiran pedagogi dan teologi pembebasan dari Amerika Latin di Indonesia.

Namun semenjak Soeharto mulai berbulan madu dengan tokoh-tokoh cendekiawan Islam yang terhimpun dalam ICMI, dan menunaikan ibadah Haji, melalui aparat intelejen militer Soeharto mulai memusuhi kalangan CSIS, dan menuduh kedua bersaudara Wanandi, Jusuf dan Sofyan, berkolusi dengan PRD dalam kasus ledakan bom di Tanah Tinggi, Jakarta. 7

Dalam hubungannya dengan dampak moral, politik dan piskologis akibat doktrin Beek terhadap kalangan Katholik yang berkonspirasi dengan militer-Ali Murtopo, Aditjondro juga mengingatkan tentang korelasi kemungkinan tetap berlanjutnya kebijakan militer yang masih menjalankan politik intelejen untuk menciptakan semangat dan mental fundamentalisme, zona dan akar konflik etnis maupun keagamaan dalam masyarakat bangsa Indonesia, George Junus Aditjondro menjelaskan:

Pater Beek memang sudah lama meninggal dunia, dan program kaderisasinya sudah lama mati karena ditinggalkan atau disaingi oleh kalangan Jesuit yang non konservatif maupun oleh tokoh-tokoh awam Katholik lainnya di luar CSIS. Dengan meninggalnya Ali Murtopo, dukungan terhadap CSIS juga semakin memudar, apalagi ketika basis dukungan terhadap Golkar bergeser dari kalangan Katholik ke kalangan HMI, berkat orang-orang seperti Abdul Gafur dan Akbar Tanjung. Walau sejauh ini tidak ditemukan bukti mengenai latihan kemiliteran namun praktek-praktek kaderisasi eksklusif semacam ini, dan prasangka-prasangka penuh bias yang ditularkannya adalah amat buruk, dan bertentangan dengan program penguatan masyarakat sipil. Ini adalah praktek-praktek yang tidak boleh diulangi lagi pada masa yang akan datang. Tidak mengherankan pula jika kursus-kursus kaderisasi yang eksklusif semacam ini tidak mungkin akan digerebek oleh aparatus Negara di era kepemimpinan Jendral Murdani misalnya, karena diselenggarakan dengan sepengetahuan mereka. Menurut data lapangan hal ini dilakukan juga untuk konflik di Poso, Maluku dan rencana mendatang di Pontianak.

Sejumlah kalangan mengatakan, kedekatan Soeharto dengan sejumlah jenderal yang beragama Kristen, khususnya Maraden Panggabean dan Benny Murdani, bukanlah indikator bahwa jenderal-jenderal itu merupakan pimpinan, otak, atau pendukung suatu ‘gerakan fundamentalis Kristen yang ingin mendirikan negara Kristen Raya’. Tapi itu sekedar pilihan politis sang diktator selama dalam dua dasawarsa pertama kekuasaannya, ketika ia menganggap bahwa para perwira dan birokrat yang beragama Kristen merupakan alat pendukung kekuasaannya yang paling setia. Begitu juga anggapan sang diktator terhadap umat yang tergabung dalam gereja-gereja Kristen –baik Katolik maupun Protestan– di Indonesia (sampai sejumlah pimpinan gereja mulai membangkang, seperti kasus HKBP yang sudah disinggung di depan, didahului oleh para pimpinan gereja di Papua Barat dan Timor Lorosae).

Berbagai prasangka bias, bahkan cenderung sesat-pikir mungkin juga dipengaruhi oleh pengamatan yang keliru tentang besarnya peranan gereja dalam perjuangan menegakkan hak-hak asasi manusia di Timor Lorosae dan Papua Barat, apalagi dengan kemerdekaan politik (kemerdekaan ekonomi belum) yang telah dicapai di Tilos. Ini sama sekali bukan indikasi bahwa Tilos telah menjadi “negara Kristen”, khususnya lagi, “negara Katholik”. Anggapan demikian malah menafikan peranan para pemuda Tilos keturunan Arab yang beragama Islam dalam perjuangan kemerdekaan itu, mengikuti jejak Mar’ie Alkatiri, Sekjen FRETILIN yang kini menjadi Perdana Menteri Republik Demokratik Timor Leste (RDTL).

Peranan Gereja Katolik yang cukup menonjol dalam perjuangan kemerdekaan Tilos, terutama dalam dasawarsa terakhir, selain karena figur Uskup Belo, juga didorong oleh faktor politik bahwa hanya rumah ibadahlah dan organisasi agama yang masih dapat beroperasi dengan relatif bebas di masa penjajahan Indonesia, berkat pengakuan adanya agama yang diakui secara resmi, dan juga karena warganegara Indonesia harus memilih satu di antara ke-4 agama yang diakui secara resmi (sekali lagi, Katolik dan Protestan bukan dua agama, tapi dua gereja yang didasarkan pada agama yang sama).

Setelah kemerdekaan politik tercapai peranan politik Uskup Belo langsung merosot, dan juga jumlah orang muda yang menghadiri ibadah di gereja juga merosot drastis. Hampir serupa keadaannya di Papua Barat, di mana berkat dukungannya yang kuat pada hak-hak asasi orang Papua, kedua gereja yang sudah lebih berakar di Tanah Papua, yakni Gereja Katolik dan GKI di Tanah Papua, juga sering dituding sebagai pendukung gerakan Papua merdeka.

Padahal, seperti di Tilos, kemerdekaan juga menjadi aspirasi sejumlah pemuda Papua beragama Islam di daerah Fakfak dan Kepulauan Raja Ampat, yang mengalami Islamisasi oleh Kesultanan Tidore ratusan tahun yang lalu. Sekjen Presidium Dewan Papua, Taha al-Hamid, adalah salah seorang di antara mereka. Namun dengan licik ia sekarang dirangkul Yorris Raweyai, tokoh Papua binaan Cendana, yang berusaha mengempeskan gerakan kemerdekaan itu.

Sekali lagi, tidak pernah ada cita-cita para nasionalis Papua itu untuk mendirikan “negara Kristen Papua”, walaupun nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Kristen tentu saja mengilhami para nasionalis Papua yang memperjuangkan kemerdekaan negeri mereka. Ini semua perlu dibeberkan, untuk menunjukkan tentang betapa menyesatkannya propaganda yang dalam brosur LJ/FAWJ, misalnya, dalam rekrutmen orang-orang muda dari Jawa, yang sangat miskin pengetahuan sejarah tentang berbagai pergolakan di Kepulauan Nusantara bagian Timur, lalu mencekoki mereka dengan sebuah teori konspirasi yang tidak punya dasar ilmiah walau sebesar biji zarrah pun.

Pater Jopie Beek SJ menurut Richard Tanter

Pater Beek, adalah seorang misionaris Jesuit, yang meninggal tahun 1986/1987 (?), Beek menanamkan pengaruh (doktrin) yang cukup kuat di kalangan Katholik, khususnya kalangan Katholik etnis Tionghoa pada periode akhir Demokrasi Terpimpin maupun pada awal Orde Baru; banyak di antara kadernya yang kemudian menduduki pos intelijen. Beek beralih menjadi warga negara Indonesia pada sekitar tahun 1970-an, ketika pemerintahan Orde Baru menawarkan paket yang serupa pada sekitar 50-an misionaris asal Belanda.

Pada sekitar periode ini, ia menanggalkan nama “van” yang diwarisi dari orangtuanya; bahkan mungkin lebih awal lagi. Pengaruh utamanya dijalarkan lewat kursus-kursus yang ia selenggarakan bagi kaum muda Gereja, dengan memanfaatkan dana-dana dari paroki maupun diosis, atau pun bahkan dari sumber-sumber luar negeri (termasuk Australia).

Beek mengawali proyeknya di tahun 1950-an, bersama dengan sejumlah kecil Jesuit lainnya, termasuk Pastor Melchers dan Djikstra; kesemuanya ini yang memiliki pengaruh cukup besar dalam percaturan politik di Indonesia. Di mana masing-masing menata jaringan yang serupa dengan ‘kerajaan’ personal, tetapi dalam wilayah yang berbeda dan tetap saling berkoordinasi.

Secara pribadi, Beek adalah seorang yang menimbulkan kesan kuat, yaitu seorang yang powerful, sanggup menghadirkan visi yang artikulatif, berkenaan dengan peran Gereja dalam masyarakat. Beek Seorang yang menarik dan mudah merebut kepercayaan secara personal. Seorang yang sangat aktif, senantiasa melibatkan dirinya dalam rentang aktivitas yang sedemikian luas.

Pada periode menjelang peristiwa 1965, Beek sudah mengantisipasi soal perebutan kekuasaan oleh kaum Komunis dan ia terlibat dalam persiapan gerakan Katholik bawah-tanah. Dalam periode akhir Demokrasi Terpimpin, Djikstra juga terlibat dalam ormas-ormas Pancasila yang anti-Komunis. Beek dan sekutunya dalam gerakan ini membangun koperasi-koperasi berbasiskan di desa, koperasi simpan-pinjam, bank, dlsb. Tiap jaringan komunitas tersebut memiliki koordinator untuk masalah-masalah social. Partai Katolik Republik Indonesia (PKRI) juga menjadi basis gerakan serta aktivitas kader-kader mereka. Fokus utama Beek adalah pada pelatihan bagi aktivitas-aktivitas semacam itu, dan bukannya keterlibatan secara langsung.

Visi Beek pribadi atas peran Gereja, Gereja harus berperan dalam mengatur Negara kemudian mengalokasikan orang-orang yang tepat untuk bekerja di dalam dan melalui negara. Dalam hal ini ia menuai sejumlah penentangan dari simpatisan Jesuit pada umumnya yang berusaha untuk mengkonstruksi organisasi-organisasi berbasiskan komunitas yang berada di luar negara. Ia juga mendapatkan tentangan dari serikat-serikat lainnya maupun kaum awam yang tidak sepakat dengan akvitas politik Beek yang terlalu mencolok, maupun dukungan Beek atas pemerintahan Soeharto, dan secara lebih khusus lagi atas segmen khusus di dalamnya pada tahun 1970-an, yakni arus OPSUS-GOLKAR.

Bagi Beek, ada dua musuh besar baik bagi Indonesia maupun bagi Gereja adalah Komunisme dan Islam, di mana ia melihat keduanya memiliki banyak keserupaan: sama-sama memiliki kualitas ancaman. Pasca 1965, posisi militant yang anti-Islam digaungkan dengan arus dominan yang berlaku dalam kepemimpinan Angkatan Darat ketika itu. Indonesia yang diidealkan Beek adalah Indonesia yang nasionalistik, non-Islamik, dengan golongan Kristen mendapatkan tempat yang istimewa, sambil mendukung pemerintahan bergaya GOLKAR. Pemihakan semacam ini dibenarkan Beek, dengan dalih sungguh pun banyak kesalahan yang dibuat oleh Soeharto, watak Komunis maupun Islam yang tidak dapat diterimanya, membuatnya tidak bisa memilih lain, selain memberikan dukungan atas the lesser evil.

Keterlibatan aktif Beek pada masa itu secara fisik dalam demonstrasi-demonstrasi di jalan raya Jakarta, sehingga nyaris menyelubungi latar-belakangnya sebagai orang asing. Beek pernah terlibat secara sangat aktif dalam rivalitas pada tahun-tahun sebelum maupun pasca 1965, antara arus kelompok intelijen Katholik dengan arus kelompok PSI yang juga terlibat dalam aktivitas-aktivitas intelijen bawah-tanah (Aktivitas-aktivitas PSI ini juga melibatkan sel-sel yang diasosiasikan satu jaringan dengan Prof. Soemitro, di mana salah-satu anggotanya adalah Soe Hok Gie).

Beek menyelenggarakan kursus-kursus satu-bulanan secara reguler, bagi mahasiswa, aktivis, maupun kaum muda pedesaan. Dengan menghadirkan pastor maupun rohaniwan, sebagai bagian dari program kaderisasi; pelatihan ketrampilan kepemimpinan, kemampuan berbicara di hadapan publik, ketrampilan menulis, ‘dinamika kelompok’, serta analisis sosial.

Dalam prakteknya, kursus-kursus tersebut mengambil model campuran, perpaduan dari teknik-teknik pendidikan Jesuit dan Komunis, berbasiskan disiplin-diri yang kuat. Kursus/pelatihan-pelatihan ini diselenggarakan dengan pendekatan yang amat brutal atas para pesertanya: para calon kader bahkan kerap kali diharuskan saling menghajar/memukul rekan-rekan sepelatihannya sendiri, dihina dengan keharusan merangkak di lantai yang penuh dengan kotoran, sesi-sesi harian yang panjang penuh dengan umpatan/caci-makian, melontarkan kritik atas kelemahan sesama peserta, dibangunkan secara mengejutkan di tengah malam buta.

Setelah hari-hari yang melelahkan, dalam jam tidur yang amat pendek, dan lain sebagainya, hasil akhirnya adalah: menjadi seorang kader yang sepenuhnya setia, patuh kepada Beek secara personal; menjadi orangnya Beek seumur hidup, yang bersedia melakukan apa saja baginya. Ketika para kader itu dipulangkan ke habitat asalnya, orang-orang muda ini kemudian diminta untuk menghasilkan laporan bulanan atas segala hal yang mereka dengar, lihat di dalam organisasi masing-masing, yang dilakukan untuk Beek dan demi Beek seorang. Secara bertahap Beek membangun untuk kepentingan dirinya, sebuah jaringan-kerja intelijen personal. Bagi pimpinan-pimpinan Gereja yang mendukung program Beek, maka hasilnya tentu akan memuaskan.

Pada akhir tahun 1960-an, Beek mendapatkan tugas untuk melatih guru-guru di Irian Jaya, sebuah wilayah dengan mayoritas Kristen, dalam rangka mempersiapkan voting bagi penentuan nasib Irian Jaya. Dalam hal ini, maupun dalam sekian banyak aktivitas lainnya pada periode ini, Beek amat erat terlibat dengan OPSUS-nya Ali Moertopo; 8 khususnya melalui Center for Strategic and International Studies (CSIS), beserta dengan dua pengikutnya utamanya: Harry Tjan Silalahi dan Jusuf Wanandi (Liem Bian Kie). Sepanjang periode ini secara reguler Beek mensirkulasikan paket dokumen yang berisikan laporan-laporan berkenaan dengan peristiwa maupun aktivitas-aktivitas tertentu, beserta paket analisis sosial, dan garis aksi/tindakan yang perlu dijalankan.

Sementara Beek mungkin tidak memiliki keterlibatan personal dalam aspek-aspek yang lebih teknis dalam aktivitas OPSUS pada masa itu, namun logika dari posisi yang dipropagandakannya, secara tidak langsung telah mendatangkan kebutuhan, jika perlu menerabas batasan-batasan hukum (melanggar hukum) demi mencapai tujuannya. Metode-metode yang diperkenalkannya selama kursus kaderisasi tentu mendorong para kadernya untuk menghalalkan pendekatan “dengan cara apa pun demi [tercapainya] tujuan” dalam politik.

Betapa pun, setidaknya ada satu klaim serius bahwa Beek mungkin memiliki keterlibatan dengan para pembuat plot utama peristiwa Gestok 1965. Wertheim9 melaporkan bahwa Beek: “menyampaikan pada seorang sahabatnya beberapa bulan sebelum meletusnya peristiwa Gestok, bahwa ia merasa amat berat hati meninggalkan Indonesia untuk sementara waktu karena alasan kesehatannya, karena ia yakin bahwa sebuah peristiwa yang mirip dengan pengulangan Peristiwa Madiun (1948) akan segera terulang lagi, dalam skala yang lebih besar, yang akan berakhir dengan kekalahan mutlak PKI.”

Aktivitas semacam ini ternyata tidak pernah mendapat pujian secara menyeluruh dalam kalangan Gereja di Indonesia, dan khususnya menjelang akhir hidupnya, Provincial Jesuit beserta para pimpinan Gereja lainnya justru berupaya menyingkirkan dia. Namun agaknya hierarki Gereja pun mengalami kesukaran untuk menindak Beek, walau pun ia berhasil dipaksa untuk kembali ke Belanda. Salah seorang kolega Beek ada yang mengomentari, “Di tataran teori gagasan-gagasan Beek boleh-boleh saja, namun dalam tataran praktek ia menjadi kotor”. 10 Pengaruhnya kini terbukti dalam pandangan-pandangan pro-GOLKAR dari sejumlah anak-didiknya, yang kemudian menduduki posisi berpengaruh di Gereja.

Secara reguler Beek juga berkunjung ke Australia dan bekerja dengan pimpinan National Civic Council, B.A. Santamaria. Sejumlah pendanaan Beek agaknya juga datang dari sumber-sumber luar negeri yang bersimpati seperti itu. Setidaknya sebagian dari kontak-kontak pra-1975 antara intelijen Indonesia dan Australia atas Timor (walau bukan berarti seluruhnya) agaknya berasal dari jalur yang satu ini.

Seorang adik kandung Jusuf Wanandi, Pastor Markus Wanandi, S.J. dari Semarang, yang juga didikan Beek dengan ‘cetakan’ yang serupa di atas. Salah satu mata-rantai yang menarik berkenaan dengan kisah sepak-terjang Beek ini adalah kenyataan bahwa ia adalah pastor yang memberikan pemberkatan pernikahan W.S. Rendra dengan istri pertamanya. 11

PENGAKUAN KOES BERSAUDARA DI BAWAH KORDINASI DAN PEMBINAAN INTELEJEN -

Harian KOMPAS MINGGU edisi 30 Mei 2004 – LEBIH JAUH DENGAN KOES BERSAUDARA
Di Penjara Glodok

Episode ini, sudah banyak diungkap media massa. Tanggal 29 Juni 1965 personel Koes Bersaudara ditangkap dan ditahan di Penjara Glodok, yang kini dikenal sebagai kompleks pertokoan itu. Alasannya, mereka dijebloskan ke penjara karena menggelar musik yang “ke-Barat-Barat-an”, yang dianggap tidak sesuai dengan kebijakan politik pada masa itu. Nomo sempat menuturkan, bagaimana kisah hidup mereka di balik terali besi selama tiga bulan. Ada tahanan yang iba terhadap mereka, namanya Oom Ging. Si oom ini iba melihat jatah makanan anak-anak ini. “Oom Ging lalu memberi sayuran yang ditanam sendiri. Belakangan saya tahu, tanaman itu diberi pupuk dari kotoran Oom Ging sendiri. Waduh…,” cerita Nomo sambil tertawa.

Yang tidak banyak diketahui orang, seperti dituturkan Yok Koeswoyo, sebenarnya mereka dimasukkan penjara pada masa itu sebagai bagian untuk menjadikan Koes Bersaudara sebagai intelijen tandingan (counter intelligence) di Malaysia. Saat itu, Indonesia sedang berkonfrontasi dengan Malaysia.

“Zaman dulu ada KOTI (Komando Operasi Tertinggi). Kami direkrut oleh beliau-beliau, komandannya Kolonel Koesno dari Angkatan Laut. Dibikin seolah-olah pemerintah yang ada tidak senang sama kami, lalu kami ditangkap. Dalam rangka ditangkap inilah kami nanti secara diam-diam keluar dan eksodus ke Malaysia. Di sana kami dipakai sebagai counter intelligence. Namun, pas keluar dari penjara pada tanggal 29 November, meletus G30S,” cerita Yok.

Jadi masuk penjara itu hanya sebuah jalan menuju fase berikutnya?

“Ya, jadi dibentuk opini seolah-olah kami tidak suka pada Soekarno,” jawab Yok.

Waktu masuk penjara ada perasaan menyesal atau tidak?

“Tidak, kita menyadari itu kok.”

Ini tak pernah terungkap ya?

“Ya, selama ini kita selalu rapet. Kami ikut menjaga rahasia negara. Di KOTI itu kami masuk D3, kami bisa dibangunkan, tapi bisa juga ditidurkan.”

Hal sama, katanya dilakukan kelompok ini di paruh pertama tahun 1970-an (sebelum Timor Timur bergabung menjadi wilayah Indonesia, atau ada pula yang menyebut sebagai proses aneksasi), untuk Timor Timur. Dalam rangka “proyek politik” ini, katanya lahir lagu semacam Diana (lagu itu bercerita mengenai putri petani, bernama Diana. Perhatikan, Diana adalah nama yang tidak umum untuk petani di Jawa.) Ingat juga lagu Da Silva.

Anda masuk ke Timor Timur ?

“Kami berangkat ke sana. Kami bikin pertunjukan di gedung. Waktu menuju Hotel Turismo, ada orang Timur yang mendekat dan menggedor-gedor mobil kami sambil berteriak-teriak, ’Viva Presidente Soeharto!’ Waktu kami pulang dari Timor Timur kami disambut sama Adam Malik di Tanah Abang,” ucap Yok. (Markas CSIS, Tanah Abang – red.)

Seru ya….

“Setelah mengalami itu semua, nasionalisme kami tambah tebal. Itu makanya ada lagu Nusantara I, II, dan seterusnya.”

FOOTNOTE

  1. Ideologi pro bukan ideologi independen sebagaimana falsafah Pancasila hasil olah pikir Soekarno Founding Fathers Republik Indonesia.
  2. Masuknya sentimen, kepentingan dan kekuatan politik barat yang pro-kapitalis dan sekuler (Salibis Vatikan dan Zionis) yang mengemban program kristenisasi ke Asia Tenggara, dalam rangka menciptakan perimbangan terhadap peta kekuatan ideologi Islam. Di antaranya melalui aksi campur tangan yang berlanjut dengan tindakan aneksasi terhadap wilayah Tim-Tim yang mayoritas Katholik dan secara resmi masih berstatus jajahan Portugal ke dalam NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) pada tahun 1976 kemudian direkayasa secara tidak jelas alasannya sebagai politik integrasi yang tak terelakkan bagi Indonesia. Selain itu orde baru didikte untuk menggelar aksi penangkapan dan pemberangusan secara tidak serius terhadap gerakan separatis Papua Merdeka. Operasi intelejen busuk orde baru terhadap dua kasus tersebut secara langsung atau tidak langsung sebenarnya sekaligus berfungsi untuk menipu dan menghibur serta menunjukkan kepada masyarakat tentang betapa besar sikap nasionalisme dan keberpihakan pemerintah atau negara kepada ummat muslim. Selebihnya kebijakan tersebut adalah untuk memicu bagi munculnya sentimen agama di kalangan kristiani Internasional sekaligus membangun serta menyebarkan semangat dan kekuatan fundamentalisme kristen di seluruh wilayah Indonesia. Dan kini potensi kekuatan fundamentalisme kristen di Indonesia secara terselubung atau bahkan nyata-nyata telah berada di bawah kontrol dan sponsor penuh, kepentingan serta pengaruh politik Barat (Salibis-Zionis) antara lain Belanda, Australia dan persemakmuran Inggris dan Amerika beserta agen-agennya di Asia seperti Singapore, Jepang, Taiwan, Fillippine dan Timor Leste.
  3. Tokoh Intelejen Orde Baru sekelas Gembel Sediono, mantan bawahan Ali Moertopo memberikan apresiasi unik terhadap Islam dan kekuatan politik Islam, beliau berpendapat: Agama yang paling baik itu Islam, yang mengajarkan konsep demokrasi di dunia ini Islam, yang konsisten dengan konsep demokrasi juga Islam. Tapi Islam tidak boleh hidup di Indonesia. – Dialog dari hati ke hati dengan Tim CeDSoS, Juni 2004, di kediaman Bapak Gembel Sediono. Cipete – Jaksel
  4. Masuknya sentimen, kepentingan dan kekuatan politik barat yang pro-kapitalis dan sekuler (Salibis Vatikan dan Zionis) yang mengemban program kristenisasi ke Asia Tenggara, dalam rangka menciptakan perimbangan terhadap peta kekuatan ideologi Islam. Di antaranya melalui aksi campur tangan yang berlanjut dengan tindakan aneksasi terhadap wilayah Tim-Tim yang mayoritas Katholik dan secara resmi masih berstatus jajahan Portugal ke dalam NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) pada tahun 1976 kemudian direkayasa secara tidak jelas alasannya sebagai politik integrasi yang tak terelakkan bagi Indonesia.
  5. Selain itu orde baru didikte untuk menggelar aksi penangkapan dan pemberangusan secara tidak serius terhadap gerakan separatis Papua Merdeka. Operasi intelejen busuk orde baru terhadap dua kasus tersebut secara langsung atau tidak langsung sebenarnya sekaligus berfungsi untuk menipu dan menghibur serta menunjukkan kepada masyarakat tentang betapa besar sikap nasionalisme dan keberpihakan pemerintah atau negara kepada ummat muslim. Selebihnya kebijakan tersebut adalah untuk memicu bagi munculnya sentimen agama di kalangan kristiani Internasional sekaligus membangun serta menyebarkan semangat dan kekuatan fundamentalisme kristen di seluruh wilayah Indonesia. Dan kini potensi kekuatan fundamentalisme kristen di Indonesia secara terselubung atau bahkan nyata-nyata telah berada di bawah kontrol dan sponsor penuh, kepentingan serta pengaruh politik Barat (Salibis-Zionis) antara lain Belanda, Australia dan persemakmuran Inggris dan Amerika beserta agen-agennya di Asia seperti Singapore, Jepang, Taiwan, Fillippine dan Timor Leste.
  6. Masuknya sentimen, kepentingan dan kekuatan politik barat yang pro-kapitalis dan sekuler (Salibis Vatikan dan Zionis) yang mengemban program kristenisasi ke Asia Tenggara, dalam rangka menciptakan perimbangan terhadap peta kekuatan ideologi Islam. Di antaranya melalui aksi campur tangan yang berlanjut dengan tindakan aneksasi terhadap wilayah Tim-Tim yang mayoritas Katholik dan secara resmi masih berstatus jajahan Portugal ke dalam NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) pada tahun 1976 kemudian direkayasa secara tidak jelas alasannya sebagai politik integrasi yang tak terelakkan bagi Indonesia.
  7. Selain itu orde baru didikte untuk menggelar aksi penangkapan dan pemberangusan secara tidak serius terhadap gerakan separatis Papua Merdeka. Operasi intelejen busuk orde baru terhadap dua kasus tersebut secara langsung atau tidak langsung sebenarnya sekaligus berfungsi untuk menipu dan menghibur serta menunjukkan kepada masyarakat tentang betapa besar sikap nasionalisme dan keberpihakan pemerintah atau negara kepada ummat muslim. Selebihnya kebijakan tersebut adalah untuk memicu bagi munculnya sentimen agama di kalangan kristiani Internasional sekaligus membangun serta menyebarkan semangat dan kekuatan fundamentalisme kristen di seluruh wilayah Indonesia. Dan kini potensi kekuatan fundamentalisme kristen di Indonesia secara terselubung atau bahkan nyata-nyata telah berada di bawah kontrol dan sponsor penuh, kepentingan serta pengaruh politik Barat (Salibis-Zionis) antara lain Belanda, Australia dan persemakmuran Inggris dan Amerika beserta agen-agennya di Asia seperti Singapore, Jepang, Taiwan, Fillippine dan Timor Leste.
  8. Masuknya sentimen, kepentingan dan kekuatan politik barat yang pro-kapitalis dan sekuler (Salibis Vatikan dan Zionis) yang mengemban program kristenisasi ke Asia Tenggara, dalam rangka menciptakan perimbangan terhadap peta kekuatan ideologi Islam. Di antaranya melalui aksi campur tangan yang berlanjut dengan tindakan aneksasi terhadap wilayah Tim-Tim yang mayoritas Katholik dan secara resmi masih berstatus jajahan Portugal ke dalam NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) pada tahun 1976 kemudian direkayasa secara tidak jelas alasannya sebagai politik integrasi yang tak terelakkan bagi Indonesia.

    Selain itu orde baru didikte untuk menggelar aksi penangkapan dan pemberangusan secara tidak serius terhadap gerakan separatis Papua Merdeka. Operasi intelejen busuk orde baru terhadap dua kasus tersebut secara langsung atau tidak langsung sebenarnya sekaligus berfungsi untuk menipu dan menghibur serta menunjukkan kepada masyarakat tentang betapa besar sikap nasionalisme dan keberpihakan pemerintah atau negara kepada ummat muslim. Selebihnya kebijakan tersebut adalah untuk memicu bagi munculnya sentimen agama di kalangan kristiani Internasional sekaligus membangun serta menyebarkan semangat dan kekuatan fundamentalisme kristen di seluruh wilayah Indonesia. Dan kini potensi kekuatan fundamentalisme kristen di Indonesia secara terselubung atau bahkan nyata-nyata telah berada di bawah kontrol dan sponsor penuh, kepentingan serta pengaruh politik Barat (Salibis-Zionis) antara lain Belanda, Australia dan persemakmuran Inggris dan Amerika beserta agen-agennya di Asia seperti Singapore, Jepang, Taiwan, Fillippine dan Timor Leste.

  9. Masuknya sentimen, kepentingan dan kekuatan politik barat yang pro-kapitalis dan sekuler (Salibis Vatikan dan Zionis) yang mengemban program kristenisasi ke Asia Tenggara, dalam rangka menciptakan perimbangan terhadap peta kekuatan ideologi Islam. Di antaranya melalui aksi campur tangan yang berlanjut dengan tindakan aneksasi terhadap wilayah Tim-Tim yang mayoritas Katholik dan secara resmi masih berstatus jajahan Portugal ke dalam NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) pada tahun 1976 kemudian direkayasa secara tidak jelas alasannya sebagai politik integrasi yang tak terelakkan bagi Indonesia.

    Selain itu orde baru didikte untuk menggelar aksi penangkapan dan pemberangusan secara tidak serius terhadap gerakan separatis Papua Merdeka. Operasi intelejen busuk orde baru terhadap dua kasus tersebut secara langsung atau tidak langsung sebenarnya sekaligus berfungsi untuk menipu dan menghibur serta menunjukkan kepada masyarakat tentang betapa besar sikap nasionalisme dan keberpihakan pemerintah atau negara kepada ummat muslim. Selebihnya kebijakan tersebut adalah untuk memicu bagi munculnya sentimen agama di kalangan kristiani Internasional sekaligus membangun serta menyebarkan semangat dan kekuatan fundamentalisme kristen di seluruh wilayah Indonesia. Dan kini potensi kekuatan fundamentalisme kristen di Indonesia secara terselubung atau bahkan nyata-nyata telah berada di bawah kontrol dan sponsor penuh, kepentingan serta pengaruh politik Barat (Salibis-Zionis) antara lain Belanda, Australia dan persemakmuran Inggris dan Amerika beserta agen-agennya di Asia seperti Singapore, Jepang, Taiwan, Fillippine dan Timor Leste.

  10. Masuknya sentimen, kepentingan dan kekuatan politik barat yang pro-kapitalis dan sekuler (Salibis Vatikan dan Zionis) yang mengemban program kristenisasi ke Asia Tenggara, dalam rangka menciptakan perimbangan terhadap peta kekuatan ideologi Islam. Di antaranya melalui aksi campur tangan yang berlanjut dengan tindakan aneksasi terhadap wilayah Tim-Tim yang mayoritas Katholik dan secara resmi masih berstatus jajahan Portugal ke dalam NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) pada tahun 1976 kemudian direkayasa secara tidak jelas alasannya sebagai politik integrasi yang tak terelakkan bagi Indonesia.

    Selain itu orde baru didikte untuk menggelar aksi penangkapan dan pemberangusan secara tidak serius terhadap gerakan separatis Papua Merdeka. Operasi intelejen busuk orde baru terhadap dua kasus tersebut secara langsung atau tidak langsung sebenarnya sekaligus berfungsi untuk menipu dan menghibur serta menunjukkan kepada masyarakat tentang betapa besar sikap nasionalisme dan keberpihakan pemerintah atau negara kepada ummat muslim. Selebihnya kebijakan tersebut adalah untuk memicu bagi munculnya sentimen agama di kalangan kristiani Internasional sekaligus membangun serta menyebarkan semangat dan kekuatan fundamentalisme kristen di seluruh wilayah Indonesia. Dan kini potensi kekuatan fundamentalisme kristen di Indonesia secara terselubung atau bahkan nyata-nyata telah berada di bawah kontrol dan sponsor penuh, kepentingan serta pengaruh politik Barat (Salibis-Zionis) antara lain Belanda, Australia dan persemakmuran Inggris dan Amerika beserta agen-agennya di Asia seperti Singapore, Jepang, Taiwan, Fillippine dan Timor Leste.

  11. Masuknya sentimen, kepentingan dan kekuatan politik barat yang pro-kapitalis dan sekuler (Salibis Vatikan dan Zionis) yang mengemban program kristenisasi ke Asia Tenggara, dalam rangka menciptakan perimbangan terhadap peta kekuatan ideologi Islam. Di antaranya melalui aksi campur tangan yang berlanjut dengan tindakan aneksasi terhadap wilayah Tim-Tim yang mayoritas Katholik dan secara resmi masih berstatus jajahan Portugal ke dalam NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) pada tahun 1976 kemudian direkayasa secara tidak jelas alasannya sebagai politik integrasi yang tak terelakkan bagi Indonesia.

    Selain itu orde baru didikte untuk menggelar aksi penangkapan dan pemberangusan secara tidak serius terhadap gerakan separatis Papua Merdeka. Operasi intelejen busuk orde baru terhadap dua kasus tersebut secara langsung atau tidak langsung sebenarnya sekaligus berfungsi untuk menipu dan menghibur serta menunjukkan kepada masyarakat tentang betapa besar sikap nasionalisme dan keberpihakan pemerintah atau negara kepada ummat muslim. Selebihnya kebijakan tersebut adalah untuk memicu bagi munculnya sentimen agama di kalangan kristiani Internasional sekaligus membangun serta menyebarkan semangat dan kekuatan fundamentalisme kristen di seluruh wilayah Indonesia. Dan kini potensi kekuatan fundamentalisme kristen di Indonesia secara terselubung atau bahkan nyata-nyata telah berada di bawah kontrol dan sponsor penuh, kepentingan serta pengaruh politik Barat (Salibis-Zionis) antara lain Belanda, Australia dan persemakmuran Inggris dan Amerika beserta agen-agennya di Asia seperti Singapore, Jepang, Taiwan, Fillippine dan Timor Leste.

Perbandingan SI vs Budi Utomo

Posted in Buka Mata, FOKUS, Sejarah by pedanglangit on 9 Maret 2009

Tujuan:

SI bertujuan Islam Raya dan Indonesia Raya,

Budi Utomo bertujuan menggalang kerjasama guna memajukan Jawa-Madura (Anggaran Dasar Budi Utomo Pasal 2).

Sifat:

SI bersifat nasional untuk seluruh bangsa Indonesia,

Budi Utomo besifat kesukuan yang sempit, terbatas hanya Jawa-Madura,

Bahasa:

SI berbahasa Indonesia, anggaran dasarnya ditulis dalam bahasa Indonesia,

Budi Utomo berbahasa Belanda, anggaran dasarnya ditulis dalam bahasa Belanda

Sikap Terhadap Belanda:

SI bersikap non-koperatif dan anti terhadap penjajahan kolonial Belanda,

Budi Utomo bersikap menggalang kerjasama dengan penjajah Belanda karena sebagian besar tokoh-tokohnya terdiri dari kaum priyayi pegawai pemerintah kolonial Belanda,

Sikap Terhadap Agama:

SI membela Islam dan memperjuangkan kebenarannya,

Budi Utomo bersikap anti Islam dan anti Arab (dibenarkan oleh sejarawan Hamid Algadrie dan Dr. Radjiman)

Perjuangan Kemerdekaan:

SI memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan mengantar bangsa ini melewati pintu gerbang kemerdekaan,

Budi Utomo tidak pernah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan telah membubarkan diri tahun 1935, sebab itu tidak mengantarkan bangsa ini melewati pintu gerbang kemerdekaan,

Korban Perjuangan:

Anggota SI berdesak-desakan masuk penjara, ditembak mati oleh Belanda, dan banyak anggotanya yang dibuang ke Digul, Irian Barat,

Anggota Budi Utomo tidak ada satu pun yang masuk penjara, apalagi ditembak dan dibuang ke Digul,

Kerakyatan:

SI bersifat kerakyatan dan kebangsaan,

Budi Utomo bersifat feodal dan keningratan,

Melawan Arus:

SI berjuang melawan arus penjajahan,

Budi Utomo menurutkan kemauan arus penjajahan,

Kelahiran:

SI (SDI) lahir 3 tahun sebelum Budi Utomo yakni 16 Oktober 1905,

Budi Utomo baru lahir pada 20 Mei 1908

Wassalam

MALAPETAKA AKIBAT HANCURNYA KHILAFAH

Posted in Buka Mata, Khilafah, Sejarah by pedanglangit on 9 Maret 2009

Sabda Rasulullah SAW :“…dan barangsiapa mati sedangkan di lehernya tidak ada baiat (kepada Khalifah) maka dia mati dalam keadaan mati jahiliyah.” (HR. Muslim)Pendahuluan: Islam adalah agama sempurna yang tidak hanya mengatur aspek ibadah ritual, namun juga mengatur aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara seperti aspek politik, ekonomi, pendidikan, militer, dan budaya. Karenanya wajar bila Islam mewajibkan eksistensi negara untuk merealisasikan semua aturan tersebut, sebab tanpa negara mustahil segala aturan bernegara dan bermasyarakat itu dapat terwujud.[1]

Secara praktis, kehidupan bernegara tersebut dipraktikkan langsung oleh Rasulullah SAW setelah beliau berhijrah ke Madinah (23 September 622 M). Pada saat itu beliau tidak hanya berfungsi sebagai Nabi, namun juga berfungsi sebagai penguasa (al hakim) dalam kepemimpinan negara (ri`asah ad daulah). Sebagai kepala negara, Rasulullah SAW menerapkan Syariat Islam di segala bidang di dalam negeri dan menyebarkan risalah Islam ke luar negeri melalui dakwah dan jihad fi sabilillah. Pada saat beliau wafat (12 Rabiul Awal 11 H / 6 Juni 632 M), fungsi kenabian terputus dan terhenti. Namun fungsi kepemimpinan negara terus dilanjutkan oleh para shahabat dalam sebuah sistem pemerintahan Khilafah Islamiyah.[2]

Khilafah inilah yang kemudian dengan berbagai pasang surutnya menghiasi sejarah Islam selama 13 abad hingga kehancurannya di tangan Mustafa Kamal –seorang antek-antek Inggris– pada tanggal 3 Maret 1924 di Turki. Dengan demikian Mustafa Kamal telah mengokohkan sistem sekuler yang diadopsinya dari para imperialis, yakni sistem republik, yang telah diumumkan sebelumnya oleh Dewan Nasional Turki pada 29 Oktober 1922. [3]

Sikap Mustafa Kamal yang sangat keji itu sungguh merupakan aksi kriminal paling akbar pada abad ke-20 lalu, yang tercatat sebagai episode paling hitam dalam lembar sejarah umat Islam.[4] Betapa tidak, runtuhnya Khilafah sesungguhnya adalah pengkhianatan total terhadap Islam itu sendiri, sebab tegaknya Islam secara sempurna bergantung sepenuhnya pada eksistensi Khilafah.[5] Hancurnya Khilafah berarti berakhirnya penerapan Syariat Islam dalam segala aspek kehidupan dan terhentinya penyebaran risalah Islam ke seluruh dunia dengan dakwah dan jihad fi sabilillah.[6] Hancurnya Khilafah berarti pula lunturnya jatidiri Islam yang hakiki sebagai ideologi dan sistem kehidupan. Islam pun akhirnya tidak lagi mengatur urusan-urusan publik, namun hanya menjadi agama yang bersifat pribadi yang hanya mengurusi ibadah ritual dan aspek moral[7], seperti halnya agama Kristen.

Runtuhnya Khilafah, dengan demikian, telah menjadi ummul jara`im, yakni biang segala malapetaka, kejahatan, dosa, dan kerusakan yang menimpa umat Islam.[8] Kiranya akan sulit kita memperkirakan betapa besarnya malapetaka dan kejahatan yang terjadi akibat hancurnya Khilafah itu.

Namun beberapa yang terpenting adalah[9] :

1. Umat Islam telah dipecah-belah menjadi negara-negara kerdil berdasarkan konsep nasionalisme dan patriotisme mengikuti letak geografis yang berbeda-beda, yang sebagian besarnya sebenarnya berada di bawah kekuasaan musuh yang kafir : Inggris, Perancis, Italia, Belanda, dan Rusia.

2. Di setiap negara boneka tersebut, kaum kafir telah merekayasa dan mengangkat para penguasa –dari kalangan penduduk pribuminya– yang bersedia tunduk kepada mereka, untuk mentaati instruksi-instruksi kaum kafir tersebut dan menjaga stabilitas negerinya dengan cara menindas dan menyiksa rakyatnya secara kejam tanpa perikemanusiaan.

3. Kaum kafir segera mengganti undang-undang dan peraturan Islam yang diterapkan di negeri-negeri Islam dengan undang-undang dan peraturan kafir milik mereka.

4. Kaum kafir segera mengubah kurikulum pendidikan untuk mencetak generasi-generasi baru yang mempercayai pandangan hidup Barat, namun sebaliknya memusuhi Aqidah dan Syariat Islam, terutama dalam masalah Khilafah.

5. Perjuangan untuk mengembalikan Khilafah serta mendakwahkannya kemudian dianggap sebagai tindakan kriminal atau terorisme yang dapat dijatuhi sanksi oleh undang-undang.

6. Harta kekayaan dan potensi alam milik kaum muslimin telah dirampok oleh penjajah yang kafir, yang telah mengeksploitasi kekayaan tersebut dengan cara yang sejelek-jeleknya dan telah menghinakan kaum muslimin dengan sehina-hinanya.[10]

Ringkas kata, lenyapnya Khilafah adalah lenyapnya pemelihara agama Islam, sebab sebagaimana dikatakan Rasulullah SAW, seorang Khalifah (Imam) –sebagai pemimpin negara Khilafah– adalah bagaikan perisai atau benteng bagi Islam, umatnya, dan negeri-negeri Islam.

Sabda Nabi SAW :

“Sesungguhnya Imam (Khalifah) adalah ibarat perisai; orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung dengannya.” (HR. Muslim, Abu Dawud, An Nasa`i, dan Ahmad) [11]
Maka atas dasar itu, tepatlah pernyataan Imam Al Ghazali mengenai strategisnya posisi Khilafah (as sulthan) bagi penerapan dan penjagaan Islam :

“…agama adalah pondasi (asas) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak berpondasi niscaya akan roboh dan segala sesuatu yang yang tidak berpenjaga niscaya akan hilang lenyap.” [12]

Memang, posisi strategis Khilafah itu sesungguhnya sangat jelas dan terang. Tanpa Khilafah, rusaklah umat Islam. Lenyaplah hukum-hukum Islam. Dan lahirlah berbagai malapetaka, bencana, dan kehinaan di segala bidang.

Namun kesadaran ini nampaknya belum dimiliki secara sempurna oleh kebanyakan umat Islam. Mareka masih banyak yang berdiam diri dan hanya berpangku tangan. Padahal jika mereka hanya berdiam diri, mereka akan turut memikul dosa besar akibat musnahnya Khilafah. Sebab keberadaan Khilafah merupakan salah satu kewajiban terbesar dalam agama Islam. [13]

Maka dari itu, tulisan sederhana ini hadir di tengah umat Islam dengan tujuan untuk menggambarkan berbagai malapetaka dan kerusakan di berbagai bidang kehidupan yang terjadi akibat hancurnya Khilafah. Mudah-mudahan dengan itu umat Islam dapat lebih giat dan bersemangat berjuang mengembalikan Khilafah di muka bumi. Di samping itu, mereka diharapkan dapat mengambil pelajaran (‘ibrah) dari tragedi mengenaskan ini, agar mereka tidak terjeblos lagi dalam peristiwa serupa di kemudian hari.

Allah SWT berfirman :

“Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan.” (QS Al Hasyr : 2)

Rasulullah SAW bersabda :

“Janganlah seorang mukmin sampai dipatuk (ular) dalam satu lubang yang sama dua kali.” (HR. Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, dari Abu Hurairah.).[14]

Berbagai Malapetaka Akibat Hancurnya Khilafah

Sungguh, hancurnya Khilafah telah melahirkan banyak malapetaka, musibah, bencana, dan kerugian yang tak terhitung lagi atas umat Islam di seluruh dunia. Yang dijelaskan dalam tulisan ini tentu saja hanyalah contoh-contoh yang sedikit saja dari jumlah kerusakan yang sangat banyak.

Berbagai malapetaka tersebut secara garis besar berupa :

1. Malapetaka ideologi,
2. Malapetaka politik,
3. Malapetaka ekonomi,
4. Malapetaka peradilan,
5. Malapetaka pendidikan
6. Malapetaka pemikiran,
7. Malapetaka dakwah,
8. Malapetaka sosial budaya.[15]

2.1. Malapetaka Ideologi

Setelah hancurnya Khilafah, Mustafa Kamal dengan tangan besi menjalankan ajaran-ajarannya yang dikenal dengan Kemalisme, yang berisi 6 (enam) sila : republikanisme, nasionalisme, populisme (popular sovereignty), sekularisme, etatisme, dan revolusionisme.[16]

Yang paling kontroversial adalah paham sekularisme yang jelas bertentangan secara frontal dengan Islam. Pengambilan dan penerapan sekularisme inilah yang selanjutnya melahirkan perilaku tasyabbuh bil kuffar (menyerupai orang kafir) di kalangan umat Islam. Inilah malapetaka ideologi yang paling menonjol akibat hancurnya Khilafah.

Berikut sekilas ulasannya.
Pertama, Umat Islam terperosok ke dalam sistem kehidupan berasaskan paham sekularisme.
Sekularisme (secularism) menurut Larry E. Shiner berasal dari bahasa Latin saeculum yang aslinya berarti “segenerasi, seusia, seabad”. Kemudian dalam perspektif religius saeculum dapat mempunyai makna netral, yaitu “sepanjang waktu yang tak terukur” dan dapat pula mempunyai makna negatif yaitu “dunia ini”, yang dikuasai oleh setan.[17] Pada abad ke-19 (1864 M) George Jacob Holyoke menggunakan istilah sekularisme dalam arti filsafat praktis untuk manusia yang menafsirkan dan mengorganisir kehidupan tanpa bersumber dari supernatural.[18]

Setelah itu, pengertian sekularisme secara terminologis mengacu kepada doktrin atau praktik yang menafikan peran agama dalam fungsi-fungsi negara. Dalam Webster Dictionary sekularisme didefinisikan sebagai :

“A system of doctrines and practices that rejects any form of religious faith and worship” (Sebuah sistem doktrin dan praktik yang menolak bentuk apa pun dari keimanan dan upacara ritual keagamaan)

Atau sebagai :
“The belief that religion and ecclesiastical affairs should not enter into the function of the state especially into public education.”

(Sebuah kepercayaan bahwa agama dan ajaran-ajaran gereja tidak boleh memasuki fungsi negara, khususnya dalam pendidikan publik). [19]

Jadi, sekularisme, secara ringkas, adalah paham pemisahan agama dari kehidupan (fashlud din ‘an al hayah), yang dengan sendirinya akan melahirkan pemisahan agama dari negara dan politik.[20]

Secara sosio-historis, sekularisme lahir di Eropa, bukan di Dunia Islam, sebagai kompromi antara dua pemikiran ekstrem yang kontradiktif, yaitu pemikiran tokoh-tokoh gereja di Eropa sepanjang Abad Pertengahan (V-XV M) yang mengharuskan segala urusan kehidupan tunduk menurut ketentuan agama (Katolik); dan pemikiran sebagian pemikir dan filsuf –misalnya Machiaveli (w.1527 M) dan Michael Mountagne (w. 1592 M)– yang mengingkari keberadaan Tuhan atau menolak hegemoni agama dan geraja Katolik. Jalan tengahnya, agama tetap diakui, tapi tidak boleh turut campur dalam pengaturan urusan masyarakat.[21]

Secara ideologis, sekularisme merupakan aqidah (pemikiran mendasar) yaitu pemikiran menyeluruh (fikrah kulliyah) mengenai alam semesta, manusia, dan kehidupan. Sekularisme dengan demikian merupakan qiyadah fikriyah bagi peradaban Barat, yakni pemikiran dasar yang menentukan arah dan pandangan hidup (worldview / weltanscahauung) bagi manusia dalam hidupnya. Sekularisme juga merupakan basis pemikiran (al qa’idah al fikriyah) dalam ideologi kapitalisme, yang di atasnya dibangun pemikiran-pemikiran lainnya, seperti demokrasi, nasionalisme, liberalisme (freedom), HAM, dan sebagainya.[22]

Jelaslah bahwa posisi paham sekularisme sangat mendasar sebagai basis ideologi kapitalisme, sebab sekularisme adalah asas falsafi yang menjadi induk bagi lahirnya berbagai pemikiran dalam peradaban Barat. Maka barangsiapa mengadopsi sekularisme, sesungguhnya ia telah mengadopsi pemikiran-pemikiran Barat secara keseluruhan.

Sekularisme adalah paham kufur, yang bertentangan dengan Islam.[23] Sebab Aqidah Islamiyah mewajibkan penerapan Syariat Islam pada seluruh aspek kehidupan, seperti aspek pemerintahan, ekonomi, hubungan internasional, muamalah dalam negeri, dan peradilan. Tak ada pemisahan agama dari kehidupan dan negara dalam Islam. Karenanya wajarlah bila dalam Islam ada kewajiban mendirikan negara Khilafah Islamiyah.

Sabda Rasulullah SAW :
“…dan barangsiapa mati sedangkan di lehernya tidak ada baiat (kepada Khalifah) maka dia mati dalam keadaan mati jahiliyah.” (HR. Muslim)[24]

Dari dalil yang seperti inilah, para imam mewajibkan eksistensi Khilafah. Abdurrahman Al Jaziri berkata :

“Para imam (Abu Hanifah, Malik, Asy Syafi’i, dan Ahmad) –rahimahumulah— telah sepakat bahwa Imamah (Khilafah) adalah fardhu, dan bahwa tidak boleh tidak kaum muslimin harus mempunyai seorang Imam (Khalifah)…” [25]

Maka dari itu, runtuhnya Khilafah merupakan malapetaka yang sangat besar bagi umat Islam. Dampak buruknya bukan saja pada lenyapnya sistem pemerintahan Islam itu, namun juga pada merajalelanya berbagai pemikiran kufur dari ideologi kapitalisme. Malepataka ideologis ini merupakan malapetaka paling berat yang dialami oleh umat Islam, sebab sebuah ideologi akan dapat mengubah cara pandang dan tolok ukur dalam berpikir dan berperilaku. Umat Islam secara tak sadar akan memakai cara pandang musuh yang akan menyesatkannya. Inilah bunuh diri ideologis paling mengerikan yang banyak menimpa umat Islam sekarang, akibat hancurnya Khilafah.

Padahal, Rasulullah SAW sebenarnya telah mewanti-wanti agar tidak terjadi pemisahan kekuasaan dari Islam, atau keruntuhan Khilafah itu sendiri. Sabda Rasulullah :
“Ingatlah ! Sesungguhnya Al Kitab (Al Qur`an) dan kekuasaan akan berpisah. Maka (jika hal itu terjadi) janganlah kalian berpisah dengan Al Qur`an !” (HR. Ath Thabrani). [26]

Sabda Rasulullah SAW :

“Sungguh akan terurai simpul-simpul Islam satu demi satu. Maka setiap kali satu simpul terurai, orang-orang akan bergelantungan dengan simpul yang berikutnya (yang tersisa). Simpul yang pertama kali terurai adalah pemerintahan/kekuasaan. Sedang yang paling akhir adalah shalat.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, dan Al Hakim).[27]

Kedua, Umat Islam telah menyerupai kaum kafir (tasyabbuh bi al kuffar) dengan menerapkan sekularisme.

Sekularisme mungkin saja dapat diterima dengan mudah oleh seorang beragama Kristen, sebab agama Kristen memang bukan merupakan sebuah sistem kehidupan (system of life). Perjanjian Baru sendiri memisahkan kehidupan dalam dua kategori, yaitu kehidupan untuk Tuhan (agama), dan kehidupan untuk Kaisar (negara).

Disebutkan dalam Injil :

“Berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi milik Kaisar, dan berikanlah kepada Tuhan apa yang menjadi milik Tuhan” (Matius 22 : 21).

Dengan demikian, seorang Kristen akan dapat menerima dengan penuh keikhlasan paham sekularisme tanpa hambatan apa pun, sebab hal itu memang sesuai dengan norma ajaran Kristen itu sendiri. Apalagi, orang Barat –khususnya orang Kristen– juga mempunyai argumen rasional untuk mengutamakan pemerintahan sekular (secular regime) daripada pemerintahan berlandaskan agama (religious regim), sebab pengalaman mereka menerapkan religious regimes telah melahirkan berbagai berbagai dampak buruk, seperti kemandegan pemikiran dan ilmu pengetahuan, permusuhan terhadap para ilmuwan seperti Copernicus dan Galileo Galilei, dominasi absolut gereja Katolik (Paus) atas kekuasaan raja-raja Eropa, pengucilan anggota gereja yang dianggap sesat (excommunication), adanya surat pengampunan dosa (Afflatbriefen), dan lain-lain.[28]

Namun bagi seorang muslim, sesungguhnya tak mungkin secara ideologis menerima sekularisme. Karena Islam memang tak mengenal pemisahan agama dari negara. Seorang muslim yang ikhlas menerima sekularisme, ibaratnya bagaikan menerima paham asing keyakinan orang kafir, seperti kehalalan daging babi atau kehalalan khamr. Maka dari itu, ketika Khilafah dihancurkan, dan kemudian umat Islam menerima penerapan sekularisme dalam kehidupannya, berarti mereka telah terjatuh dalam dosa besar karena telah menyerupai orang kafir (tasyabbuh bi al kuffar).

Sabda Rasulullah SAW:

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia adalah bagian dari kaum tersebut” (HR. Abu Dawud) [29]

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah mengatakan dalam syarahnya mengenai hadits ini:“Hadits tersebut paling sedikit mengandung tuntutan keharaman menyerupai (tasyabbuh) kepada orang kafir, walaupun zhahir dari hadits tersebut menetapkan kufurnya bertasyabbuh dengan mereka…” [30]

Dengan demikian, pada saat Khilafah hancur dan umat Islam menerapkan sekularisme dalam pemerintahannya, maka mereka berarti telah terjerumus dalam dosa karena telah menyerupai orang Kristen yang memisahakan urusan agama dari negara.[31] (Nauzhu billah min dzalik !)

2.2. Malapetaka Politik

Setelah hancurnya Khilafah, berbagai malapetaka politik menimpa umat Islam. Yang paling penting adalah : (1) diterapkannya sistem demokrasi, (2) terpecahbelahnya negeri-negeri muslim berdasar nasionalisme, (3), para penguasa negeri-negeri Islam didikte oleh negara-negara imperialis-kapitalis, (4) kekuatan militer di negeri-negeri Islam tunduk kepada kepentingan negara-negara imperialis-kapitalis, (5) berdirinya negara Israel di tanah rampasan milik umat Islam.

Pertama, Penerapan demokrasi yang memberikan hak membuat hukum kepada manusia, bukan kepada Allah.
Demokrasi adalah format sistem politik standar dalam ideologi kapitalisme, yang dipraktikkan dalam bentuk sistem pemerintahan republik. Ketika kehidupan mengalami sekularisasi, yakni agama tidak lagi mengatur berbagai urusan kehidupan, maka konsekuensinya manusia itu sendirilah yang membuat aturan kehidupan, bukan Tuhan (agama). Dari sinilah lahir demokrasi, yang memberikan kewenangan menetapkan hukum kepada manusia, bukan kepada Tuhan. Inilah makna hakiki dari prinsip kedaulatan (soreignty/as siyadah) di tangan rakyat.[32] Adapun berbagai dimensi makna dari demokrasi, seperti prinsip kekuasaan di tangan rakyat, adanya hak rakyat untuk memilih dan mengontrol penguasa, persamaan kedudukan di antara rakyat, penyebaran keadilan, kebolehan perbedaan pendapat, penyelenggaraan pemilu, dan sebagainya, sesungguhnya adalah ide-ide derivatif dan operasional yang tercabang dari prinsip substansialnya, yakni kedaulatan rakyat.

Maka dari itu, pada saat Khilafah hancur dan kemudian diterapkan demokrasi, artinya adalah bahwa manusia telah menggantikan peran Allah SWT sebagai pembuat hukum (Asy Syari’). Hukum-hukum Allah dibuang dan sebagai gantinya, diterapkan hukum-hukum buatan manusia. Sungguh, ini adalah malapetaka yang sangat besar. Sebab penerimaan dan penerapan demokrasi berarti tindak pengingkaran terhadap seluruh dalil yang qath’i tsubut (pasti sumbernya) dan qath’i dalalah (pasti pengertiannya) yang mewajibkan kaum muslimin untuk mengikuti hukum Allah dan membuang hukum thaghut buatan manusia. (Na’udzu billah min dzalik !)

Kewajiban di atas diterangkan oleh banyak ayat dalam Al Qur’an. Dan lebih dari itu, ayat-ayat yang qath’i tadi menegaskan pula bahwa siapa pun yang tidak mengikuti atau menerapkan hukum Allah, berarti dia telah kafir, dzalim, atau fasik.

Allah SWT berfirman :

“Siapa pun yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka adalah orang-orang kafir.” (Q.S. Al Maaidah : 44)

“Siapa pun yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka adalah orang-orang dzalim.” (Q.S. Al Maaidah : 45)

“Siapa pun yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka adalah orang-orang fasik.” (Q.S. Al Maaidah : 47)

Berdasarkan nash ayat di atas, maka siapa pun juga yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, seraya mengingkari hak Allah dalam menetapkan hukum –seperti halnya orang-orang yang meyakini demokrasi– maka dia adalah kafir tanpa keraguan lagi, sesuai nash Al Qur’an yang sangat jelas di atas. Hal ini karena tindakan tersebut –yakni tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah dan mengingkari hak membuat hukum yang dimiliki Allah– berarti ingkar terhadap ayat-ayat yang qath’i dalalah. Padahal orang yang mengingkari ayat yang qath’i adalah kafir, dan ini disepakati oleh seluruh fuqaha.[33]

Karena itu, hancurnya Khilafah telah mendatangkan musibah besar karena kemudian terbukalah pintu lebar bagi negeri-negeri Islam untuk menerapkan ide demokrasi yang kufur. Sungguh sangat menyedihkan, negeri-negeri Islam itu telah menetapkan prinsip kedaulatan rakyat dalam konstitusi mereka, mengikuti format politik negara-negara Barat yang imperialis.[34]

Kedua, Negeri-negeri muslim terpecah-belah menjadi banyak negara berdasar paham nasionalisme.

Sebagai akibat tiadanya institusi pemersatu umat Islam, yakni Khilafah, kini umat Islam yang satu terpecah-belah menjadi lebih dari 50 negara berasaskan paham kebangsaan (nation-state). Ini adalah suatu kondisi yang sangat jauh dari tabiat asli umat Islam sebagai umat yang satu, yang wajib hidup dalam negara yang satu dengan seorang Khalifah yang satu.

Sungguh, sejarah telah membuktikan bahwa eksistensi negara-bangsa bagi Umat Islam adalah sebuah kondisi yang abnormal yang menghancurkan persatuan umat. Kaum muslimin tak pernah mengenal paham nasionalisme sepanjang sejarahnya sampai adanya upaya imperialis untuk memecah-belah negara Khilafah pada abad ke-17 M. Mereka melancarkan serangan pemikiran melalui para missionaris dan merekayasa partai-partai politik rahasia untuk menyebarluaskan paham nasionalisme dan patriotisme. Banyak kelompok missionaris –sebagian besarnya dari Inggris, Perancis, dan Amerika– didirikan sepanjang abad ke-17, 18, dan 19 M untuk menjalankan misi tersebut. Namun saat itu upaya mereka belum berhasil. Namun pada tahun 1857, mereka mulai memetik kesuksesan tatkala berdiri Masyarakat Ilmiah Syiria (Syrian Scientific Society) yang menyerukan nasionalisme Arab. Sebuah sekolah misionaris terkemuka lalu didirikan di Syiria oleh Butros Al Bustani, seorang Kristen Arab (Maronit), dengan nama Al Madrasah Al Wataniyah. Nama sekolah ini menyimbolkan esensi misi Al Bustani, yakni paham patriotisme (cinta tanah air, hubb al-watan). Langkah serupa terjadi di Mesir, ketika Rifa’ah Badawi Rafi’ At Tahtawi (w. 1873 M) mempropagandakan patriotisme dan sekularisme. Setelah itu, berdirilah beberapa partai politik yang berbasis paham nasionalisme, misalnya partai Turki Muda (Turkiya Al Fata) di Istanbul. Partai ini didirikan untuk mengarahkan gerak para nasionalis Turki. Kaum misionaris kemudian memiliki kekuatan riil di belakang partai-partai politik ini dan menjadikannya sebagai sarana untuk menghancurkan Khilafah.[35]

Sepanjang masa kemerosotan Khilafah, kaum kafir berhimpun bersama, pertama kali dengan perjanjian Sykes-Picot tahun 1916 ketika Inggris dan Perancis merencanakan untuk membagi-bagi wilayah negara Khilafah. Kemudian pada 1923, dalam Perjanjian Versailles dan Lausanne, rencana itu mulai diimplemetasikan. Dari sinilah lahir negara-negara Irak, Syria, Palestina, Lebanon, dan Transjordan. Semuanya ada di bawah mandat Inggris, kecuali Syria dan Lebanon yang ada di bawah Perancis. Hal ini kemudian diikuti dengan upaya Inggris untuk merekayasa lahirnya Pakistan. Jadi, semua negara-bangsa ini tiada lain adalah buatan kekuatan-kekuatan Barat yang ada di bawah mandat mereka.[36]

Munculnya negara-bangsa Indonesia juga tak lepas dari rekayasa penjajah menyebarkan nasionalisme dan patriotisme di Dunia Islam. Hal itu dapat dirunut sejak berdirinya negara-negara bangsa di Eropa pada abad ke-19. Perubahan di Eropa ini, dan juga adanya persaingan yang hebat antara kekuatan-kekuatan Eropa di Asia Tenggara pada paruh kedua abad ke-19, menimbulkan dampak politis terhadap negara-negara jajahan Eropa, termasuk Hinda Belanda. Dampak momumentalnya adalah dicanangkannya Politik Etis pada tahun 1901. Kebijakan ini pada gilirannya membuka kesempatan bagi pribumi untuk mendapatkan pendidikan Barat. Melalui pendidikan Barat inilah paham nasionalisme dan patriotisme menginfiltrasi ke tubuh umat Islam di Hindia Belanda, yang selanjutnya mengilhami dan menjiwai lahirnya gerakan-gerakan pergerakan nasional di Indonesia, Boedi Utomo, Jong Java, Jong Sumatra, Jong Islamieten Bond, Jong Celebes, Sarekat Islam, Muhammadiyah, dan sejenisnya.[37]

Cengkeraman paham nasionalisme di tubuh umat akibat rekayasa penjajah ini, disertai hancurnya Khilafah sebagai pemersatu umat, telah membuat kesatuan umat Islam porak-poranda dan hancur-lebur. Ikatan Islam berdasar Aqidah Islamiyah digantikan ikatan kebangsaan berdasar kesamaan identitas etnis, bahasa, atau budaya. Sungguh Allah SWT tidak meridhai umat Islam terpecah-belah menjadi lebih dari 50 negara seperti sekarang ini.

Allah SWT berfirman :

“Dan berpegang teguhlah kalian dengan tali (agama) Allah dan janganlah kalian bercerai-berai.” (QS Ali Imran : 103)

Sabda Rasulullah SAW :

“Barangsiapa datang kepada kalian, sedangkan urusan kalian terhimpun pada satu orang laki-laki (seorang Khalifah), dia (orang yang datang itu) hendak memecah kesatuan kalian dan menceraiberaikan jamaah kalian, maka bunuhlah dia.” (HR. Muslim)

Nash-nash seperti di atas mewajibkan umat untuk bersatu, di bawah satu negara Khilafah dan satu Imam, tidak dibenarkan umat memiliki lebih dari seorang Imam.

Abdurrahman Al Jaziri menegaskan :

“Para imam (Abu Hanifah, Malik, Asy Syafi’i, dan Ahmad) –rahimahumulah— bersepakat pula bahwa kaum muslimin tidak boleh pada waktu yang sama di seluruh dunia mempunyai dua Imam, baik keduanya sepakat maupun bertentangan.” [38]

Maka dari itu, runtuhnya Khilafah merupakan malapetaka besar bagi umat ini, karena dengan itu umat Islam menjadi terpecah-belah atas dasar paham nasionalisme yang kufur.

Ketiga, Para penguasa negeri-negeri Islam dikendalikan dan didikte oleh negara-negara imperialis-kapitalis Barat.

Setelah umat Islam terpecah belah, maka dengan sendirinya mereka menjadi lemah dan dapat dikendalikan dan dikontrol oleh para penjajah. Berlakulah di sini kaidah ‘devide et impera’ (farriq tasud) (pecah belahlah, lalu kuasai). Karena itu, terpecahbelah-nya umat Islam –akibat hancurnya Khilafah—membawa dampak buruk berikutnya, yakni para penguasa negeri-negeri Islam kemudian dapat dikendalikan dan dikontrol sesuai program negara-negara imperialis.

Hal ini misalnya dapat dilihat sejak berakhirnya Perang Dunia II. Pada saat itu banyak negara jajahan yang menuntut kemerdekaan. Menghadapi tantangan ini, negara-negara kapitalis (terutama AS, Inggris, Perancis) kemudian melakukan konsolidasi dan merekayasa langkah-langkah untuk melanggengkan imperialisme melalui cara-cara baru. Pada Juli 1944 negara-negara penjajah itu mengadakan pertemuan di Bretton Woods (AS) yang hasilnya di bidang politik adalah : pembentukan PBB (1945) dan deklarasi HAM (1945). Di bidang ekonomi hasilnya adalah : pembentukan World Bank/IBRD (1946), pendirian IMF (1947), dan pendirian GATT (1947). Semua langkah ini tiada lain adalah teknik-teknik baru untuk terus melestarikan imperialisme di dunia.[39]

Bagi Indonesia khususnya, pengaruh kuat negara-negara kapitalis-imperialis terhadap kebijakan pemerintah Indonesia nampak sangat telanjang, bukan rahasia lagi. Pemerintah tak malu-malu menempatkan dirinya sebagai budak negara-negara penjajah yang kafir itu. Sekedar contoh, kebijakan pemerintah untuk menaikkan TDL (Tarif Dasar Listrik) sebesar rata-rata 16% tahun 2002 [40] juga kenaikkan harga BBM sebesar 20%-25% awal 2002,[41] jelas menunjukkan tunduknya mereka kepada keinginan para penjajah, meskipun mereka menutup-nutupinya dengan sejuta kebohongan yang sangat memuakkan, seperti untuk menutup defisit APBN, maraknya penyelundupan BBM keluar negeri, subsidi yang salah sasaran, dan sebagainya.

Kalau dahulu pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid masih merasa “enggan” untuk menyengsarakan rakyat, kini pemerintahan Megawati tidak lagi merasa “ewuh-pakewuh” sedikit pun. Abdurrahman Wahid pernah membongkar alasan kebijakannya yang kontroversial untuk menaikkan harga BBM. Tatkala menjawab pertanyaan salah seorang jamaah seusai salat Jumat di Mesjid Baiturrahim, Istana Merdeka (18 Mei 2001), dia menyatakan: “Sebenarnya bagi pemerintah, menaikkan harga itu juga tidak enak. Pemerintah tidak ingin menaikkan apa-apa. Hanya saja, kita terikat peraturan IMF yang tidak boleh ada subsidi.” [42]

Jadi yang dilakukan pemerintah di bawah rezim Megawati tidak berbeda dengan rezim-rezim sebelumnya. Mereka secara terang-terangan telah mengutamakan kepentingan IMF yang dikendalikan oleh AS, daripada kepentingan rakyatnya sendiri. Sikap mereka mencabut subsidi BBM, listrik dan menaikkan tarif telepon, jelas merupakan kebijakan yang didiktekan oleh IMF. Padahal, menyerahkan urusan umat Islam kepada kaum kafir –seperti IMF— adalah suatu tindakan yang diharamkan Islam.

Allah SWT berfirman :

“Dan sekali-kali Allah tidak akan pernah menjadikan jalan bagi orang-orang kafir untuk menguasai kaum mu`min” (QS. An Nisaa` : 141).[43]

Namun kenyataan pahit seperti inilah yang dihadapi umat Islam saat ini. Semua itu tak lain karena lemahnya kekuatan politik penguasa negeri-negeri Islam yang terpecah-belah, setelah hancurnya payung pemersatu kekuatan umat Islam, Khilafah Islamiyah.

Keempat, Kekuatan militer di negeri-negeri Islam tunduk kepada kepentingan negara-negara imperialis-kapitalis Barat untuk mempertahankan sistem kehidupan sekuler.

Pada saat kejayaan Khilafah, kekuatan militernya didedikasikan untuk kepentingan Islam semata, yakni untuk menjaga eksistensi negara Khilafah, menjaga penerapan Syariat Islam, menjamin keamanan rakyat, dan menyebarkan risalah Islam ke luar negeri melalui jalan dakwah dan jihad fi sabilillah.[44]

Namun setelah Khilafah lenyap dan berdiri negara-negara sekuler, kekuatan militer di Dunia Islam –seperti halnya para penguasanya—akhirnya mengalami perubahan orientasi untuk kemudian tunduk kepada ideologi dan kepentingan negara-negara imperialis, yakni mempertahankan sistem sekuler yang ada. Hal ini misalnya terjadi di Aljazair awal 90-an tatkala kekuatan militer membatalkan hasil pemilu yang dimenangkan FIS yang bercita-cita menghancurkan sekularisme dan mendirikan Khilafah.[45] Di Turki, ketika Arbakan (pemimpin partai Refah) tahun 1996 terpilih sebagai perdana menteri –berkoalisi dengan Tansu Chiller—Arbakan harus tunduk di bawah institusi militer yang fanatik kepada sekularisme.[46] Kekuatan militer Uzbekisten juga dimanfaatkan untuk menangkapi dan menyiksa para aktivis Hizbut Tahrir yang bercita-cita mendidikan Khilafah. [47]

Sangat memilukan, kekuatan militer yang seharusnya digunakan untuk kepentingan Islam, ternyata malah diabdikan untuk membela kepentingan dan ideologi sekuler penjajah. Para penguasa dan para petinggi militer tega melakukan semua itu hanya untuk memperkaya diri sendiri, walaupun harus membunuh rakyatnya sendiri. Sudah bukan rahasia lagi, untuk mendapatkan loyalitas negara-negara di Dunia Islam, Amerika Serikat tak segan-segan memberi dana besar untuk memerangi Islam. Ketika Megawati mengadakan pertemuan bilateral dengan Presiden Bush guna membicarakan hubungan militer Indonesia-AS di Washington DC 20/9/2001, Jurubicara Gedung Putih Ary Fleitcher menyatakan, AS akan memberi hadiah kepada Indonesia sebesar 130 juta US dolar atas dukungan Indonesia terhadap politik AS memerangi terorisme. Hadiah itu kemungkinan besar berupa pemulihan kembali bantuan militer kepada Indonesia yang terputus akibat kasus Timor Timur.[48]

Itulah perilaku penguasa negeri ini, yang tega bersekutu dengan penjajah untuk memerangi rakyatnya sendiri dengan imbalan sejumlah uang. Kekuatan militer yang seharusnya untuk melindungi rakyat, kini dengan “hadiah” AS akan diarahkan untuk menumpahkan darah rakyatnya sendiri dengan dalih memerangi terorisme. Inilah salah satu malapetaka yang memilukan akibat hancurnya Khilafah, sehingga kemudian kekuatan militer di negeri-negeri Islam bukan digunakan untuk kemaslahatan Islam, melainkan diabdikan kepada negara-negara imperialis-kapitalis Barat untuk mempertahankan paham sekularisme yang kufur.

Keenam, Berdirinya negara Israel di tanah rampasan milik umat Islam.

Pada saat Khilafah masih eksis, cita-cita kaum Yahudi untuk mendirikan negara Israel di Palestina gagal total. Namun masalahnya menjadi lain tatkala konstelasi politik Timur Tengah berubah akibat hancurnya Khilafah dan wilayah-wilayah bekas kekuasaannya dibagi-bagi di antara negara-negara imperialis. Israel akhirnya berdiri di tanah Palestina pada tahun 1948.
Sejarah mencatat, Qurrah Shu Affandi, seorang petinggi Freemasonry dari Turki pernah berusaha menyuap Sultan Abdul Hamid II (menjadi Khalifah 1876-1909) dengan imbalan agar kaum Yahudi diberi tanah di Palertina. Petinggi Freemasonry itu berkata kepada Khalifah,”Saya datang sebagai wakil dari gerakan Freemasonry untuk memberikan kehormatan kepada Anda. Saya harap Anda bersedia menerima 5 juta lira emas sebagai hadiah untuk Anda pribadi. Di samping itu kami pinjamkan 100 juta lira emas untuk kas negara tanpa bunga selama satu tahun. Namun kami harap Anda memberikan sebagian hak-hak khusus kepada kami untuk menguasai tanah Palestina.” Sultan Abdul Hamid II lalu marah dan berkata kepada ajudannya,”Tahukah kamu apa yang diinginkan babi ini ?” Lalu Sultan berkata kepada wakil Freemasonry itu,”Enyahlah kamu dari hadapanku, hai orang hina !” Orang Yahudi itu lalu keluar dan terus pergi ke Italia. Dari sana dia mengirim surat kepada Sultan, isinya : “Anda telah menolak tawaran kami. Ongkos penolakan ini akan menimpa Anda pribadi, dan juga akan banyak menimpa kekuasaan Anda.” [49]

Sejak saat itu, kaum Yahudi yang kafir berusaha keras untuk menghancurkan Khilafah dengan berbagai cara, karena ini dianggap sebagai jalan untuk mendirikan negara Yahudi yang menjadi cita-cita mereka. Setelah Khilafah jatuh pada 1924, upaya zionis untuk mendirikan negara Yahudi di Palestina berhasil terwujud pada tahun 1948 berkat rekayasa negara-negara penjajah kafir melalui kekuatan PBB.

2.3. Malapetaka Ekonomi

Hancurnya Khilafah juga mengakibatkan malapetaka-malapetaka di bidang ekonomi. Sesungguhnya malapetaka ekonomi ini sangat banyak ragamnya, namun yang menonjol adalah : (1) Penerapan sistem kapitalisme yang ribawi atas umat Islam, dan (2) perampokan kekayaan alam milik umat Islam oleh kaum penjajah yang kafir.

Pertama, Penerapan sistem kapitalisme yang ribawi atas umat Islam.

Kapitalisme adalah nama bagi sistem ekonomi yang ciri utamanya adalah pemilikan privat atas alat-alat produksi, serta pemanfaatannya dalam kegiatan produksi dan distribusi untuk memperoleh laba dalam mekanisme pasar yang kompetitif.[50] Karena sistem ekonomi kapitalisme merupakan fenomena paling menonjol dalam peradaban Barat, maka istilah kapitalisme digunakan juga untuk menunjukkan ideologi Barat itu sendiri, sebagai suatu sistem sosial yang menyeluruh.[51]

Secara ideologis, akar kapitalisme adalah sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan). Ketika agama dipisahkan dari kehidupan, maka lahirlah paham kebebasan (liberalism/freedom). Dari paham kebebasan inilah, khususnya kebebasan kepemilikan, lahirlah sistem ekonomi kapitalisme.[52]

Ketika Khilafah hancur dan diterapkan sistem ekonomi kapitalisme yang kafir di negeri-negeri Islam, lahirlah malapetaka ekonomi yang tak terperikan dalam tubuh umat. Betapa tidak, kapitalisme yang berbasiskan kebebasan tentu tidak mengajarkan perasaan berdosa ketika menerapkan sistem bunga (interest). Padahal bunga termasuk salah satu jenis riba yang diharamkan Islam. Mengambil riba adalah dosa besar.

Sabda Rasulullah SAW :

“Riba itu mempunyai 73 pintu (dosa). Yang paling ringan dosanya adalah seperti dosa seorang laki-laki yang bersetubuh dengan ibu kandungnya sendiri …” (HR. Ibnu Majah dan Al Hakim, dari Abdullah bin Mas’ud RA).

“Satu dirham yang diperoleh seseorang dari hasil riba, lebih besar dosanya daripada 36 kali berbuat zina dalam Islam.” (HR. Baihaqi, dari Anas bin Malik RA)

Ini baru segi dosa riba. Belum lagi aspek lain misalnya merajalelanya ketimpangan antara kaya dan miskin pada masyarakat yang menerapkan kapitalisme, baik dalam skala sebuah negara maupun skala global-internasional. Dalam skala global, penerapan kapitalisme terbukti semakin memiskinkan negara-negara terjajah dan semakin membuat kaya negara-negara penjajah yang kafir. Banyak data kuantitatif yang membeberkan kenyataan buruk ini. Pada tahun 1985, negara-negara industri yang kaya (seperti AS, Inggris, Perancis, Jerman, dan Jepang) yang hanya mempunyai 26 % penduduk dunia, ternyata menguasai lebih dari 78 % produksi barang dan jasa, 81 % penggunaan energi, 70 % pupuk, dan 87 % persenjataan dunia.[53]

Pengalaman di Indonesia, penerapan kapitalisme juga menghasilkan ketimpangan yang parah. Pada tahun 1985, misalnya, pendapatan nasional (GNP) Indonesia besarnya adalah 960 dolar AS per orang setahunnya. Pendapatan nasional yang cuma 960 dolar itu, 80 % daripadanya merupakan nilai aktivitas ekonomi dari 300 grup konglomerat saja. Sedangkan selebihnya (hampir 200 juta rakyat) kebagian 20 % saja dari seluruh porsi ekonomi nasional. Dari 300 grup bisnis konglomerat itu, yang dimiliki non-pribumi berjumlah 224 grup (sekitar 75 %), sedang pribumi cuma 76 grup bisnis (25 %) yang asetnya pun tidak sampai 10 % dari aset konglomerat non-pribumi.[54]

Jelaslah, penerapan kapitalisme pasca hancurnya Khilafah adalah sebuah malapetaka besar yang tak hanya menimpa umat Islam, tapi juga seluruh umat manusia di kolong langit.

Kedua, Kekayaan alam milik umat Islam dirampok oleh kaum penjajah yang kafir.

Sebagai akibat lanjut dari penerapan sistem kapitalisme seperti disinggung di atas, maka lahirlah perampokan kekayaan alam umat Islam oleh para imperialis, yang berkolusi dengan para pejabat pribumi yang berkhianat, korup, dan menghisap darah rakyat.

Dalam tulisan berjudul “Inkonstitusional”, di kolom Resonansi Harian Republika, pada tahun 1998 menjelang jatuhnya Suharto, Amien Rais menulis : “Bisakah kita mengambil pelajaran dari PT Freeport Indonesia di Irian Jaya ? Perusahaan tambang Amerika ini sejak 1973 telah menambang emas, perak, dan tembaga di Irian Jaya. Sekarang ini setiap hari, 125.000 ton bijih tambang diruntuhkan dari gunung-gunung di pegunungan Jaya Wijaya. Dari jumlah biji tambang sekian itu, diperoleh konsentrat sekitar 6000 ton. Setiap ton konsentrat mengandung 300 kg tembaga, 60 gram perak, dan 30 gram emas. Walhasil selama seperempat abad, kekayaan bangsa yang sudah digotong ke luar negeri kurang lebih 1620 ton emas, 3420 ton perak, dan 162 juta ton tembaga. Sekian ton emas itu, kalau dirupiahkan dengan harga sekarang [1998] bernilai lebih dari 400 triliun rupiah. Tahun 1991 Freeport sudah mengantongi izin penambangan lagi untuk masa 30 tahun ditambah dua kali sepuluh tahun (dus, setengah abad) dengan wilayah eksploitasi yang lebih luas lagi. Mau dibawa ke manakah Indonesia yang kita cintai bersama ?”

Mengapa PT Freeport Indonesia (PT. FI) dapat leluasa merampok kekayaan alam milik umat Islam ? Ya, perampokan itu dapat mulus berlangsung karena sebagian pejabat Indonesia (dan sanak keluarganya) telah berkhianat untuk memperkaya diri sendiri dengan cara berkolusi dengan para kapitalis yang kafir. Seperti diketahui, PT Nusamba Mineral Industries, sebuah anak perusahaan Nusamba, menguasai 4,7% saham PT.FI. Memang jumlah sahamnya sedikit, daripada saham perusahaan induk Freeport McMoRan serta perusahaan Jepang dan Jerman yang menjadi penampung produk salah satu tambang emas & tembaga terbesar di dunia itu, yang pada tahun1995 punya pendapatan sebesar hampir 1,5 milyar dollar AS ! Kelompok Nusamba, seperti kita ketahui, dikuasai oleh tiga yayasan yang diketuai Suharto (Dakab, Dharmais, Supersemar) yang bersama-sama memiliki 80% saham perusahaan itu. Sedangkan 20% sisanya, dibagi rata antara Bob Hasan dan Sigit Harjojudanto.[55]

Maka dari itu, tidaklah mengherankan jika kekayaan para pejabat dan keluarganya yang korup itu jumlahnya sangat luar biasa, di luar perkiraan rakyat banyak. Taksiran nilai total kekayaan Suharto dan keluarganya adalah sebesar US$ 40 milyar. Sungguh, ini lebih dari cukup untuk melepaskan Indonesia dari krisis ekonomi, tak perlu mengemis-ngemis ke IMF.[56]

2.4. Malapetaka Peradilan

Walaupun pengambilan berbagai undang-undang dari negara-negara Barat sudah terjadi sebelum runtuhnya Khilafah, namun dengan runtuhnya Khilafah, semakin terbukalah pintu dosa umat Islam untuk mengambil hukum-hukum kufur dari kaum imperialis. Inilah malapetaka peradilan yang menimpa umat akibat runtuhnya Khilafah. Malapetaka di bidang ini yang terpenting adalah : (1) Penerapan sistem hukum kufur warisan penjajah dalam peradilan, dan (2) Penentangan terhadap upaya penerapan hukum Islam.

Pertama, Peradilan menerapkan sistem hukum kufur warisan penjajah.

Dalam pembukaan UUD 1945 terdapat deklarasi penentangan terhadap penjajahan dan pengakuan religius bahwa kemerdekaan Indonesia adalah rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Namun semua itu akhirnya menjadi ironi, sebab hukum-hukum Islam –yang menjadi bagian rahmat Allah SWT— ternyata tidak dijadikan hukum yang mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara, kecuali sedikit, seperti hukum nikah, dan yang semacamnya. Yang dijadikan hukum bernegara adalah hukum warisan penjajah Belanda, misalnya kitab undang-undang hukum pidana (KUHP) yang disebut juga Wetboek van Strafrecht. Bagaimana mungkin kita menolak hadirnya penjajah yang kafir di negeri ini tetapi kemudian mengambil hukum-hukum dan juga filsafat hidup mereka (sekularisme) ?

Sebenarnya, menerapkan hukum Islam adalah wajib dan sebaliknya menerapkan hukum-hukum yang bukan hukum Islam adalah haram.

Allah SWT berfirman :

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muham-mad) sebagai hakim/pemutus terhadap perkara yang mereka perselisihkan,…” (QS An-Nisaa’ : 65)

Ayat di atas menegaskan bahwa umat Islam tidaklah dianggap beriman secara sebenar-benarnya sampai berhukum kepada hukum Islam yang dibawa Rasulullah SAW. Maka dari itu, berhukum dengan hukum Islam adalah wajib, sebaliknya berhukum kepada selain hukum Islam adalah haram. Maka, hukum-hukum penjajah buatan manusia wajib ditolak dan tidak boleh diterapkan, karena bukan merupakan hukum Islam.

Namun sayang, pemahaman yang jelas dan jernih itu kadang menjadi kabur, tatkala ada (ulama !) yang berkata bahwa boleh saja mengambil hukum-hukum selain Islam (buatan manusia), selama tidak bertentangan dengan hukum Islam.[57] Pendapat ini tidak benar. Sebab “hukum –selain hukum Islam– yang tidak bertentangan dengan hukum Islam” faktanya tetap bukanlah hukum Islam. Sebab hukum Islam (al hukm asy syar’i) adalah khithab Asy Syari’ (seruan Allah SWT) yang berkaitan dengan perbuatan hamba. Selama sebuah hukum tidak bersumber dari khithab Asy Syari’ –yang terwujud dalam Al Kitab dan As Sunnah— maka dari segi apa pun dia bukanlah hukum Islam, walau pun ia tidak bertentangan dengan hukum Islam. Jadi, yang menjadi masalah itu sebenarnya bukanlah suatu hukum itu bertentangan atau tidak dengan hukum Islam, melainkan apakah suatu hukum itu hukum Islam atau bukan.[58]

Apalagi, sesungguhnya hukum-hukum warisan penjajah sangat banyak yang bertentangan dengan hukum Islam. Misalnya saja definisi zina dalam pasal 284 KUHP. Definisi zina menurut imperialis adalah “Barangsiapa melakukan persetubuhan dengan laki-laki atau perempuan yang bukan suami atau istrinya, maka diancam dengan sanksi pidana.” Jadi perzinaan hanya terjadi jika kedua pelakunya sudah menikah. Mafhumnya, kalau pelaku zina belum menikah, yakni seorang perjaka bujangan bersetubuh dengan gadis, itu dianggap bukan zina.[59] [Subhanallah !]

Dengan demikian, penerapan hukum penjajah apa pun juga alasannya tidaklah dapat dibenarkan. Namun, sekali lagi sayang, ternyata hukum yang berlaku di peradilan negeri-negeri Islam adalah hukum penjajah ini, bukanlah hukum Islam.[60] Hukum-hukum jahiliyah itu dengan mudahnya berlaku di negeri-negeri Islam. Dan ini semua terjadi karena institusi yang menerapkan hukum Islam secara sempurna sudah tidak ada lagi, yaitu Khilafah Islamiyah. Kedua, Penentangan terhadap upaya penerapan hukum Islam.
Hancurnya Khilafah sesungguhnya berdampak juga terhadap pemahaman Syariat Islam di kalangan umat Islam. Sebab dengan hancurnya Khilafah, banyak hukum-hukum Islam yang lenyap dari penerapannya. Akhirnya, orang yang hidup pada masa sekarang tak dapat lagi menjangkau realitas hukum-hukum Islam itu kecuali hanya berupa gambaran atau bayangan dalam benak. Ini tentu menambah lemahnya pemahaman umat Islam terhadap hukum Islam. Faktor ini, ditambah faktor-faktor lain seperti dominannya paham sekularisme, nasionalisme, dan pragmatisme, dapat membuat orang kehilangan kepercayaan terhadap Syariat Islam. Bahkan, tak jarang orang menjadi apatis dan memusuhi upaya penerapan Syariat Islam.

Itulah yang terjadi di Indonesia ketika banyak pihak yang mencela penerapan hukum rajam yang dilakukan Ja’far Umar Thalib terhadap seorang anggota pasukan Laskar Jihad di Ambon. Sebelum itu PDIP pernah menolak pemberlakuan penerapan Syariat Islam di Aceh, meski kemudian PDIP buru-buru mengoreksi sikapnya yang salah itu. Begitu pula perkembangan terakhir dari para tokoh seperti Ahmad Syafii Maarif (pimpinan Muhammadiyah), Hasyim muzadi (ketua PBNU), dan Nurcholish Madjid, yang menolak perubahan pasal 29 UUD 1945, yang oleh sementara pihak hendak diamandemen agar mengakomodir penerapan Syariat Islam, sesuai Piagam Jakarta.[61] Jelas sikap-sikap para pimpinan itu menunjukkan respons yang sangat buruk dan tercela dari orang-orang yang dianggap sebagai pimpinan umat. Hal itu juga menunjukkan kegagalan mereka dalam memahami hakikat Syariat Islam dan metode penerapannya dalam kehidupan. Sangat menyedihkan, umat Islam dipimpin oleh orang-orang yang lebih berpihak pada sekularisme daripada Islam. Adakah musibah yang lebih buruk lagi daripada musibah ini ?

2.5. Malapetaka Pendidikan

Pendidikan bukan sekedar media transfer ilmu pengetahuan, namun juga merupakan alat pembentuk kepribadian, yakni alat pembentuk pola pemikiran dan perasaan, serta pola berperilaku manusia. Maka dari itu, barangsiapa menguasai sistem pendidikan, dia akan dapat mencetak generasi-generasi baru dengan format kepribadian yang dikehendakinya.

Jika demikian halnya, maka penerapan sistem pendidikan bercorak sekularistik pasca hancurnya Khilafah, adalah sebuah malapetaka yang besar.

Malapetaka yang menonjol adalah :

(1) adanya kurikulum dan sistem pendidikan yang mengacu kepada falsafah hidup Barat, yaitu sekularisme, dan
(2) lahirnya generasi-generasi sekularistik hasil sistem pendidikan tersebut.

Pertama, Kurikulum dan sistem pendidikan diformat mengikuti peradaban sekularisme Barat.
Setelah Khilafah hancur, sebagian besar negeri-negeri Islam merancang kurikulum pendidikannya sesuai model pendidikan kaum imperialis, yakni berasaskan ide sekularisme.[62]
Sistem pendidikan tersebut terbukti telah mengajarkan pemikiran-pemikiran tidak Islami pada satu sisi, dan pada sisi lain, mengajarkan Islam yang telah terdistorsi jauh sekali dari hakikat Islam yang sebenarnya. Pemikiran yang tak Islami itu misalnya adalah paham sekularisme, nasionalisme, dan demokrasi. Selain itu, pemikiran yang tidak Islami juga nampak dari adanya pensakralan ilmu-ilmu sosial –yang diambil dari negara-negara imperialis-kapitalis— seperti ilmu ekonomi, sosiologi, pendidikan, dan psikologi, yang dianggap sebagai pengetahuan yang netral-universal. Padahal ilmu-ilmu itu sesungguhnya sangat sarat-nilai (value-bond) –yakni nilai-nilai kehidupan Barat yang sekularistik—dan bukan jenis pengetahuan yang dapat digeneralisir seperti halnya ilmu-ilmu kealaman (sains).[63]

Sedang distorsi Islam nampak dengan adanya indoktrinasi di segala tingkat pendidikan bahwa Islam bukanlah agama yang mengatur kehidupan bernegara. Islam hanya mengatur ibadah dan moral. Kalaupun diajarkan Fiqih Siyasah, isinya hanyalah aspek teoritis belaka, dan sudah ditundukkan pada agenda besar sistem pendidikan, yaitu sekularisme.[64]

Kedua, lahir generasi-generasi yang berkepribadian sekularistik.

Akibat berikutnya dari kurikulum dan sistem pendidikan sekularistik seperti telah disinggung di atas, lahirlah generasi-generasi Islam yang rusak kepribadiannya. Walaupun mereka muslim, namun pola pikir dan pola sikap mereka tidak lagi menggunakan standar Islam, tetapi standar ide sekularisme.

Tidak sedikit dari para intelektual –yang ucapannya sudah dianggap ‘wahyu’ oleh para pengagumnya yang fanatik-buta— yang bicara mengatasnamakan Islam, padahal ide-idenya adalah ide sekuler yang diberi bungkus dan label Islam. Ibaratnya, mereka menjual daging babi yang diberi label daging sapi. Abdurrahman Wahid, misalnya, pernah menyatakan bahwa negara Islam itu tidak wajib. Selain itu, menurutnya, mereka yang menghendaki negara Islam hanyalah orang-orang yang gagal memahami hakikat ajaran Islam. Dengan mulutnya Gus Dur berkata, ”Saya sendiri dalam menjalankan pemerintahan juga berpegang pada keputusan para ulama, yaitu kita tidak wajib mendirikan negara Islam, melainkan wajib menegakkan keimanan Islam dan akhlak Islam di dalam diri orang-orang yang percaya. Dengan kata lain, tidak ada kewajiban mendirikan negara Islam. Kalau ini tidak diterima orang, bagi saya orang itu belum paham.” [65] Nurcholis Madjid, misalnya, dalam bukunya Tidak Ada Negara Islam mengatakan bahwa dalam Al Qur`an tidak ada perintah mendirikan Daulah Islamiyah karena tidak ada kata daulah (negara). Yang ada adalah kata duulah (peredaran/pergiliran) dalam surat al Hasyr : 7. Kalau logika ini diterapkan juga secara fair untuk Nurcholish Madjid, maka sungguh aneh bin ajaib, Nurcholis Madjid telah menerima ide republik dan demokrasi, meskipun kata ad dimuqratiyah (demokrasi) dan al jumhuriyah (republik) tidak pernah ada dalam Al Qur`an !

Itulah malapetaka memilukan yang menimpa umat di bidang pendidikan. Akibat hancurnya Khilafah, lahirlah sistem pendidikan sekularistik yang pada gilirannya melahirkan generasi-generasi yang pola pikirnya mengikuti kaum penjajah yang kafir. Sungguh mengenaskan !

2.6.Malapetaka Pemikiran

Memang, sebelum runtuhnya Khilafah pemikiran-pemikiran asing sudah mulai menyusup ke tubuh umat akibat ulah negara-negara Barat yang telah melancarkan Perang Pemikiran (Al Ghazw Al Fikri) dan Perang Budaya (Al Ghazw Ats Tsaqafi). Namun setelah runtuhnya Khilafah, serangan pemikiran-pemikiran asing itu semakin menggila. Serangan itu ibarat air bah yang melanda dan menenggelamkan kampung-kampung karena bendungan penahannya telah jebol. Penerapan sistem pendidikan sekularistik, seperti disinggung sebelumnya, turut memperparah malapetaka pemikiran ini.

Malapetaka pemikiran ini antara lain :

(1) Adanya distorsi gambaran Khilafah oleh kaum kafir dan antek-anteknya,

(2) Muncul pemikiran-pemikiran yang menyerang Islam, seperti dialog antar agama, teologi inklusif, dialog Islam-Barat,

(3) Ulama-ulama mengada-adakan “fiqih baru”, seperti fiqhul waqi’, fiqhul muwazanat, fiqhul maslahat, dan sebagainya.

Pertama, adanya distorsi gambaran Khilafah oleh kaum kafir dan antek-anteknya.
Ketika Khilafah dihapuskan oleh Mustafa Kamal pada tahun 1924, seharusnya para ulama melakukan pembelaan dan perjuangan mengembalikan Khilafah. Namun kewajiban ini tampaknya tak berlaku bagi Syaikh Ali Abdur Raziq, penulis kitab Al Islam wa Ushul Al Hukm. Buku yang dipublikasikan di Kairo tahun 1925 itu (satu tahun setelah kehancuran Khilafah) malah menentang Khilafah dan mendorong umat Islam untuk mengadopsi sekularisme yang kufur. Menurut Ali Abdur Raziq, umat Islam seharusnya mengambil sistem politik Eropa, yaitu republik, bukan Khilafah. Agama Islam yang hakiki, menurutnya, tak ada hubungannya dengan Khilafah, sebab Khilafah telah melahirkan berbagai bencana, kejahatan, dan malapetaka bagi umat manusia.[66]

Pola pikir Kristen yang ditawarkan buku itu sungguh merupakan malapetaka besar bagi umat Islam. Sayang, hancurnya Khilafah menjadi faktor utama yang justru menaikkan popularitas buku itu dan pemikiran-pemikiran beracun di dalamnya. Buku itu lalu mengilhami lahirnya banyak buku lainnya yang mengingkari wajibnya Khilafah.[67]

Selain itu, ada pula sebagian intelektual (muslim!) yang mengungkapkan kelemahan-kelemahan Khilafah pada masa Utsmaniyah, bukan untuk mengkritisinya seraya mempertahankan hukum wajibnya Khilafah, namun untuk membenarkan tindakan Mustafa Kamal yang menghapuskan Khilafah.[68] Pola pikir semacam ini jelas tidak fair. Jika kelemahan seorang Khalifah dijadikan alasan untuk menghapus sistem Khilafah, mengapa para intelektual itu (sic !) tak pernah menyerukan penghapusan sistem republik ketika melihat penyimpangan kekuasaan zaman Suharto?

Kedua, Muncul pemikiran-pemikiran yang menyerang Islam, seperti isu fundamentalisme, teologi inklusif, dialog antar agama, pluralisme, dialog Islam-Barat, dan sebagainya.

Serangan pemikiran tersebut sekilas nampaknya bukan rekayasa negara-negara imperialis. Yang melontarkannya biasanya tokoh-tokoh yang dianggap intelektual atau pemikir muslim. Namun jika ditelusuri lebih jauh, akan tersingkaplah bahwa semua serangan itu adalah rekayasa negara-negara imperialis. Para intelektual itu hanyalah corong atau penyambung lidah kaum kafir.

Stigma fundamentalisme yang ditujukan kepada para aktivis Islam, misalnya, sebenarnya merupakan rekayasa dan kebijakan Amerika Serikat.

Ini bisa dibuktikan misalnya, dari pernyataan mantan Presiden AS Richaed Nixon ketika dia mendeskripsikan lima ciri kaum “fundamentalis Islam”, yaitu :

(1) mereka digerakkan kebencian yang besar kepada Barat,
(2) mereka bersikeras untuk mengembalikan peradaban Islam yang lalu dengan membangkitkan masa lalu itu,
(3) mereka yang bertujuan untuk mengaplikasikan Syariat Islam,
(4) mereka yang mempropagandakan bahwa Islam adalah agama dan negara, dan
(5) mereka yang menjadikan masa lalu sebagai penuntun masa depan.[69]

Begitu pula ide teologi inklusif/pluralis yang menganggap semua agama itu benar dan tak boleh ada pemeluk agama yang menganggap agamanya sendiri yang benar (truth claim). Ide yang sering dilontarkan kaum modernis ini memang bukan dari Islam, tetapi berasal dari kaum Kristen, yakni dari keputusan Konsili Vatikan II tahun 1963-1965 yang merevisi prinsip extra ecclesium mulla salus (hanya agama Kristen saja yang benar/selamat). Konsili itu lalu menetapkan teologi baru bahwa keselamatan tidak lagi menjadi monopoli umat Kristiani. Gereja Kristen mengakui adanya keselamatan di luar Kristen.
Konsili Vatikan itulah kiranya yang mengilhami pemikiran sebagian tokoh –seperti Nurcholish Madjid— yang kemudian menafsirkan Islam dalam arti “berserah diri atau pasrah kepada Tuhan”. Jadi siapa pun yang berserah diri dan patuh kepada Tuhan, dia muslim, meskipun agamanya Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan sebagainya. Jadi semuanya sama, semuanya muslim, semuanya selamat.[70]

Inilah malapetaka pemikiran yang sangat berat yang menimpa umat Islam saat ini. Hendaknya umat Islam berhati-hati, karena demi Allah, ide-ide semacam ini dapat memurtadkan seorang muslim dari Islam !

Ketiga, Ulama-ulama mengada-adakan “fiqih baru”, seperti fiqhul waqi’, fiqhul muwazanat, fiqhul maslahat, dan sebagainya.

Sesungguhnya sudah jelas bagi para ulama bahwa kenyataan (al waqi’) bukanlah sumber hukum Islam. Sumber hukum Islam hanyalah wahyu (Al Qur`an dan As Sunnah) atau apa yang ditunjukkan wahyu sebagai sumber hukum, seperti Ijma’ Shahabat dan Qiyas.

Namun seiring dengan merajalelanya penerapan hukum Barat –pasca hancurnya Khilafah— yang bercorak positivistik (menjadikan fakta empiris sebagai sumber pemikiran)[71], banyak ulama yang terpengaruh dengan pola pikir Barat ini. Kenyataan masyarakat kemudian menjadi bahan pertimbangan untuk memutuskan status hukum. Kenyataan bukan ditempatkan sebagai objek yang akan menjadi sasaran penerapan hukum (manath al hukm), melainkan sebagai subjek yang mendasari status hukum, yang sama tingkatnya dengan dalil syar’i. Maka lahirlah apa yang disebut fiqhul waqi’, fiqhul muwazanat, dan fiqhul maslahat.

Hukuman mati bagi orang murtad, misalnya, dianggap tidak manusiawi pada masa sekarang. Maka orang murtad hendaknya dibiarkan saja, karena sesuai dengan prinsip kebebasan beragama yang bercorak modern dan maju. Hukum waris yang menetapkan perbandingan 2 : 1 (dua bagian pria sama dengan satu bagian wanita), dirasakan tidak sesuai lagi dengan rasa keadilan dan kemaslahatan zaman sekarang. Maka ia harus diubah menjadi 1 : 1 (bagian pria dan wanita sama). Hukuman rajam atau potong tangan dianggap tidak cocok untuk masyarakat modern yang kapitalistik dan humanis, dan hanya cocok untuk masyarakat agraris dan biadab pada masa Nabi SAW. Jadi hukuman itu bisa diganti dengan penjara. Hukum larangan menjadi pemimpin negara bagi wanita, cocok untuk masa Nabi yang sistem kekuasaannya cenderung absolut. Kalau sekarang, dengan kekuasaan yang demokratis dan prinsip pembagian kekuasaan Trias Politica, berarti wanita boleh menjadi pemimpin negara. Hukum bunga bank sebenarnya haram, karena termasuk riba. Tapi karena darurat dan maslahat, hukumnya menjadi boleh, minimal syubhat. Demikianlah seterusnya.

Sungguh, pendapat-pendapat tersebut tak dapat dikategorikan sebagai hasil ijtihad yang sahih. Jadi kualitasnya rendah sekali. Di samping itu, pendapat-pendapat itu merupakan bukti kekalahan ideologis yang sangat nyata. Sayang sekali, para intelektual dan ulama yang seharusnya membongkar kepalsuan metode berpikir penjajah, ternyata malah larut dan menggunakan metode berpikir mereka.

2.7. Malapetaka Dakwah

Dakwah untuk menyerukan Islam adalah suatu perbuatan yang mulia. Apalagi dakwah untuk mengamalkan Islam secara total dalam wadah negara dan masyarakat Islam. Namun hancurnya Khilafah telah menimbulkan malapetaka untuk kegiatan dakwah ini.

Malapetaka yang menonjol di antaranya :

(1) Dakwah kepada Islam menjadi lebih berat dan sukar karena penerapan Islam dalam kehidupan bernegara tidak ada lagi, dan

(2) Para pejuang dakwah yang hendak mengembalikan Khilafah dicap sebagai penjahat atau teroris.

Pertama, Dakwah kepada Islam menjadi lebih sulit karena penerapan Islam secara praktis dalam kehidupan bernegara tidak ada lagi.

Termasuk fitrah pada manusia, yakni ia akan lebih mempercayai fakta-fakta konkret yang dapat diindera daripada hal-hal ghaib atau pemikiran semata. Karena itulah, pada awal dakwah Rasulullah di Makkah, yang beriman kepada Islam hanya sekitar 300 orang. Namun setelah Islam termanifestasi dalam Daulah Islamiyah di Madinah dan manusia dapat melihat penerapan Islam secara nyata, masuklah mereka ke dalam Islam secara berbondong-bondong. Bangsa-bangsa Persia, Turki, Kurdi, Barbar, dan Afghanistan tercatat dalam sejarah sebagai bangsa-bangsa yang masuk Islam ketika negara Khilafah eksis. Andaikata negara Khilafah tak ada, niscaya mereka tak akan masuk Islam dan Islam tak akan tersebar luas seperti sekarang. [72]

Ketika Khilafah hancur pada tahun 1924, maka salah satu malapetakanya adalah malapetaka dakwah ini, yakni orang menjadi sulit mempercayai dakwah yang menunjukkan keunggulan masyarakat Islam, karena faktanya memang tidak ada. Maka dari itu, tak sedikit muslim yang menyatakan bahwa Khilafah itu hanyalah suatu utopia belaka. Orang pun mungkin mengakui bahwa pemikiran Islam tentang negara atau masyarakat memang bagus, tapi dia akan segera bertanya, “Lalu faktanya mana ?”

Hal ini tentu berbeda ketika ada seruan dan ajakan untuk mengambil kapitalisme, demokrasi, HAM, dan ide-ide Barat lainnya. Manusia akan cepat menerima seruan tersebut –walaupun itu seruan batil dan palsu– sebab ada negara-negara yang menerapkan ide-ide tersebut dalam realitas empirik, seperti Amerika Serikat, Inggris, Perancis, dan sebagainya.

Namun demikian, malapetaka dakwah ini tentu tidak boleh secara syar’i menghentikan perjuangan mengembalikan Khilafah, betapa pun beratnya perjuangan itu. Dakwah untuk mendirikan Khilafah dan melanjutkan kehidupan Islam wajib terus berlangsung, baik ketika Khilafah ada maupun tidak ada. Sebab Rasulullah SAW tetap terus berdakwah dan berjuang menyerukan Islam, sekali pun pada saat itu masyarakat Islam belum terwujud. Beliaulah suri teladan kita.[73]

Allah SWT berfirman :

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS Al Ahzab : 21)

Kedua, Para pejuang yang menyerukan kembalinya Khilafah dicap sebagai penjahat atau teroris.

Eksistensi Khilafah sebenarnya wajib menurut Islam. Tak ada yang berbeda pendapat dalam masalah ini kecuali orang sekuler dan orang sesat.[74] Maka dari itu, para pengemban dakwah yang menyerukan Khilafah sebenarnya menyerukan sesuatu yang wajib, seperti halnya kewajiban lainnya semisal shalat, zakat, puasa, haji, dan sebagainya.

Namun ternyata masalahnya menjadi lain ketika Khilafah roboh pada tahun 1924. Setelah itu, para penguasa negeri-negeri Islam mengadopsi sekularisme sehingga pejuang yang berupaya mendirikan negara Islam (Khilafah) akan dianggap melakukan pemberontakan yang pantas diganjar dengan hukum berat. S.M. Kartosuwiryo, misalnya, yang memimpin gerakan Darul Islam, dieksekusi mati pada bulan September 1962 setelah bergerilya 13 tahun lamanya.[75]

Penumpasan upaya mendirikan Khilafah, seperti telah disinggung sebelumnya, juga terjadi negeri-negeri Islam lainnya seperti di Aljazair awal 90-an dan di Uzbekisten tahun 1999.

Perkembangan mutakhir pada akhir 2001 dan awal 2002 juga menampakkan gejala senada. Siapa saja yang menginginkan kembalinya Khilafah, atau menyerukan penerapan Syariah Islam, akan dianggap teroris sehingga layak ditangkap dan diadili. Pemerintah Malaysia telah menangkap para aktivis Islam yang menghendaki pendirian negara Islam di Malaysia. Pemerintah Yaman menangkap 21 aktivis asal Indonesia yang dianggap berbahaya lantaran mempelajari Islam aliran “keras”. Pemerintah Filipina menangkap Fathurrahman Al Ghazi dengan tuduhan akan meledakkan kantor-kantor strategis milik AS. Pemerintah Indonesia “menanyai” Ustadz Abu Bakar Ba’asyir yang dianggap sebagai anggota Al Qaida.[76]

Betapa malangnya nasib umat Islam ! Orang-orang yang baik telah dianggap jahat sementara yang jahat dianggap malaikat. Lawan dianggap kawan dan sebaliknya kawan dianggap lawan. Sungguh, sulit sekali dibayangkan para aktivis dan pejuang Islam akan dianggap penjahat kalau saja Khilafah masih ada. Namun ketika Khilafah hancur dan sekularisme dijadikan standar berpikir, malapetaka yang berat menimpa umat Islam. Para pejuang Islam harus menerima nasib pahit karena dianggap musuh[77] dan dikategorikan sebagai teroris atau penjahat.

2.8.Malapetaka Sosial Budaya

Setelah Khilafah hancur, negeri-negeri Islam beramai-ramai menerapkan sekularisme. Kebebasan (freedom/liberalism) yang merupakan ide cabang dan konsekuensi logis dari sekularisme, menjadi sesuatu yang tak terelakkan lagi. Berbagai sarana dan media digunakan untuk mengekspresikan kebebasan itu. Hal ini pada gilirannya telah merusak moral generasi muda sehingga mereka terjerumus ke dalam berbagai perilaku tatasusila.

Malapetaka sosial ini setidaknya terlihat dari : (1) Merajalelanya sarana-sarana kebebasan untuk merusak moral, dan (2) Lahir generasi bejat moral sebagai akibat sarana-sarana kebebasan gaya Barat tersebut.

Pertama, Merajalelanya sarana-sarana kebebasan untuk merusak moral.

Berbagai sarana dan media yang mengusung kebebasan ini antara lain iklan-iklan dan acara tertentu di televisi, film-film porno, tabloid-tabloid porno, VCD porno, internet, dan sebagainya. Semua sarana ini disahkan oleh penguasa sekuler saat ini.

Iklan di televisi, misalnya, kini tak malu-malu menganjurkan seks bebas. “Untuk menghindari penularan virus HIV/AIDS, gunakan kondom!” kata iklan. Jadi televisi berusaha memberi kenyamanan kepada para pelaku seks bebas. Berbagai film, sinetron, dan telenovela di televisi juga tak lepas dari misi menghancurkan moral masyarakat. Hampir semuanya menayangkan perilaku perselingkuhan dan tradisi zina, misalnya adegan ciuman sampai persetubuhan. Demikian pula film kartun Crayon Sin-Chan yang ‘membimbing’ anak-anak ke jalan sesat untuk bertingkah laku cabul dan amoral.

Kebebasan juga memunculkan puluhan majalah, koran, dan tabloid cabul yang begitu mudah dijumpai di pinggir-pinggir jalan. Sebut saja Popular, Kosmopolitan, Liberty, Amor, Top, Pop, Neo, Map, Mona, atau Tragis. Ada pula yang namanya mengerikan, seperti Hot, Wow, Lipstick, Desah, Asmara, De Suga, Kiss, Jeritan Hati, dan banyak lagi. Kerap pula kita jumpai kumpulan anak-anak remaja di rental dan tempat penjualan video compact disk (VCD). Yang menyedihkan, VCD pornolah yang banyak diminati kalangan muda dan remaja. Teknologi internet juga banyak dimanfaatkan untuk mengakses kemaksiatan.[78]

Kedua, Lahir generasi bejat moral sebagai akibat kebebasan gaya Barat.

Dengan adanya berbagai sarana seperti telah disebut di atas, yang didukung sepenuhnya oleh pemerintahan sekuler sekarang tanpa rasa berdosa, tidak mengherankan kalau kemudian muncul generasi yang bermoral bejat dan berperilaku amoral.

Kasus HIV/AIDS di Indonesia, misalnya, menjadi semakin dahsyat. RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta, saat ini didatangi 4-10 penderita HIV/AIDS tiap minggunya. Data bulanan Ditjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan menyebutkan, selama April 2001 terjadi penambahan 2 kasus HIV dan 5 kasus AIDS. Itu yang diketahui. Sementara para ahli sering menyatakan bahwa data tentang HIV/AIDS ini bagaikan gunung es, yang tampak di permukaan sedikit tapi yang terpendam di bawah permukaan sangat banyak.

Akibat budaya zina pula, aborsi menjadi kebiasaan remaja-remaja putri. Sebuah penelitian tentang aborsi menunjukkan, 2,5 juta aborsi terjadi per tahun dan 1,5 juta di antaranya dilakukan oleh kalangan remaja.[79]

Selain itu, banyak penelitian yang menunjukkan betapa dahsyat perilaku zina di tengah masyarakat yang konon religius ini. Salah satu penelitan dilakukan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) ‘Plan’ dan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) awal tahun 2000, untuk mengetahui perilaku seks remaja di Kota Bogor (Jabar). Hasilnya luar biasa. Dari 400-an responden, 98,6% remaja berusia 10-18 tahun sudah mengenal pacaran, di antaranya 50,7% melakukan cumbuan ringan, 25% melakukan cumbuan berat, 6,5% telah melakukan hubungan seks. Sebanyak 28 responden (lelaki dan perempuan) telah melakukan hubungan seks bebas, 6 orang dengan penjaja seks, 5 orang dengan teman, 17 orang dengan pacar.[80]

Demikianlah sekilas data mengenai kualitas generasi yang dihasilkan oleh sebuah rejim sekuler yang menuhankan kebebasan. Dan tentunya kita paham, bahwa rejim yang bejat ini dimungkinkan eksis di muka bumi karena mereka telah berkiblat sepenuhnya kepada Barat, setelah kiblat umat yang sebenarnya, yakni negara Khilafah, hancur pada tahun 1924.

3. Penutup
Demikianlah uraian singkat tentang beberapa malapetaka yang muncul akibat hancurnya Khilafah. Kiranya yang disebutkan hanyalah contoh, yang sebenarnya hanya secuil saja dari jutaan malapetaka yang terjadi. Namun contoh sedikit ini sesungguhnya lebih dari cukup untuk menyadarkan kita akan besarnya malapetaka yang menimpa umat ini. Ia sudah cukup menyadarkan kita, betapa dosarnya dosa kita di hadapan Allah SWT bila kita hidup tanpa Khilafah.

Benarlah sabda Rasulullah SAW :
“…dan barangsiapa mati sedangkan di lehernya tidak ada baiat (kepada Khalifah) maka dia mati dalam keadaan mati jahiliyah.” (HR. Muslim)Maka tak ada pilihan lain bagi kita, kecuali harus terus berjuang dengan istiqamah untuk mengembalikan Khilafah di muka bumi. Kita harus terus berjuang, betapa pun beratnya upaya itu, betapa pun banyaknya waktu yang diperlukan, dan betapa pun besarnya pengorbanan yang harus dikeluarkan. Tak ada waktu lagi untuk menimbang-nimbang, sebab pilihannya telah jelas : kehinaan di dunia dan akhirat akibat diinjak-injak sistem kufur seperti sekarang ini, ataukah berjuang demi kemuliaan dan kemenangan di bawah naungan Khilafah, walau pun untuk itu darah harus tertumpah !

Ya Allah, kami sudah menyampaikan. Saksikanlah !

DAFTAR PUSTAKA

Al Aqabi, Abdurrahman. 1998. “Madza Khasira Al Muslimun bi Ghiyab Al Khilafah”. Majalah Al Wa’ie. No. 134. Rabi’ul Awal 1419 H / Juli 1998 M. Hal. 26-28.

An Nabhani, Taqiyuddin. 1969. Mafahim Siyasiyah li Hizbit Tahrir. Cetakan Ketiga. Tanpa Tempat Penerbit : Min Mansyurat Hizb Al Tahrir.

———-. 1973. Nazharat Siyasiyah li Hizbit Tahrir. Cetakan Pertama. Tanpa Tempat Penerbit : Min Mansyurat Hizb Al Tahrir.

———-. 1994. Ad Daulah Al Islamiyah. Cetakan Kelima. Beirut : Darul Ummah.

Ar Ra`is, Dhiyauddin. 2001. Teori Politik Islam (An Nazhariyat As Siyasiyah Al Islamiyah). Terjemahan oleh Abdul Hayyie Al Kattani dkk. Cetakan Pertama. Jakarta : Gema Insani Press.

Asy Sya’rawi, ‘Ayid. 1992. At Talwits Al Fikri wa Al I’lami fi Al ‘Alam Al Islami. Cetakan Kedua. Beirut : Darun Nahdhah Al Islamiyah.

At Tamimi, Asy Syaikh As’ad Bayudh. 1994. Impian Yahudi dan Kehancurannya Menurut Al Qur`an (Zawalu Isra`il Hatmiyah Qur`aniyah). Terjemahan oleh Salim Basyarahil. Cetakan Kelima. Jakarta : Gema Insani Press.

Belhaj, Ali. 1994. Tanbihul Ghafilin wa I’lamul Ha`irin bi Anna Al Khilafah min A’zhami Wajibati Hadza Ad Din. Cetakan Pertama. Beirut : Darul ‘Uqaab.

———-. 1994. Fashlul Kalam fi Muwajahah Zhulmi Al Hukkam. Cetakan Pertama. Beirut : Darul ‘Uqaab.

———-. 1994. Ad Damghah Al Qawwiyyah li Nasfi ‘Aqidah Ad Dimuqrathiyah. Cetakan Pertama. Beirut : Darul ‘Uqaab.

Husaini, Adian. 2001. Jihad Osama Versus Amerika. Cetakan Pertama. Jakarta : Gema Insani Press.

———-.2002. Penyesatan Opini : Sebuah Rekayasa Mengubah Citra. Cetakan Pertama. Jakarta : Gema Insani Press.

Jameelah, Maryam. 1965/1988. Islam and Modernism. Lahore : Mohammad Yusuf Khan & Sons.

Jarisyah, M. A. & M.S. Az Zaibaq. 1992. Taktik Strategi Musuh-Musuh Islam (Asalib Al Ghazw Al Fikri li Al ‘Alam Al Islami). Terjemahan oleh As’ad Yasin.Cetakan Pertama. Solo : CV. Pustaka Mantiq.

Khayr, Muhammad. 1998. “Wahdatul Muslimin fi Asy Syari’ah Al Islamiyah.” Majalah Al Wa’ie. No. 134. Rabi’ul Awal 1419 H / Juli 1998 M. Hal. 6-13.

Ridwan. M.A.M. 1997. Negara (Khilafah) Yang Islami (Ath Thariqu li ‘Audati Al Khilafah Ar Rasyidah wa Ba’tsu Ummah Al Islami Al ‘Uzhma). Terjemahan oleh S. Pranowo. Cetakan Pertama. Jakarta : Misykat Komunikasi.

Shodiq, Abdulloh. 1994. Sekularisme Soekarno dan Mustafa Kemal. Cetakan Kedua. Pasuruan : PT. Garoeda Buana Indah.

‘Umayrah, ‘Isham. 2000. “Hadmu Daulah Al Khilafah Ummul Jara`im.” Majalah Al Wa’ie. No. 158. Rabi’ul Awal 1421 H / Juni 2000 M. Hal. 27-32.

———-. 2000. “Ahammiyah Al Isytighal bi As Siyasah Muhadharah fi Dzikra Jarimah Ilgha` Al Khilafah.” Majalah Al Wa’ie. No. 159. Rabi’ul Akhir 1421 H / Tamuz 2000 M. Hal. 8-13.
Zallum, Abdul Qadim. 1990. Kayfa Hudimat Al Khilafah. Cetakan Ketiga. Beirut : Darul Ummah.

———-. 1994. Afkar Siyasiyah. Cetakan Pertama. Beirut : Darul Ummah.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.